Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi: Pertamax Naik Rp16.250

Dedi S. · 4 min baca · 11 jam lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi: Pertamax Naik Rp16.250

Gambar atau konten salah?

Rabu, 10 Juni 2026, pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM non‑subsidi. Pertamax melonjak tajam dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp19.000 per liter. Penyesuaian ini didasarkan pada evaluasi harga sesuai formula yang telah ditetapkan.

Di Jawa Barat, suara kemarahan pecah. Warga merasa kesal dan mulai memikirkan beralih ke BBM yang lebih murah, yakni Pertalite yang tetap di Rp10.000 per liter. Di SPBU Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, beberapa pengendara memutuskan untuk beralih demi menekan pengeluaran.

“Sebetulnya biasa pakai Pertamax, karena sayang juga ke motor. Tapi naiknya nggak manusiawi gini mah mau nggak mau beralih ke Pertalite,” ujar Diki (32). Diki menolak memberi komentar lebih jauh tentang kebijakan kenaikan BBM. Ia hanya menegaskan harapannya agar pemangku kebijakan lebih berpihak kepada rakyat kecil.

“Bayangin aja a, jatah buat bensin itu sudah ditakar per bulannya. Kalau saya paksain beli Pertamax harus ada yang dikurangi lagi, apalagi kebutuhan pokok serba naik. Tapi gajih tetap, nggak tahu lagi deh,” jelasnya.

Indah Mawari (30) juga mengeluh. Ia terpaksa tetap menggunakan Pertamax karena mesin kendaraan tidak cocok dengan BBM lain. “Pakai motor ada saya juga di rumah. Suka pakai mobil karena banyak yang harus dibawa. Terus tahu sendiri di Bandung transportasinya belum kaya Jakarta,” kata Indah.

“Harapan saya sebagai warga, Pertamax harganya turun lagi, itu aja. Kita selama ini sudah membantu pemerintah dengan tidak membeli BBM bersubsidi, tapi sekarang naiknya tinggi banget, sebel banget serius pas lihat medsos tadi pagi baca berita kenaikan ini,” ucapnya.

Di SPBU Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, banyak pengendara memilih BBM bersubsidi karena harganya tetap di Rp10.000 per liter. Namun, tidak semua pengguna kendaraan dapat mengambil pilihan tersebut. Beberapa pemilik motor dengan spesifikasi mesin tertentu tetap harus menggunakan Pertamax.

Dewa, pengemudi ojek online, terkejut saat mengetahui harga Pertamax naik drastis. Kenaikan ini langsung memengaruhi biaya operasionalnya. Sebelumnya ia menghabiskan sekitar Rp60 ribu per hari untuk BBM, kini kebutuhan tersebut meningkat signifikan. “Gak bisa karena di atas 155 harus Pertamax khawatir ke mesin jadi mau gak mau tetap isi Pertamax,” katanya.

Di tengah kenaikan biaya operasional, pendapatan Dewa sebagai pengemudi ojek tidak mengalami peningkatan. Saat ditanya tentang perasaannya terhadap kebijakan kenaikan harga, ia mengaku kecewa namun bersikap menunggu perkembangan ke depan. “Kecewa tapi kita lihat ke depan ya seperti apa,” tuturnya.

Ayu, pensiunan guru, belum mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax saat mengisi BBM di SPBU yang sama. “Gak tahu, tadi isi juga belum tahu,” katanya. Ia biasanya membeli BBM sesuai kebutuhan dan nominal uang yang dimiliki. Setelah mengetahui lonjakan harga, ia mengakui kondisi tersebut tetap memberatkan. “Ya berat. Tapi karena kebutuhan jadi isi seperlunya aja mungkin,” ujarnya.

