Kelebihan Pasokan, RI Genjot Ekspor Ayam ke Arab Saudi-China

Guntur P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kelebihan Pasokan, RI Genjot Ekspor Ayam ke Arab Saudi-China

Gambar atau konten salah?

Kementerian Pertanian memperluas target pasar ekspor untuk daging ayam dan telur. Langkah ini diambil karena Indonesia mengalami kelebihan pasokan atau oversupply untuk kedua komoditas tersebut. Negara-negara seperti Arab Saudi dan China kini menjadi bidikan baru.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan Indonesia tidak lagi sekadar mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Posisinya kini sudah berlebih. "Kita ini kalau untuk daging ayam sama telur, bukan lagi swasembada. Kita ini oversupply, jadi kita sudah juga mengekspor ke berapa? 11 negara, dan kita akan terus tingkatkan kuantitasnya," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, pada Senin, 06 Juli 2026.

Salah satu pasar besar yang sedang dijajaki adalah Arab Saudi. Alasannya, kebutuhan pangan untuk jemaah haji dan umrah asal Indonesia sangat tinggi. "Salah satunya adalah market yang besar adalah Arab Saudi, kaitannya untuk umroh dan kebutuhan haji kita yang besar. Ini kita lagi jajaki," jelas Sudaryono.

China juga menjadi target berikutnya. Pemerintah melihat peluang di sana, terutama untuk ceker ayam. "Termasuk juga ke China sebagai market yang besar, di sana salah satu komoditas dari ayam yang diminati itu adalah ceker ayam. Jadi selain orang Indonesia, ternyata orang China itu dia makan banyak ceker ayam. Ini bagian dari diplomasi," terangnya.

Menurut Sudaryono, perluasan pasar ini tidak lepas dari peran Presiden Prabowo Subianto. Dalam setiap kunjungan ke luar negeri, Prabowo selalu membawa misi dagang. "Jadi kalau misalnya Pak Presiden banyak jumpa dengan banyak tokoh negara atau kepala negara lain, itu salah satunya urusan begini-begini. Urusan bagaimana menggolkan urusan ekspor komoditas sarang walet lah, durian lah, ekspor buah lah, ekspor apapun, termasuk di dalamnya adalah ekspor komoditas peternakan, dan juga perikanan," beber Sudaryono.

Data Kementerian Pertanian mencatat, pada Maret 2026 Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas. Nilainya mencapai Rp 18,2 miliar. Negara tujuan ekspor saat itu meliputi Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Sebagian besar ekspor berupa telur konsumsi sebanyak 517 ton, atau sekitar 8,13 juta butir. Sisanya adalah daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.

Kinerja ekspor unggas menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2024, ekspor unggas tercatat sekitar 300 ton dengan nilai Rp 10-11 miliar. Angka itu naik pada 2025 menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp 13-15 miliar.

Peningkatan ini didukung oleh produksi nasional yang kuat. Hingga Maret 2026, produksi daging ayam ras mencapai 4,29 juta ton per tahun. Konsumsi nasionalnya 4,12 juta ton per tahun. Untuk telur ayam ras, produksi mencapai 6,54 juta ton per tahun, sementara konsumsinya 6,47 juta ton per tahun. Selisih antara produksi dan konsumsi inilah yang menjadi cadangan ekspor.

Indonesia saat ini sudah mengekspor produk unggas ke 11 negara. Pemerintah terus berupaya menambah jumlah dan volume ekspor. Arab Saudi dan China menjadi prioritas berikutnya karena kebutuhan pangannya yang besar, terutama untuk keperluan ibadah dan permintaan pasar seperti ceker ayam.

perluasan ekspordaging ayamteluroversupplyArab SaudiChinaceker ayam

Komentar

Memuat komentar...