Iwan Suryawan: Atasi Ketimpangan Jabar lewat Teknologi

Lina F. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Iwan Suryawan: Atasi Ketimpangan Jabar lewat Teknologi

Gambar atau konten salah?

Bandung – Populasi Jawa Barat telah melampaui lima puluh juta jiwa. Meskipun begitu, tingkat kesejahteraan masih tersebar tidak merata. Ketimpangan ekonomi dan dinamika sosial membuat upaya meningkatkan taraf hidup belum menyentuh semua lapisan masyarakat.

Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menilai kondisi ini perlu dihadapi dengan tindakan nyata dan perubahan cara pandang. Ia menegaskan, “Kalau dilihat kesejahteraan belum semuanya, dengan penduduk 51‑53 juta jiwa pastinya tidak semua (sejahtera). Artinya PR besarnya bagaimana program Pemprov Jabar bisa mengentaskan itu dan dengan kondisi sekarang ini fluktuatif.”

Menurut Iwan, yang paling penting bukan sekadar melihat kondisi saat ini, melainkan arah dan upaya yang sudah dilakukan. Ia berkata, “Yang paling penting itu ada tidak upaya kita menuju ke sana, dan itulah yang dilakukan Pemprov Jabar dan DPRD. Di sinilah posisi bagaimana program harus kahartos karaos kabuktos (dimengerti, dirasakan, dibuktikan).”

Selain kesejahteraan, pengangguran menjadi sorotan utama. Iwan menyoroti, “Ketika bicara masalah pengangguran itu, harus mindsetnya diubah. Kalau pekerjaan diartikan harus bekerja di belakang meja, berdasi, ruang di situ semakin kecil. Di pabrik juga banyak lawannya.”

Ia menambahkan bahwa pandemi COVID‑19 membuka pintu bagi perubahan besar. “Pascacovid terjadi perubahan peradaban dimana teknologi membuka ruang. Yang pertama yang saya selalu lakukan dengan pemerintah, dinas harus melakukan pengentasan tapi perlu dilakukan edukasi soal pekerjaan itu,” ujarnya.

Perubahan mindset menjadi kunci. Iwan menegaskan, “Mindset tadi kerja harus di kantor itu pertarungannya banyak. Setelah covid kemarin ternyata kerja itu tidak harus di belakang meja, bisa tanpa ada kantor, sekarang dengan HP bisa menghadirkan cuan.”

Ia menekankan bahwa hasil akhir kerja adalah penghasilan. “Ujungnya dari kerja itu kan berapa rupiah yang didapat. Kalau kita kreatif inovatif, itu sebetulnya ruang kita untuk bisa mendapatkan penghasilan. Jadi ketika melakukan komunikasi dengan masyarakat, bagaimana berpikir jangan menunggu loker,” jelasnya.

Contoh konkret yang ia berikan adalah penggunaan ponsel. “Pakai HP untuk dagang, affiliate bisa, ibu‑ibu saja sudah jago artinya harus bisa memainkan itu. Dia bisa bekerja dengan menghasilkan apalagi anak muda yang lebih canggih jangan hanya gaya saja,” tambahnya.

Perubahan zaman menuntut adaptasi. Iwan menegaskan, “Artinya mereka bertarung untuk hidup dan bisa memanfaatkan teknologi. Jadi kewajiban saya mengedukasi masyarakat, manfaatkan apa yang ada di sekitarmu, apalagi dengan kondisi global sekarang.”

Ia menutup dengan catatan tantangan. “Tantangan kita itu besar, tapi kalau kita lihat kondisi ini harus bisa bijak menggunakan apa yang kita miliki,” pungkasnya.

Dengan populasi yang besar, upaya pemerintah dan DPRD harus berfokus pada program yang dapat dimengerti dan dirasakan masyarakat. Perubahan mindset kerja, pemanfaatan teknologi sederhana, serta edukasi tentang peluang ekonomi di luar pekerjaan formal menjadi kunci. Masyarakat di Jawa Barat diharapkan dapat mengadaptasi peluang baru, memanfaatkan perangkat sederhana seperti ponsel, dan menciptakan penghasilan melalui kreativitas dan inovasi.

ketimpangan ekonomipengangguranCOVID-19teknologi digitalkebijakan pemprovmindset kerjaedukasi masyarakatpenghasilan kreatif

Komentar

Memuat komentar...