KAI Naik Listrik, Persinyalan Baru di Tanah Abang‑Rangkasbitung
Gambar atau konten salah?
PT Kereta Api Indonesia (Persero) baru saja mengungkapkan bahwa kepadatan penumpang di jaringan KRL Jabodetabek semakin tinggi dan sudah melewati batas kapasitas ideal. Jalur Tanah Abang‑Rangkasbitung menjadi yang paling padat, dengan tingkat okupansi mencapai 161 % pada jam sibuk.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan kondisi ini menandakan betapa sesaknya KRL yang digunakan masyarakat setiap hari. “Pada kondisi saat ini, okupansi rate itu 128 % sampai dengan 161 %. Jadi kalau kita lihat yang jalur Rangkasbitung, itu sudah peaknya sudah 161 % pada jam sibuk. Jadi 161 % itu kalau kita gambarkan 1 meter persegi itu isinya 8 orang. Jadi 1 meter persegi itu isinya 8 orang,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Selain Rangkasbitung, tingginya kepadatan juga terlihat di lintas Bekasi, yang mencapai sekitar 140 %, dan Bogor, sekitar 130 %. Secara keseluruhan, KRL Jabodetabek melayani sekitar 1,3 juta penumpang per hari.
Untuk mengatasi situasi ini, KAI menyiapkan program modernisasi dan peningkatan kapasitas jaringan KRL Jabodetabek. Fokus utama berada di lintas Tanah Abang‑Rangkasbitung, yang selama ini belum bisa dilayani rangkaian KRL SF12 karena keterbatasan pasokan listrik. “Tentunya satu yang seperti yang kami sampaikan tadi, bagaimana jalur yang ada ke Rangkas, yang pada saat ini sudah 161 % okupansi ratenya, itu dengan menambah kereta‑kereta baru. Nah, kereta‑kereta baru yang lebih panjang, jadi ke Rangkas ini biasanya kereta itu ada SF8 dan SF10. SF12 itu nggak bisa karena kenapa? Listriknya nggak cukup,” jelas dia.
Bobby menjelaskan langkah konkret yang akan diambil. “Maka untuk ke Rangkas ini kami melakukan dua hal, dalam dua minggu ini kami akan mulai melakukan pekerjaannya. Yang pertama itu adalah peningkatan daya untuk LAA‑nya. Ini tidak simple, kita meningkatkan daya PLN, tapi harus menambah 11 gardu traksi. Gardu traksi namanya. Nah, dengan demikian, dayanya cukup, SF12, itu bisa masuk ke Tanah Abang‑Rangkasbitung,” beber Bobby.
Selain itu, KAI juga akan memperbarui sistem persinyalan yang sudah tua. Saat ini, sistem persinyalan membatasi jarak antar kereta sehingga headway masih sekitar 10 menit. Sebagai perbandingan, lintas Bekasi dan Bogor sudah memiliki headway sekitar 3‑4 menit. “Kami juga melakukan upgrade persinyalan. Saat ini headway yang ada di Tanah Abang‑Rangkasbitung itu 10 menit, sementara Bekasi dan Bogor sudah 3‑4 menit,” ujarnya.
Rencana jangka panjang KAI mencakup memperpanjang layanan KRL dari Cikarang hingga Cikampek, serta mengembangkan lintas Bogor‑Sukabumi menjadi layanan KRL. Pembangunan fasilitas pendukung seperti depo dan stabling untuk penyimpanan rangkaian kereta juga sudah dipersiapkan.
“Nah, ini yang mau kita lakukan itu di KRL Jabodetabek. Untuk kita di tahun 2030 itu, kita akan bisa membawa sekitar 1,5 juta sampai dengan 1,6 juta penumpang per hari, sekarang 1,3 juta,” tutup Bobby menjelaskan.
Dengan langkah-langkah tersebut, KAI berharap dapat menurunkan tingkat kepadatan dan meningkatkan kenyamanan bagi penumpang. KRL Jabodetabek kini berada di ambang perubahan yang akan memperkuat mobilitas di wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai
Investasi Rp 1,2 Triliun dari Korea Selatan Masuk IKN
Atasi Macet Ketapang-Gilimanuk, Kapal Besar dan Dermaga Baru Disiapkan
Integrasi Tol Logistik: Kepastian Regulasi Jadi Kunci
2.369 Lulusan SMK Kemenperin, 63,70% Terserap Industri
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai