Kebakaran Ponpes Hidayatullah: 5-6 Kelas Terbakar di Mamuju
Gambar atau konten salah?
19 April 2026 di Mamuju, Sulawesi Barat, sebuah ponpes bernama Hidayatullah mengalami kebakaran yang meluas. Kebakaran dimulai di pos sekuriti dan cepat menyebar ke beberapa ruangan lain.
Menurut Kombes Ferdyan Indra Fahmi, kepala Polresta Mamuju, “Ada beberapa ruangan yang terbakar, di depan ada kantor baitul mal, pos sekuriti, kemudian ada kelas PAUD, TK dan SD. Sekitar 5 atau 6 kelas.”
Insiden terjadi pada 19 April 2026 sekitar pukul 12.00 Wita. Api menyebar ke bangunan lain sebelum akhirnya dapat dikendalikan. “Tadi pas kejadian, kita didukung tim pemadam kebakaran, Satbrimob Polda Sulbar dan dari Polresta juga mengerahkan. Alhamdulillah kurang lebih satu jam tadi seluruh unsur melakukan pemadaman,” jelas Ferdyan.
Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka. “Ferdyan memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden itu.”
Pemeriksaan awal di Tempat Kejadian Perkara (TKP) menunjukkan kebakaran dipicu oleh korsleting listrik di ruangan pos sekuriti. “Dari pemeriksaan awal dan olah TKP, kebakaran diduga dipicu korsleting di ruangan pos sekuriti.”
Hasil olah TKP mengungkap satu titik sumber kebakaran. “Dari hasil olah TKP ditemukan indikasi kuat, ada satu titik yang menjadi sumber awal terbakarnya bangunan itu adalah pos sekuriti,” tambahnya. Saat kejadian tidak ada petugas keamanan berjaga karena hari libur. Namun ditemukan alat elektronik, colokan listrik, kabel, stop kontak, saklar, kipas angin, dispenser, dan terminal listrik masih terhubung.
Ruangan yang terbakar kini tidak dapat ditempati. Ferdyan menegaskan bahwa renovasi akan memakan waktu lama. “Sementara kondisi dalam ruangan itu, kabel-kabel, colokan, stop kontak, saklarnya masih nyambung, kami temukan di sana masih ada kipas angin, dispenser, ada beberapa terminal listrik yang masih terkonek dengan stop kontak,” jelasnya.
Untuk melanjutkan pendidikan, pihak berwenang akan mencari tempat sementara bagi siswa. “Kita carikan tempat untuk adik-adik kita, supaya bisa lanjut (belajarnya),” pungkasnya.
Insiden ini menunjukkan pentingnya perawatan peralatan listrik di fasilitas pendidikan. Kebakaran di Ponpes Hidayatullah menegaskan perlunya pengawasan rutin dan penanganan cepat terhadap potensi risiko listrik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
