Jembatan Bambu Sambung Sukoharjo-Solo

Lia N. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Jembatan Bambu Sambung Sukoharjo-Solo

Gambar atau konten salah?

Di perbatasan antara Sukoharjo dan Solo, warga kembali membangun jembatan darurat dari bambu. Jembatan ini menghubungkan Desa Gadingan di Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, dengan Kampung Sewu di Kecamatan Jebres, Solo. Pembangunan dilakukan karena debit air Bengawan Solo mulai surut.

Jembatan yang terbuat dari bambu ini sudah berdiri sekitar dua minggu. Dari pantauan di lokasi, kendaraan bermotor melintas dari dua arah—dari Sukoharjo menuju Solo dan sebaliknya. Warga tampak tidak ragu melintasi jembatan bambu tersebut.

Arif Sulistyo, salah satu penjaga jembatan, mengatakan pembangunan kembali dilakukan atas permintaan masyarakat sekitar. Faktor musim kemarau juga menjadi alasan. "Sudah dua minggu, ya ada permintaan dari warga juga. Setiap musim kemarau ya begini, tapi kalau nanti sungainya besar pakai perahu. Ini perbaikan perahu dulu. Sudah lama, dari dulu kalau airnya kecil pakai sesek," kata Arif saat ditemui di jembatan sesek, Mojolaban, Sukoharjo, pada Senin, 06 Juli 2026.

Jembatan ini dibangun menggunakan 30 tong sebagai penyangga. Tong-tong itu menopang bambu-bambu yang membentang sepanjang aliran Bengawan Solo. Arif memperkirakan panjang jembatan mencapai sekitar 100 meter. "Bahannya drum, tong. Itu ada 30 tong panjangnya dari sini sana ya sekitar 100 meter kelihatannya, bambu ada sekitar 50," ucapnya.

Jembatan beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Untuk malam hari, pihaknya menyiapkan penerangan. "Beroperasi dari jam 6 pagi sampai jam 7 malam. Untuk penerangan nanti ada, ini sedang dipersiapkan. Tapi ini kan sudah 2 minggu," terang Arif.

Keberadaan jembatan ini mempercepat perjalanan warga dari Mojolaban menuju Solo. Banyak yang melintas saat berangkat dan pulang kerja. "Ini kalau ke sini kerja kan dekat. Sama mau ke pasar, sama Pasar Gede itu lebih enak kalau tidak memutar. Kalau memutar ke sini sana kan 20 menit, setengah jam lah, kalau lewat sini kan paling 10 menit," jelas Arif.

Setiap pengendara yang melintas dikenakan tarif. Besarannya bervariasi, mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 3.000. "Motor Rp 2.000 kalau sepeda Rp 1.000, untuk lalu lintas kita pantau, misal dari sana (arah Solo) ada yang mau melintas dan sini (Sukoharjo) ada yang melintas pasti nanti komunikasi dulu, kalau ada yang takut menyeberang nanti diseberangkan," pungkasnya.

Galang, warga Kampung Sewu, memilih jembatan sesek karena lebih cepat. Menurutnya, perjalanan hanya butuh 5 menit. "Kalau lewat Mojo ya butuh waktu 15 menit. Ini tadi habis main, mau pulang. Tidak takut sih sudah biasa," tutupnya.

Jembatan bambu ini menjadi solusi musiman bagi warga saat musim kemarau. Ketika debit air Bengawan Solo naik, warga beralih menggunakan perahu. Tradisi membangun jembatan sesek sudah berlangsung lama, turun-temurun, sebagai cara warga mempertahankan akses lintas sungai yang cepat dan murah.

jembatan daruratbambuBengawan Solomusim kemarauakses lintas sungaiSukoharjoSolo

Komentar

Memuat komentar...