Kemenperin Pantau Selat Hormuz, Jaga Pasokan Plastik

Mira T. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Kemenperin Pantau Selat Hormuz, Jaga Pasokan Plastik

Gambar atau konten salah?

Kementerian Perindustrian terus memantau dinamika geopolitik global, khususnya situasi di Selat Hormuz, yang dapat memengaruhi rantai pasok bahan baku petrokimia dan subsektor industri plastik nasional. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, kementerian mengadakan pertemuan dengan pelaku industri hulu, antara, hilir, dan daur ulang plastik guna membahas kondisi terkini dan langkah mitigasi bersama.

Pertemuan ini menampilkan optimisme industri terkait ketersediaan stok plastik di dalam negeri. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menulis: “Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini.” (Kamis, 16 April 2026).

Para peserta juga menyatakan komitmen menjaga kesinambungan suplai plastik, khususnya bagi pelaku industri kecil, agar produk mereka tetap kompetitif di pasar. Kemenperin mengakui bahwa gejolak geopolitik di Selat Hormuz telah menimbulkan distorsi pada struktur harga produk plastik di dalam negeri. Penyesuaian harga terjadi akibat kenaikan biaya logistik, freight pelabuhan, pengenaan surcharge premium, dan gangguan waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri.

Agus menjelaskan, “Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi.”

Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa situasi global saat ini menjadi pelajaran penting untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, terutama dari sisi penyediaan bahan baku dalam negeri. “Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujarnya.

Pertemuan juga mengungkapkan harapan investor agar subsektor industri petrokimia semakin menarik bagi penanaman modal baru. Salah satu faktor penting yang diidentifikasi adalah perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor. Agus menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan bahan baku nasional sambil menjaga keseimbangan antara kebutuhan sektor energi, termasuk bahan bakar kendaraan bermotor, dan kebutuhan bahan baku industri petrokimia.

Di sisi lain, potensi pengembangan bahan baku substitusi nafta dari sumber alternatif domestik, seperti crude palm oil (CPO), dibahas. Meski dari sisi harga masih relatif tinggi, opsi tersebut dinilai layak untuk terus dieksplorasi sebagai bagian dari strategi diversifikasi bahan baku dan mengurangi ketergantungan terhadap impor. “Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” tutur Agus.

Menutup keterangannya, Agus menyatakan bahwa dalam kondisi geopolitik saat ini, persaingan memperoleh bahan baku petrokimia antarnegara diperkirakan akan semakin ketat. Karena itu, pelaku industri mengusulkan agar Indonesia dapat mengakses bahan baku yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga meningkatkan daya saing perusahaan dan produk mereka. “Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” tutup Agus.

Di antara peserta pertemuan terdapat asosiasi dan perusahaan besar, antara lain Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, PT Polytama Propindo, PT Polyplex Films Indonesia, PT Kofuku Plastic Indonesia, Indorama Group, PT Trinseo Materials Indonesia, PT Lotte Chemical Titan Nusantara, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), PT Astina Indah Abadi, dan PT Bumi Lestari Unggul. Selanjutnya, hadir juga PT Selamat Anugrah Indonesia, PT Pelita Mekar Semesta, Indonesian Plastics Recyclers (IPR), Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI), Asosiasi Ekspor Impor Plastik Indonesia (AEIXIPINDO), Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas), PT Supernova Flexible Packaging, Asosiasi Plastik Akal Sehat Indonesia (PASTI), Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), PT Indopoly, serta Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (APHINDO).

Secara keseluruhan, pertemuan tersebut menegaskan komitmen bersama untuk menjaga ketersediaan bahan baku, menstabilkan harga, dan memperkuat ketahanan industri petrokimia di tengah ketidakpastian geopolitik. Fokus pada diversifikasi sumber daya nasional dan perlindungan pasar domestik menjadi kunci dalam menjaga daya saing industri plastik Indonesia.

Selat Hormuzrantai pasok petrokimiaindustri plastikharga bahan bakuCPOdiversifikasi sumber dayakemandirian industri petrokimia

Komentar

Memuat komentar...