Di Kabupaten Bandung, kondisi serupa terlihat di SPBU Jalan Raya Bojongsoang dan Jalan Raya Dayeuhkolot. Beberapa warga lebih memilih Pertalite untuk menghemat pengeluaran. Suryono Munadi (52) mengaku kaget saat mengetahui kabar soal kenaikan Pertamax. “Biasanya saya ngisi Rp50 ribu itu untuk empat hari. Nah ini enggak tahu habisnya berapa hari, kayanya mah ini habisnya bisa dua atau tiga hari lah,” katanya.

Dia berencana beralih ke Pertalite jika harga Pertamax tidak turun. “Kalau gini terus mah kayanya besok‑besok saya mau ngisi ke Pertalite aja. Walaupun kayanya pasti harus lebih sabar dan pasti ngantre nantinya,” jelasnya.

Mukti Wibawa (34) dari Banjaran menjelaskan bahwa kenaikan tersebut membuatnya berpikir ulang terkait pengeluaran. Ia bekerja ke Kota Bandung, sehingga jarak cukup jauh. “Dengan kenaikan ini saya pikir‑pikir lagi terkait pengeluaran bensin. Terus kan saya kerja ke Kota Bandung, jaraknya lumayan juga kan,” beritanya.

“Kayanya ke depan saya berencana maksain beli motor listrik aja. Soalnya kalau ngisi bensin terus‑terusan mahal, ya mending pakai motor listrik aja. Kayanya lebih irit juga kan,” tambahnya.

Di SPBU Cihanjuang, Kota Cimahi, pemilik motor 2‑tak menunggu giliran mengisi BBM. Motor tersebut dikenal boros, hanya mengkonsumsi 20‑25 km per liter. Algifari, warga Soreang, mengaku harus menggunakan Pertamax atau Pertamax Turbo. “Kaget juga, pagi‑pagi baca berita kenaikan harga BBM. Motor saya 2‑tak, konsumsi BBM boros, ditambah sekarang harga naik pengeluaran makin membengkak,” kata Algifari.

Dia mengisi BBM Pertamax sebanyak Rp50 ribu, cukup untuk sekitar dua hari perjalanan pulang‑pergi Soreang‑Cimahi. Dengan kenaikan harga, pengeluarannya akan jauh lebih besar. Ia mempertimbangkan menjual motor 2‑tak dan menggantinya dengan motor matik agar lebih irit. “Ya mungkin dijual, atau cari motor yang harganya lebih murah. Inginnya ya BBM bisa turun lagi harganya, kalaupun naik jangan terlalu besar seperti sekarang. Naik Rp500 per liter masih masuk akal,” ujarnya.

Ricky Saut Tobing, pemilik motor Yamaha F‑1ZR jadul, juga mengeluhkan hal yang sama. Ia biasanya bisa pakai Pertalite, namun antrean panjang membuatnya menggunakan Pertamax. “Sebetulnya motor saya masih bisa pakai Pertalite, cuma kan antreannya selalu panjang makanya kemarin‑kemarin saya pakai Pertamax. Eh sekarang Pertamaxnya naik hampir Rp4 ribu per liter, ya engap‑engapan kita pastinya,” kata Saut.

Ia khawatir kenaikan BBM akan mengerek harga kebutuhan lain, terutama sembako. “Pasti, tunggu saja sebentar lagi harga sembako pasti naik karena BBM naik. Sebagai kelas pekerja menengah ke bawah, pastinya akan terbebani, semakin tergencet kondisi rakyat,” pungkasnya.

Perubahan harga BBM ini menimbulkan ketidakpastian bagi banyak warga. Mereka berusaha menyesuaikan pola konsumsi, beralih ke BBM yang lebih murah, atau mempertimbangkan kendaraan listrik. Dampak kenaikan harga tidak hanya terasa di mesin kendaraan, tetapi juga merembet ke kebutuhan sehari‑harinya, menambah beban ekonomi bagi keluarga yang sudah berjuang.

Kenaikan harga BBMPertamaxPertaliteBandungmotor listrikbeban ekonomiBBM non‑subsidi

Komentar

Memuat komentar...