Jepara Raih 22 Ha Padi Biosalin, Produksi 176 Ton dari PGN

Dwi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 112 dibaca
Bisik.id
Jepara Raih 22 Ha Padi Biosalin, Produksi 176 Ton dari PGN

Gambar atau konten salah?

Program budidaya padi Biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara berhasil menanam 22 hektare pada musim tanam terakhir. Angka ini melampaui target awal 20 hektare, meski cuaca ekstrem masih mengintai.

Produktivitas rata‑rata di area panen tersebut tercatat antara 7–9 ton per hektare. Dengan luas 22 hektare, total produksi diperkirakan mencapai 176 ton gabah. Jika dihitung dengan harga Rp 7.000 per kilogram, nilai ekonomi hasil panen mencapai sekitar Rp 1,23 miliar.

Prof. Dr. Arif Satria, SP., MSi., Kepala BRIN, menegaskan bahwa penerapan teknologi berbasis riset penting untuk mengatasi tantangan di wilayah pesisir, khususnya peningkatan salinitas akibat intrusi air laut dan banjir rob.

Keunggulan varietas Biosalin terletak pada kapasitasnya menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Selain itu, varietas ini tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal. “Keunggulan varietas Biosalin ini adalah mampu menghasilkan kurang lebih 9 ton per hektare dan memiliki masa tanam antara 84 hingga 107 hari. Yang tidak kalah penting varietas biosalin ini memiliki kelebihan tahan terhadap hama penyakit dan mampu bertahan di lahan marginal,” jelas Arif dalam keterangannya, ditulis 26 April 2026.

Arif menilai pengembangan varietas ini tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mitigasi dan pemulihan pascabencana. “Kami mendorong agar model seperti ini dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan demikian, inovasi berbasis riset benar-benar menjadi pendorong dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkap Arif.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyebut hasil panen ini menunjukkan sektor pertanian masih bisa berjalan di tengah tekanan cuaca. “Keberhasilan panen ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian tetap bisa tumbuh dan memberikan nilai ekonomi, bahkan di tengah tekanan cuaca ekstrem,” kata Witiarso. Ia juga menyoroti pemanfaatan lahan pesisir yang sebelumnya tidak produktif.

Witiarso menambahkan rasa terima kasih kepada PGN dan BRIN atas inovasi dan pendampingan nyata melalui program budidaya padi Biosalin di Kabupaten Jepara. “Kami juga sangat berterima kasih kepada PGN dan BRIN yang telah menghadirkan inovasi dan pendampingan nyata melalui program budidaya padi biosalin di Kabupaten Jepara. Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan kondisi lahan pesisir yang tadinya merupakan lahan tidur, justru bisa mendongkrak hasil panen petani. Kolaborasi ini tidak hanya mampu menjaga produktivitas pertanian tetapi juga memberikan harapan baru bagi para petani,” ujarnya.

Ke depan, Witiarso berharap inisiatif ini dapat terus diperluas dan menjadi model penguatan ketahanan pangan daerah berbasis riset dan kemitraan strategis.

Division Head CSR PGN, Krisdyan Widagdo Adhi, menjelaskan bahwa pendampingan kepada petani dilakukan agar mereka bisa mengadopsi praktik pertanian yang lebih adaptif. “Artinya, keberhasilan hari ini menjadi fondasi agar petani dapat terus berproduksi tanpa ketergantungan pada intervensi program di masa depan,” jelas Krisdyan. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini juga berkaitan dengan upaya memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah operasional.

Krisdyan menutup dengan harapan program ini dapat terus berkembang sebagai model pemberdayaan berbasis riset dan kolaborasi, sekaligus menjadi kontribusi nyata PGN dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan pembangunan berkelanjutan.

Program ini menegaskan bahwa inovasi pertanian berbasis riset, bila didukung oleh kolaborasi pemerintah dan lembaga riset, dapat meningkatkan ketahanan pangan di wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim.

BiosalinPadiJeparaBRINPGNKetahanan PanganLahan PesisirCuaca Ekstrem

Komentar

Memuat komentar...