Indonesia Siap Memperkuat Peran di Pasar Halal Global
Gambar atau konten salah?
Ekonomi halal global terus tumbuh, seiring meningkatnya permintaan di berbagai wilayah. Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar, melainkan juga sebagai bagian penting rantai pasok dan perdagangan internasional.
Belakangan ini, Indonesia dikenal sebagai konsumen produk halal terbesar di dunia. Namun, peluang untuk memperluas peran menjadi produsen dan eksportir masih terbuka lebar.
Data Islamic Centre for Development of Trade (ICDT), lembaga di bawah Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), menunjukkan bahwa pasokan produk halal ke negara-negara muslim masih banyak berasal dari negara non-muslim seperti Brasil dan India. Hasil ini menandakan ruang luas untuk memperkuat konektivitas perdagangan antarnegara.
Abdullah Saleh Kamel, Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD), sebelumnya menyebut dunia Islam memiliki fondasi ekonomi yang kuat, didukung populasi besar dan tingkat konsumsi tinggi, serta peluang kerja sama lintas negara.
Di dalam negeri, pemerintah menargetkan kebijakan wajib halal berlaku pada 01 April 2026. Langkah ini bertujuan menjaga standar produk sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar.
Perluasan akses ke pasar global didorong melalui berbagai inisiatif, salah satunya lewat platform B57+ Asia-Pacific yang diluncurkan pada 01 Februari 2026 di Indonesia. Platform ini dimaksudkan untuk memperkuat konektivitas perdagangan dan investasi lintas negara.
Chairman B57+ Asia Pacific, Arsjad Rasjid, menilai Indonesia memiliki modal untuk meningkatkan peran di pasar global. “Indonesia memiliki pasar, kapasitas produksi dan basis pelaku usaha yang kuat. Dengan konektivitas yang semakin terbangun, peluang untuk memperluas kehadiran di pasar global akan semakin terbuka,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya pada 01 April 2023. Menurutnya, penguatan konektivitas dapat mempercepat realisasi potensi di pasar internasional.
Dengan langkah tersebut, Indonesia diarahkan untuk memperluas peran, tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai produsen dan eksportir dalam ekonomi halal global.
Indonesia kini berada pada posisi strategis: konsumen terbesar, potensi produksi tinggi, dan inisiatif konektivitas yang kuat. Kombinasi ini memberi peluang bagi negara untuk menambah kontribusi signifikan di panggung halal internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
