Indonesia Siapkan Fasilitas Tanah Jarang Bangka Belitung

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Indonesia Siapkan Fasilitas Tanah Jarang Bangka Belitung

Gambar atau konten salah?

JakartaIndonesia akan memiliki fasilitas riset dan industri logam tanah jarang (rare earth element/REE) di Bangka Belitung. Pembangunan fasilitas ini dijadwalkan dimulai pada 20 Mei 2026.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa fasilitas ini akan dibangun oleh PT Timah (Persero) Tbk (TINS) bersama BUMN baru bernama Danantara, yakni Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Saat ini, persiapan proyek terus dipercepat agar tanggal groundbreaking dapat tercapai sesuai target pada pekan depan.

“Iya, jadi itu masih dikebut terus ya, nanti Perminas bersama dengan PT Timah tentunya akan, saat ini sedang kita lakukan persiapan terus-menerus ya. Kita kejar, di tanggal 20, minggu depan,” ujarnya saat ditemui di acara Metconnex, Jakarta, Selasa 12 Mei 2026.

Brian menambahkan, jika rencana groundbreaking tersebut tertunda dari target tanggal 20 Mei, ia memastikan pembangunan fasilitas tetap akan dimulai pada tahun ini. “Tapi memang tahun ini pasti akan mulai dibangun,” ujarnya.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, dalam RDP dengan Komisi XII DPR pada Senin 13 April 2026, menyatakan bahwa groundbreaking akan dilaksanakan oleh Presiden Prabowo Subianto. Restu menegaskan bahwa proyek fasilitas ini bekerja sama dengan Perminas.

“PT Timah mendapat tugas untuk sebagai supplier untuk bahan-bahan REE atau SHP-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas yang nanti selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk ikutannya,” jelas Restu.

Secara kasar, ia mengatakan kerja sama dengan Perminas dalam proyek ini ditargetkan dalam dua tahun ke depan sudah dimonetisasi. “Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk yang bisa mendapatkan devisa untuk negara,” tambahnya.

Restu menekankan bahwa program ini baru dimulai sekitar satu setengah hingga dua bulan yang lalu, sehingga masih dalam kajian oleh PT Timah dan Perminas. Ia belum dapat melaporkan detail lebih lanjut karena fase awal proyek masih berlangsung.

Fasilitas ini akan memanfaatkan sisa hasil produksi timah (SHP) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. SHP akan diolah menjadi produk bernilai tambah oleh Perminas, yang kemudian akan dihasilkan menjadi komoditas yang dapat menambah devisa negara.

Dengan kolaborasi antara PT Timah, Perminas, dan Danantara, Indonesia berupaya memanfaatkan sumber daya logam tanah jarang secara domestik. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat posisi industri logam tanah jarang di pasar global dan menambah cadangan devisa negara.

logam tanah jarangfasilitas risetPT TimahPerminasDanantaraSisa Hasil Produksi TimahdevisaGroundbreaking

Komentar

Memuat komentar...