Jumlah Segmen Sesar Aktif di Jawa Timur Naik Jadi 82

Endah K. · 5 min baca · 6 jam lalu · 6 dibaca
Bisik.id
Jumlah Segmen Sesar Aktif di Jawa Timur Naik Jadi 82

Gambar atau konten salah?

Jawa Timur sering disebut sebagai wilayah yang aktif secara tektonik. Selain dipengaruhi oleh subduksi di selatan Pulau Jawa, provinsi ini juga menampung sejumlah patahan aktif di darat.

Menurut Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang diterbitkan PuSGeN, jumlah segmen sesar aktif di Pulau Jawa meningkat dari 36 segmen pada peta 2017 menjadi 82 segmen pada peta 2024. Penambahan ini menandakan lebih banyak sesar yang berhasil diidentifikasi melalui penelitian lebih detail, bukan berarti gempa akan lebih sering.

Secara nasional, Indonesia kini memiliki 401 segmen sesar aktif yang telah teridentifikasi. Di Pulau Jawa, peningkatan jumlah segmen ini terlihat jelas, terutama di Jawa Timur, di mana sesar tersebar dari barat, utara, hingga timur provinsi.

Berikut daftar sesar darat aktif di Jawa Timur beserta karakteristik dan perkiraan magnitudo maksimum yang dapat dihasilkan berdasarkan kajian ilmiah terbaru.

Sesar Kendeng adalah salah satu sistem sesar yang paling banyak mendapat perhatian. Sesar ini dikenal juga sebagai bagian dari sistem Java Back-arc Thrust (JBT) dan membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Di Jawa Timur, segmen penting meliputi Sesar Surabaya, Sesar Waru, Sesar Cepu, Sesar Pandan, Sesar Drenges, dan Sesar Situbondo.

Potensi magnitudo maksimum Sesar Surabaya diperkirakan hingga Mw 6,7, sedangkan Sesar Waru, yang berada di sekitar Surabaya dan Sidoarjo, diperkirakan mampu menghasilkan gempa hingga Mw 6,8. Para ahli menegaskan angka tersebut merupakan potensi maksimum, bukan prediksi gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

Selanjutnya, Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS) membentang dari wilayah utara Jawa Timur hingga Pulau Madura dan Kepulauan Kangean. Di dalamnya terdapat segmen seperti Sesar Bojonegoro, Sesar Tuban, Sesar Sumenep, Sesar Baliga, Sesar Brakas, dan Sesar Mandangin.

Sesar Somorkoning di Pulau Madura, yang cukup dekat dengan Surabaya, diperkirakan pernah aktif pada abad ke-17 dan memiliki potensi gempa hingga sekitar Mw 6,5. Keberadaan sesar-sesar tersebut menunjukkan bahwa wilayah utara Jawa Timur, yang selama ini dianggap tenang, juga menyimpan aktivitas tektonik yang perlu dipahami lebih lanjut.

Di wilayah timur Jawa Timur, sejumlah sesar aktif lainnya telah dipetakan. Salah satunya adalah Sesar Pasuruan, yang memiliki jejak aktivitas cukup jelas. Penelitian menunjukkan sesar ini telah mengalami setidaknya enam kali pergerakan permukaan dalam kurun sekitar 4.000 tahun terakhir, dengan potensi magnitudo maksimum diperkirakan mencapai Mw 6,4.

Selain itu, terdapat Sesar Probolinggo dengan potensi magnitudo sekitar Mw 6,1, dan Sesar Wongsorejo di Banyuwangi yang diperkirakan dapat menghasilkan gempa hingga Mw 5,9. Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas sesar di Jawa Timur tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi tersebar dari kawasan barat, utara, hingga timur provinsi.

Sesar darat dapat menyebabkan gempa bumi yang merusak, terutama jika pusat gempa berada dekat dengan permukaan dan wilayah permukiman. Meski umumnya memiliki magnitudo yang lebih kecil dibandingkan gempa megathrust, gempa akibat sesar darat dapat menimbulkan guncangan yang kuat karena jaraknya yang dekat dengan daratan.

Beberapa sesar aktif di Jawa Timur diperkirakan memiliki magnitudo maksimum antara Mw 5,9 hingga Mw 7,0. Namun, belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi. Oleh karena itu, informasi mengenai sesar aktif lebih ditujukan untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat, bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Di luar sesar darat, Jawa Timur juga dipengaruhi aktivitas zona subduksi atau megathrust di selatan Pulau Jawa. Segmen megathrust selatan Jawa Timur diperkirakan memiliki potensi magnitudo maksimum hingga Mw 8,8‑8,9. Bahkan, jika beberapa segmen pecah secara bersamaan, kekuatannya diperkirakan dapat mencapai Mw 9,1. Para ahli menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa besar akan terjadi.

