KAI Target 37.000-60.000 km Rel Nasional 2045 dan TOD

Wahyu T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
KAI Target 37.000-60.000 km Rel Nasional 2045 dan TOD

Gambar atau konten salah?

PT Kereta Api Indonesia (Persero), atau KAI, menargetkan panjang jaringan rel di Tanah Air mencapai antara 37.000 hingga 60.000 kilometer pada tahun 2045.

Hingga saat ini, panjang rel aktif hanya sekitar 6.700 kilometer, bahkan lebih rendah dibandingkan jaringan rel di Pulau Jawa pada masa kolonial Belanda yang pernah mencapai sekitar 10.000 kilometer.

“Kita memerlukan sekitar 37.000 kilometer sampai 60.000 kilometer di tahun 2045, jadi totalnya itu kilometer dari rel itu, itu diharapkan 37.000 sampai 60.000 kilometer,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (03 Juni 2026).

“Artinya yang harus kita lakukan adalah reaktivasi rel‑rel yang ada di Jawa, seperti saya gambarkan tadi di Jawa itu yang aktif itu kurang dari 7.000 (km), sementara waktu jaman Belanda itu, itu sudah 10.000 (km) sebenarnya di Jawa ini. Jadi kita bukan nambah jumlah rel di Jawa ini, tapi malah berkurang,” sambung Bobby.

Menurutnya, target pengembangan jaringan rel menjadi bagian dari tahapan transformasi menuju standar perkeretaapian kelas dunia. Dalam jangka menengah, KAI menargetkan panjang rel nasional sudah melampaui 7.000 kilometer pada tahun 2030.

Seiring dengan itu, pendapatan perusahaan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp 66 triliun. Saat ini dengan panjang rel 6.700 kilometer, pendapatan KAI tercatat sebesar Rp 35,7 triliun.

KAI juga berupaya mengubah struktur pendapatannya agar tidak terlalu bergantung pada bisnis transportasi. Saat ini sekitar 96% pendapatan perseroan masih berasal dari angkutan penumpang (farebox) dan logistik, sementara kontribusi dari pengembangan kawasan berbasis transit (Transit Oriented Development/TOD) baru sekitar 4%.

Bobby mencontohkan, perusahaan perkeretaapian Jepang, Japan Railways (JR), memperoleh sekitar 40% pendapatannya dari bisnis TOD. Karena itu, KAI mulai memperkuat pengembangan kawasan di sekitar stasiun untuk menambah sumber pendapatan baru.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah pembangunan hunian menengah ke bawah di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Proyek tersebut mencakup hampir 5.000 unit rumah dan ditargetkan rampung pada tahun 2027.

“Kalau kita berkaca dengan JR, Japan Railways, farebox dan logistik mereka itu 60%, 40% itu dari Transit Oriented Development. Makanya akhir‑akhir ini kami mencoba untuk lebih memperkuat penguatan pendapatan itu di TOD,” tutup Bobby.

Dengan strategi reaktivasi rel dan diversifikasi pendapatan melalui TOD, KAI berusaha menyiapkan infrastruktur kereta api yang lebih luas dan lebih berkelanjutan, sekaligus menambah sumber penghasilan di luar layanan transportasi tradisional.

KAIJaringan rel 2045Reaktivasi relPendapatanTransit Oriented DevelopmentJapan RailwaysManggarai

Komentar

Memuat komentar...