JIAT Rote Ndao: Air Tanah Dukung Pertanian 3T Indonesia

Ani R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
JIAT Rote Ndao: Air Tanah Dukung Pertanian 3T Indonesia

Gambar atau konten salah?

JakartaKementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memperkuat pembangunan infrastruktur sumber daya air. Langkah ini bertujuan mendukung pemerataan pembangunan dan meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). JIAT dirancang sebagai solusi penyediaan air bagi lahan pertanian tadah hujan, contohnya di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hari ini, Menteri PU Dody Hanggodo meninjau langsung salah satu lokasi penerima manfaat JIAT di Desa Lekunik, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan infrastruktur yang telah dibangun benar-benar memberikan manfaat optimal bagi petani dan mendukung peningkatan produksi pangan, khususnya di wilayah terdepan Indonesia.

“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody dalam keterangan tertulis, Sabtu (30 Mei 2026).

Di tempat itu, Dody menekankan bahwa pengembangan JIAT di Rote tidak hanya berfokus pada pembangunan sumur dan pompa air tanah. Ia juga menuntut adanya jaringan saluran tersier yang disesuaikan dengan kondisi morfologi lahan, sehingga air dapat mengalir secara lebih efektif hingga ke lahan pertanian.

Selain itu, Dody mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien untuk operasional sistem irigasi air tanah. Ia mengusulkan penggunaan panel surya pada lokasi-lokasi yang memungkinkan. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya operasional pompa sekaligus meningkatkan keberlanjutan layanan irigasi di daerah-daerah terpencil.

Air irigasi melalui sumur bor di Desa Lekunik, Kecamatan Lobalain, dibangun melalui APBN dengan nilai anggaran sebesar Rp 1,5 miliar. Infrastruktur tersebut memiliki debit air sebesar 9 liter/detik dan saat ini melayani areal pertanian seluas 10 hektare.

Keberadaan JIAT menjadi sangat penting mengingat Kecamatan Lobalain memiliki total lahan sawah sekitar 1.395 hektare. Pada musim tanam kedua, ketersediaan air dari sumber permukaan sering kali menurun sehingga suplai air tanah menjadi alternatif yang dibutuhkan petani untuk mempertahankan produksi pertanian.

Dody meminta pengembangan JIAT ke depan perlu dilakukan secara terintegrasi dengan pemetaan kebutuhan air pada seluruh kawasan pertanian potensial di Rote Ndao. Melalui perencanaan yang matang, diharapkan pembangunan sumur-sumur JIAT baru dapat dilakukan secara bertahap dan tepat sasaran sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.

“Melalui pembangunan JIAT dan berbagai infrastruktur sumber daya air lainnya, Kementerian PU berkomitmen terus menghadirkan layanan dasar yang andal, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah 3T guna mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih maju. Pengembangan JIAT di Rote Ndao juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional,” tutupnya.

Inisiatif ini menandai langkah konkret pemerintah dalam memanfaatkan air tanah secara efisien, sekaligus menekankan pentingnya teknologi ramah lingkungan dan perencanaan terintegrasi untuk mendukung ketahanan pangan di daerah terpencil.

Jaringan Irigasi Air TanahInfrastruktur Sumber Daya AirPertanian 3TRote NdaoPanel SuryaKementerian Pekerjaan UmumKetahanan PanganEnergi Efisien

Komentar

Memuat komentar...