Berbagai kejadian gempa besar telah mengguncang Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah ini dipengaruhi berbagai sumber gempa, mulai dari sesar aktif di daratan, sesar bawah laut, hingga zona subduksi di selatan Jawa.

Gempa dan tsunami Banyuwangi pada 1994 adalah salah satu yang paling dikenal. Gempa berkekuatan Mw 7,8 yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa Timur memicu tsunami dan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di wilayah pesisir.

Pada 10 April 2021, gempa bermagnitudo Mw 6,1 mengguncang wilayah selatan Malang. Gempa yang berpusat di laut pada kedalaman 58 kilometer tersebut menyebabkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan merusak lebih dari 3.000 bangunan. Menurut analisis BMKG, gempa ini merupakan jenis gempa menengah yang dipicu aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng (intra‑slab) yang menunjam di bawah Pulau Jawa.

Selanjutnya, pada 22 Maret 2024, gempa Bawean berkekuatan Mw 6,5 mengguncang Laut Jawa. Gempa dangkal tersebut dirasakan di berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa wilayah utara Jawa Timur dan Laut Jawa juga memiliki aktivitas seismik yang perlu terus dipantau.

Gempa besar kembali terjadi pada 30 September 2025 di wilayah tenggara Kabupaten Sumenep. BMKG memutakhirkan kekuatan gempa dari magnitudo 6,5 menjadi 6,0 dengan pusat gempa berada di laut pada kedalaman 12 kilometer. Gempa tersebut dipicu aktivitas sesar aktif bawah laut di sekitar Madura dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Hingga keesokan harinya, BMKG mencatat 83 gempa susulan pascagempa utama.

Terbaru, pada 6 Februari 2026, gempa bermagnitudo Mw 6,4 mengguncang laut di tenggara Pacitan. Gempa dengan kedalaman 10 kilometer itu tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya dirasakan hingga sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Surabaya. Menurut analisis BMKG, wilayah selatan Jawa memang merupakan kawasan yang aktif secara tektonik karena dipengaruhi zona subduksi dan sejumlah struktur sesar di sekitarnya.

Berbagai kejadian tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki karakteristik geologi yang kompleks dengan sumber gempa yang beragam. Karena itu, pemahaman terhadap sesar aktif dan upaya mitigasi menjadi hal penting untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Berikut langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan gempa bumi yang penting diketahui, dirangkum dari BMKG dan BNPB.

  1. Kenali Risiko Gempa di Daerah Tempat Tinggal – Masyarakat perlu mengetahui apakah wilayah tempat tinggalnya berada dekat dengan sesar aktif atau memiliki riwayat gempa. Informasi ini dapat diperoleh melalui peta sumber gempa dan informasi resmi dari BMKG maupun BNPB.
  2. Pastikan Bangunan Memenuhi Standar Tahan Gempa – Rumah dan bangunan yang dibangun sesuai standar konstruksi tahan gempa memiliki risiko kerusakan yang lebih kecil saat terjadi gempa. Pemerintah menggunakan data dari peta sumber dan bahaya gempa sebagai acuan dalam perencanaan infrastruktur.
  3. Siapkan Tas Siaga Bencana – Tas siaga bencana sebaiknya berisi dokumen penting, obat‑obatan, senter, makanan ringan, air minum, power bank, serta perlengkapan darurat lainnya yang dapat digunakan saat evakuasi.
  4. Ketahui Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul – Anggota keluarga perlu mengetahui jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul yang aman jika sewaktu‑waktu terjadi gempa bumi. Hal ini penting untuk mengurangi kepanikan saat keadaan darurat.
  5. Lakukan Simulasi Penyelamatan Saat Gempa – Saat gempa, masyarakat dianjurkan melakukan prinsip drop, cover, and hold on, yaitu merunduk, berlindung di bawah meja atau benda yang kokoh, lalu berpegangan hingga guncangan berhenti.
  6. Pantau Informasi Resmi dari BMKG dan BNPB – Setelah gempa terjadi, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB untuk mengetahui kondisi terkini, potensi gempa susulan, maupun peringatan dini tsunami.

Jawa Timur, meski memiliki banyak sesar aktif, tidak berarti masyarakat harus hidup dalam ketakutan. Informasi mengenai sumber gempa dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan, sehingga risiko dapat dikurangi dan kesiapan menghadapi bencana dapat ditingkatkan. Dengan memahami langkah-langkah mitigasi di atas, warga dapat lebih siap menanggapi gempa bumi yang mungkin terjadi di masa depan.

Sesar aktifGempa bumiJawa TimurBMKGMitigasi bencanaPotensi magnitudoSubduksi

Komentar

Memuat komentar...