Kebakaran TPA Jatiwaringin, Ancaman Musiman yang Berulang

Dwi H. · 2 min baca · 18 menit lalu · 3 dibaca
Bisik.id
Kebakaran TPA Jatiwaringin, Ancaman Musiman yang Berulang

Gambar atau konten salah?

Kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) kembali terjadi. Kali ini, giliran TPA Jatiwaringin yang menjadi perhatian. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peristiwa ini sebenarnya bukan sesuatu yang muncul secara mendadak. Saat musim kemarau tiba, hampir semua TPA yang masih memakai sistem open dumping atau pembuangan terbuka berada dalam kondisi rawan terbakar.

Wahyu Purwanta, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, menjelaskan langkah pertama yang harus diambil saat kebakaran terjadi. "Yang harus dilakukan adalah betul-betul pemadaman dulu. Kemudian masyarakat yang terdampak segera dievakuasi karena dampak kebakaran TPA sangat berbahaya, terutama bagi kesehatan, bahkan juga berdampak pada ekonomi," kata Wahyu dalam diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) di kantor BRIN, Gedung B.J. Habibie di Jakarta, Kamis 09 Juli 2026.

Setelah api berhasil dipadamkan, pemerintah perlu melakukan investigasi. Tujuannya untuk mencari tahu penyebab kebakaran agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Wahyu menilai kebakaran TPA adalah kejadian yang hampir selalu berulang setiap musim kemarau. "Kebakaran TPA ini sesuatu yang berulang terjadi di musim kemarau. Bahkan sekarang musim kemarau belum terlalu panjang. Kalau kemaraunya berkepanjangan, risikonya tentu akan lebih besar," ujarnya.

Secara ilmiah, Wahyu menjelaskan bahwa kebakaran hanya bisa terjadi jika tiga unsur terpenuhi. Unsur-unsur itu adalah bahan bakar, oksigen, dan sumber penyalaan. Di TPA, dua unsur pertama tersedia dalam jumlah yang sangat banyak. "Bahan bakarnya ada dari sampah kering maupun gas metana hasil pembusukan sampah organik. Oksigen juga tersedia dari udara bebas. Karena itu yang harus dicegah adalah sumber penyalaannya," katanya.

Sumber penyalaan bisa berasal dari berbagai hal. Mulai dari aktivitas pembakaran di sekitar TPA hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan. Karena itu, selama musim kemarau pemerintah daerah perlu meningkatkan pengawasan terhadap TPA. "Kasarnya begini, saat musim kemarau TPA yang masih open dumping harus benar-benar dijaga. Semua potensi sumber penyalaan harus dicegah semaksimal mungkin," ujarnya.

Wahyu mengatakan pencegahan kebakaran tidak cukup hanya dilakukan di area TPA. Pengelolaan sampah sejak dari sumbernya juga perlu dibenahi. Idealnya, sampah yang masuk ke TPA hanyalah residu yang sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali dan tidak mudah terbakar. "Semakin yang masuk ke TPA itu hanya residu yang tidak mudah terbakar, maka risiko kebakaran juga akan semakin kecil. Artinya sistem pengelolaan sampah di hulunya juga harus dibenahi," katanya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy tetap perlu dibarengi dengan pemilahan sampah sejak awal. Dengan begitu, sampah yang sudah dipilah akan lebih mudah diolah sekaligus mengurangi beban TPA.

Kebakaran di TPA bukanlah kejadian yang terisolasi. Pola yang sama muncul setiap tahun saat kemarau. Ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia, terutama di TPA yang masih menggunakan metode open dumping, memiliki kerentanan yang jelas. Tanpa perbaikan di hulu, risiko kebakaran akan terus berulang.

kebakaran TPAopen dumpingmusim kemaraupencegahan kebakaranpengelolaan sampahsumber penyalaanBRIN

Komentar

Memuat komentar...