Kalachi: Tidur Aneh Disebabkan Gas Karbon Monoksida Kronologi
Gambar atau konten salah?
Kalachi, sebuah kota kecil di timur laut Kazakhstan, menjadi sorotan pada tahun 2013 ketika penduduknya melaporkan kondisi aneh yang membuat mereka tidur selama berhari-hari. Mereka tidak hanya tertidur, tapi juga mengucapkan kata‑kata tak jelas, menggerakkan tubuh, dan mengalami penglihatan ganda. Saat tertidur, kesadaran mereka kabur bahkan ketika sedang makan, merokok, atau pergi ke kamar mandi. Beberapa bahkan hampir koma, dan ketika terbangun, tidak menyadari apa yang terjadi.
Kasus pertama yang terdokumentasi datang dari seorang perempuan paruh baya bernama Lyubov Belkova. Pada April 2010, saat bekerja di pasar, ia tiba‑tiba merasakan kantuk hebat. Empat hari kemudian, ia terbangun di rumah sakit dan diberitahu bahwa ia mengalami stroke. Setelah itu, lebih banyak orang di Kalachi mulai terjangkit penyakit tidur aneh ini.
Suatu hari, lima perempuan sekaligus jatuh sakit. Seorang anak kecil bernama Misha Plyukhin melaporkan halusinasi, dan bahkan seekor kucing bernama Marquis tertidur dan mulai mendengkur seperti manusia. Kalachi kemudian diberi julukan “Sleepy Hollow” karena keanehan ini.
Namun kota tetangga, Krasnogorsk, juga tidak luput. Kota ini pernah menjadi rumah bagi para penambang uranium. Setelah jatuhnya Uni Soviet pada 1990-an, tambang ditinggalkan, dan Krasnogorsk menjadi kota hantu. Meskipun begitu, penduduknya juga merasakan keinginan kuat untuk tidur.
Selama beberapa tahun, lebih dari 140 insiden dilaporkan di kedua kota. Beberapa pasien bahkan mengalami penyakit tidur berkali‑kali. Ada spekulasi bahwa ini mungkin konspirasi pemerintah, namun belum ada bukti yang mendukung.
Ketika kasus meningkat, pihak berwenang memulai penyelidikan. Mereka melakukan survei lingkungan, serta tes virus dan bakteri pada pasien. Awalnya, mereka mencurigai vodka palsu. Kemudian, mereka berpikir bahwa ini bisa jadi contoh histeria massal, kondisi yang sama yang menyebabkan wabah menari pada tahun 1518, epidemi tawa pada tahun 1962, dan penyakit gatal Bin Ladin pada tahun 2002.
Perhatian kemudian beralih ke tambang uranium yang ditinggalkan. Mereka mengukur tingkat radiasi di lebih dari 7.000 rumah dan menemukan bahwa konsentrasi zat radioaktif terlalu rendah untuk menimbulkan masalah apa pun. Para ahli menyatakan bahwa gejala yang muncul tidak sesuai dengan keracunan radiasi, yang biasanya menyebabkan kanker dan kerusakan organ, bukan hanya pingsan.
Baru setelah hasil pemeriksaan medis keluar, mereka dapat mengidentifikasi pelaku sebenarnya. Pada tahun 2015, penyakit tidur telah menyiksa penduduk Kalachi dan Krasnogorsk selama lima tahun. Banyak penduduk desa mengambil tindakan sendiri dan meninggalkan rumah atas kemauan mereka sendiri.
Hasilnya, memang benar ada hubungannya dengan tambang, namun bukan karena radiasi. Penyakit tidur tersebut disebabkan oleh tingginya kadar karbon monoksida dan hidrokarbon di udara yang dihasilkan oleh tambang uranium. Gas karbon monoksida mengikat darah lebih efektif daripada oksigen, tepatnya 200 kali lebih efektif daripada oksigen. Ketika kadar gas ini terlalu tinggi, otak kekurangan oksigen, menyebabkan rasa lelah yang tidak terkendali.
“Tambang uranium pernah ditutup, dan ada kalanya terjadi konsentrasi karbon monoksida di sana,” kata Berdibek Saparbaev, wakil Perdana Menteri Kazakhstan, pada musim panas 2015. “Oksigen di udara berkurang, itulah penyebab sebenarnya penyakit tidur di desa‑desa ini,” tambahnya.
Namun, penduduk yang tersisa masih skeptis. Tambang sudah ditutup sejak awal 1990-an, dan karbon monoksida biasanya merupakan produk pembakaran. Mengapa penyakit tidur mempengaruhi penduduk dua dekade kemudian? Pada saat itu, Claude Piantadosi, ahli paru di Duke University Medical Center, mengatakan kepada media bahwa gas lain, termasuk karbon dioksida, mungkin terlibat.
Menurut artikel pada tahun 2016, para ilmuwan di Pusat Nuklir Nasional Kazakhstan mengkonfirmasi bahwa kelebihan karbon monoksida dari tambang uranium adalah penyebab penyakit tidur tersebut, meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab.
Kasus ini menyoroti betapa pentingnya pemantauan lingkungan di daerah bekas tambang. Meskipun radiasi tidak menjadi penyebab, polusi gas berbahaya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Di Kalachi dan Krasnogorsk, upaya evakuasi dan penanganan gas berbahaya menjadi prioritas, sekaligus mengingatkan bahwa bekas tambang masih dapat memengaruhi kesehatan masyarakat bertahun‑tahun setelah penutupan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
