Influencer Kritik Pantai Batukaras, Warga Tegaskan Keindahan

Dian P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Influencer Kritik Pantai Batukaras, Warga Tegaskan Keindahan

Gambar atau konten salah?

Pantai Batukaras di Pangandaran menjadi sorotan baru setelah seorang influencer mengkritik fasilitas penginapan dan kebersihan pantai. Pernyataan tersebut menimbulkan reaksi keras di media sosial, di mana banyak netizen menilai kata-kata influencer terlalu merendahkan.

Influencer tersebut mengeluhkan pengalaman liburannya di pantai. Ia menilai fasilitas penginapan dan area pantai kotor karena banyak sampah. Dalam komentarnya, ia menyebut penduduk Pangandaran dengan kata-kata seperti “bodoh” dan “tertinggal”, serta menggambarkan daerah tersebut sebagai kampung yang tidak bisa berkembang.

Konten kritik ini dengan cepat menyebar. Diskusi di platform media sosial menjadi luas, dengan banyak warga net mengkritik cara penyampaian kritik yang dianggap berlebihan dan tidak menghargai masyarakat lokal. Akhirnya, influencer tersebut meminta maaf kepada warga karena sudah menimbulkan kegaduhan.

Salah satu warga asli Pangandaran, Laura Hermawati, menanggapi isu ini dengan menegaskan bahwa Pantai Batukaras adalah tempat yang menawarkan ketenangan dan kedamaian. Ia menekankan bahwa destinasi ini memang bukan untuk wisatawan yang mencari suasana modern atau serba mewah.

“Batukaras is not for everyone, kalau ekspektasinya adalah destinasi mewah dan serba urban, mungkin nggak akan cocok. Tapi bagi yang mencari ketenangan, ingin slowing down, dan menikmati alam, aku yakin kamu akan jatuh cinta pada Batukaras,” kata Laura dalam wawancara pada Selasa, 31 Maret 2026.

Laura juga menggambarkan Batukaras sebagai desa nelayan kecil yang sederhana, namun memiliki daya tarik tersendiri. Menurutnya, masyarakat setempat dikenal hangat dan ramah, dengan kehidupan yang masih mengikuti ritme lokal.

“Batukaras itu desa nelayan kecil, charming, sederhana, masyarakatnya sangat hangat, dan alamnya cantik. With waves that attract surfers from around the world,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa pesona Batukaras terletak pada kesederhanaannya. Berbeda dengan kota wisata besar yang sudah banyak mengalami modernisasi, kawasan ini tetap mempertahankan nuansa alami.

Beberapa penginapan dan kawasan kuliner di Batukaras dibangun dengan konsep ramah lingkungan. Mereka menggunakan material alami seperti atap daun, sehingga tetap selaras dengan alam sekitar. Laura menyoroti bahwa pembangunan ini tidak sengaja “dipoles” seperti kota wisata besar.

Menanggapi isu kebersihan, Laura menyatakan bahwa persoalan sampah tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada warga lokal. Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan turut berkontribusi pada munculnya sampah di area pantai.

Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat setempat secara rutin mengadakan kegiatan beach clean up sebagai upaya menjaga kebersihan Pantai Batukaras dan kawasan sekitarnya. Inisiatif ini lahir dari kesadaran warga lokal sendiri.

Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Batukaras memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan, sekaligus berkomitmen menjaga keindahan alami pantai yang menjadi bagian dari kehidupan sehari‑hari mereka.

Laura menulis di akun media sosialnya: “Warga Batukaras tuh udah menjaga banget kebersihan pantai dengan melakukan beach clean up rutin, tapi setiap tamu datang selalu banyak sampah berserakan. Tolong kalian perbaiki sendiri sikap kalian yang seperti itu.”

Ia berharap ke depan, wisatawan maupun influencer yang ingin berkunjung dapat terlebih dahulu mengenali karakteristik tempat yang akan didatangi. Hal ini penting agar ekspektasi yang dibawa sesuai dengan kondisi di lapangan, sehingga pengalaman liburan lebih tepat dengan minat yang diinginkan.

Laura juga mengingatkan pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, setiap orang memang memiliki preferensi yang berbeda, namun perlu disadari bahwa setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik dapat membawa dampak, terutama bagi masyarakat yang terlibat langsung di dalamnya.

“Kalau memang ada hal yang dirasa mengganggu atau tidak memuaskan, sebaiknya disampaikan dengan cara yang baik, atau langsung kepada pihak yang bersangkutan. Dengan begitu, mereka bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya komunikasi yang sensitif dan menghargai budaya lokal. Di satu sisi, kritik dapat mendorong perbaikan. Di sisi lain, cara penyampaian yang tidak tepat dapat menimbulkan konflik dan merusak citra destinasi. Batukaras tetap menjadi contoh tempat yang menonjolkan keindahan alam dan keramahan penduduk, namun juga menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh daerah wisata kecil ketika menghadapi arus pengunjung yang terus bertambah.

Pantai BatukarasPangandaraninfluencerkebersihanbeach clean upmedia sosialwisatawanmasyarakat lokal

Komentar

Memuat komentar...