Kampung Mati di Gunung Tugel Kini Jadi Lahan Unsoed
Gambar atau konten salah?
Kampung mati di kawasan Gunung Tugel, Banyumas, Jawa Tengah kini dipenuhi manusia. Nama ini sering dipakai warga untuk menandai area di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, yang dikelilingi rumput ilalang sejak pintu masuk. Terletak di tepi jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dengan Banyumas, kawasan ini tampak kosong, namun aktivitas di dalamnya tidak benar-benar mati.
Lahan yang kini dikelola oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dulu pernah menjadi tempat pelatihan pendidikan. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki sejarah panjang sejak era program transmigrasi pemerintah pada 1980‑an.
“Awalnya lahan itu milik Kementerian Transmigrasi. Sekitar tahun 80‑an dipakai untuk pelatihan calon transmigran yang akan berangkat ke luar Jawa,” kata Waluyo saat dihubungi Senin, 09 Maret 2024.
Para calon transmigran saat itu dilatih berbagai keterampilan dasar sebelum diberangkatkan ke daerah tujuan. Mulai dari cara bercocok tanam hingga simulasi kehidupan di permukiman transmigrasi. “Di sana dulu ada simulasi rumahnya juga. Jadi calon transmigran dilatih bagaimana bercocok tanam dan seperti apa nanti bentuk kehidupan mereka di lokasi transmigrasi,” ujarnya.
Pelatihan tersebut dilakukan dengan menggandeng akademisi dari Unsoed. Kerja sama berlangsung sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990. “Dari sekitar 1986 sampai sebelum tahun 90‑an itu digunakan untuk pelatihan transmigrasi oleh kementerian. Programnya bekerja sama dengan dosen‑dosen Unsoed,” jelas Waluyo.
Setelah program transmigrasi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, lahan tersebut akhirnya diserahkan kepada Unsoed. “Begitu program transmigrasi tidak ada lagi, lahannya kemudian diserahkan ke Unsoed. Sertifikatnya juga atas nama Unsoed,” kata Waluyo.
Kawasan seluas sekitar 26 hektare tidak langsung dimanfaatkan secara optimal. Sebagian lahan hanya ditanami tanaman tertentu dan sebagian lainnya digunakan untuk kegiatan terbatas. “Dulu pemanfaatannya belum begitu banyak, hanya untuk tanaman‑tanaman yang dilindungi dan sebagian untuk kegiatan bisnis,” jelasnya.
Seiring waktu, luas lahan juga mengalami perubahan. Sebagian area dipakai untuk pelebaran jalan dan ada sekitar 5 hektare yang dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA).
Transformasi ini menunjukkan bagaimana wilayah yang dulu menjadi pusat pelatihan transmigrasi kini beralih menjadi aset pendidikan dan pertanian. Meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkan, lahan ini tetap menjadi bagian penting dalam sejarah transmigrasi dan pengembangan akademik di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Berita Terbaru
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
