Kebakaran KM Mutiara Sentosa II Tewaskan 5 Orang

Maya K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kebakaran KM Mutiara Sentosa II Tewaskan 5 Orang

Gambar atau konten salah?

Kebakaran melanda KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kapal yang tengah dalam perjalanan dari Surabaya menuju Makassar itu terbakar. Lima orang dilaporkan meninggal dunia. Ratusan penumpang lainnya berhasil dievakuasi.

Peristiwa ini memicu pertanyaan tentang sistem keselamatan pelayaran di Indonesia. Proses identifikasi korban masih berlangsung. Petugas juga mencocokkan data manifes untuk memastikan semua penumpang tercatat dengan benar.

Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, angkat bicara. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. "Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban. Semoga almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Kepada para korban yang selamat, semoga segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga," ujarnya di DPR pada Selasa, 04 Juli 2026.

Menurut Sudjatmiko, insiden ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Ia mendesak investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab kebakaran. Hasil investigasi itu, katanya, harus menjadi dasar perbaikan sistem ke depannya.

"Kecelakaan transportasi laut tidak boleh terus berulang. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama. Saya meminta investigasi dilakukan secara menyeluruh, transparan, dan independen agar penyebab kebakaran dapat diketahui secara objektif, sekaligus menjadi dasar evaluasi terhadap kelaikan kapal, standar operasional, prosedur keselamatan, hingga sistem pengawasan yang dilakukan regulator," tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, pemerintah daerah, nelayan, dan tim SAR gabungan. Mereka semua terlibat dalam evakuasi dan pencarian korban. Koordinasi antar lembaga dinilai berperan besar dalam menyelamatkan ratusan penumpang.

"Saya mengapresiasi dedikasi dan profesionalisme seluruh personel Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, serta semua pihak yang terlibat. Respons cepat mereka menunjukkan kehadiran negara dalam melindungi keselamatan masyarakat. Saya juga memberikan penghargaan atas optimalisasi berbagai sarana penyelamatan, termasuk penggunaan Rigid Inflatable Boat (RIB), kapal-kapal penyelamat, drone udara, dan peralatan pencarian lainnya yang sangat membantu mempercepat proses evakuasi maupun pencarian korban di laut," katanya.

Selain investigasi, Sudjatmiko menilai pemerintah perlu mengevaluasi standar keselamatan kapal penumpang. Fokus utamanya adalah sistem proteksi kebakaran. Indonesia adalah negara kepulauan dengan aktivitas pelayaran yang sangat tinggi. Karena itu, setiap kapal penumpang harus memiliki sistem pemadam kebakaran yang andal.

"Mulai dari deteksi dini, sistem sprinkler, pompa kebakaran, hingga jaringan fire main system yang mampu memanfaatkan air laut sebagai sumber pasokan air untuk pemadaman. Sistem tersebut harus diuji secara berkala agar dapat berfungsi optimal ketika keadaan darurat terjadi," ujarnya.

Menurut Sudjatmiko, alat pemadam api portabel saja tidak cukup. Harus ada sistem pemadam tetap yang mampu menjangkau seluruh area kapal. Ia mendorong evaluasi terhadap standar perlindungan kebakaran di kapal penumpang. Termasuk kesiapan peralatan, simulasi keadaan darurat, dan kompetensi awak kapal.

"Keselamatan pelayaran tidak boleh hanya bergantung pada keberanian kru saat menghadapi musibah, tetapi harus ditopang oleh sistem keselamatan yang modern, andal, serta memenuhi standar nasional maupun internasional. Pencegahan harus menjadi prioritas utama agar setiap kapal memiliki kemampuan merespons kebakaran sejak dini sebelum api membesar," tegasnya.

Komisi V DPR, kata Sudjatmiko, akan mengawal proses investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Kementerian Perhubungan. Evaluasi mencakup operator kapal, kepatuhan terhadap standar keselamatan, akurasi data manifes penumpang, hingga sistem pengawasan transportasi laut.

"Tragedi ini harus menjadi titik balik pembenahan keselamatan transportasi laut Indonesia. Negara harus memastikan setiap masyarakat memperoleh layanan transportasi yang aman, nyaman, dan berkeselamatan melalui pengawasan yang lebih ketat, penegakan regulasi yang konsisten, serta penguatan kapasitas lembaga penyelamatan dan seluruh sistem keselamatan pelayaran nasional," tutup Sudjatmiko.

Kebakaran KM Mutiara Sentosa II bukanlah insiden pertama di perairan Indonesia. Peristiwa serupa kerap terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Seruan untuk evaluasi sistem keselamatan pelayaran pun terus bergema setiap kali tragedi serupa terjadi. Pertanyaan mendasar tentang kelaikan kapal, prosedur darurat, dan pengawasan regulator kembali mengemuka. Investigasi KNKT nantinya akan menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

kebakaran kapalkeselamatan pelayaranKM Mutiara Sentosa IIevakuasi penumpanginvestigasi KNKTevaluasi keselamatanSumenep

Komentar

Memuat komentar...