KAI Tetap Harga Tiket Meski Rupiah Menguat, Biaya Import Naik
Gambar atau konten salah?
Di 03 Juni 2026, Bobby Rasyidin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), mengungkapkan bagaimana pelemahan rupiah memengaruhi operasional perusahaan. Ia tidak menutupi fakta bahwa tekanan mata uang ini menambah beban biaya bagi KAI.
Bobby menjelaskan bahwa sebagian besar sparepart KAI masih diimpor dari luar negeri, sehingga pembelian dilakukan dalam dolar AS. Selain itu, BBM yang digunakan tidak semuanya disubsidi; sebagian harus dibayar dengan harga pasar.
“Operasinal KAI tentunya berpengaruh lah, kan ada sparepart. Sparepart masih kita beli dari luar, kemudian juga sebagian kita solar bukan subsidi, ada sebagian solar yang diesel yang harga pasar juga,” ujar Bobby saat ditemui di Kompleks DPR RI.
Harga diesel yang naik menjadi sorotan di kalangan industri, namun bagi KAI, dampaknya tidak terlalu besar. “Nggak ada, kecil,” kata mantan Direktur Utama PT LEN Indusri ketika ditanya tentang hal tersebut.
Ketika ditanya apakah KAI akan menyesuaikan harga tiket, Bobby hanya menjawab singkat. Ia menegaskan bahwa belum ada rencana evaluasi harga tiket kereta api.
“Nggak ada, belum ada,” singkatnya.
Di pasar, dolar AS terus menekan rupiah hingga mendekati level Rp 18.000. Data Bloomberg menunjukkan pada pukul 14.35 WIB, mata uang Paman Sam berada di level Rp 17.960, menguat 120,50 poin atau 0,68%.
Secara keseluruhan, KAI menghadapi tantangan biaya impor dan fluktuasi mata uang, namun perusahaan menilai dampaknya masih terkendali dan tidak memerlukan perubahan harga tiket saat ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
