Indonesia Tunggu Izin Selat Hormuz, Pertamina Terhambat
Gambar atau konten salah?
Selat Hormuz menjadi titik penting bagi perdagangan minyak global, khususnya jalur utama dari Timur Tengah. Sejak menutup jalur tersebut sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel, kapal-kapal tanker tidak dapat lewat. Dampaknya langsung dirasakan oleh PT Pertamina, yang memiliki kapal tanker Pertamina Pride dan Gamsunoro, serta kapal tanker dari negara lain.
Berbeda dengan Indonesia, Malaysia sudah mendapat izin dari Iran untuk melewati selat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Iran membuka pintu bagi negara-negara yang dianggapnya bersahabat, sementara Indonesia masih menunggu keputusan.
Di kantor Kementerian Kordinator Perekonomian, Jakarta, Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menyatakan, “Ya kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz.”
Ia juga mengingatkan bahwa proses negosiasi memerlukan waktu. Pada 17 Maret 2025, ia berkata, “Masih negosiasi sekarang. Kan ini kan antrean panjang. Lagi dalam negosiasi, ya. Kasih kami waktu ya. Masih negosiasi, masih negosiasi.”
Negosiasi ini berlangsung di tengah Iran yang mulai membuka komunikasi dengan beberapa negara yang kapal pelayannya tertahan. Bahlil menambahkan, “Alhamdulillah kita sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup-buka.”
Menurut akun media sosial X milik Konsulat Jenderal Iran di Mumbai, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan, “Kami mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz bagi negara-negara sahabat termasuk China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan.”
Di sisi lain, Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, mengumumkan bahwa kapal tanker Malaysia diizinkan melewati Selat Hormuz. Ia berterima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas keputusan tersebut.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi, Anwar berkata, “Kami sekarang sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang.”
Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti ketergantungan Indonesia pada jalur Selat Hormuz untuk pasokan minyak. Sementara negara-negara lain mulai mendapatkan izin lewat, Indonesia masih menunggu hasil negosiasi. Keputusan akhir akan memengaruhi kelancaran transportasi minyak dan stabilitas harga di pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
