BBM Non-Subsidi Bandung Naik, Beban Kelas Menengah Tertambah
Gambar atau konten salah?
Harga bahan bakar non‑subsidi di Bandung naik drastis. Pertamax (RON 92) yang dulu dijual Rp12.300 per liter kini menjadi Rp16.250, sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp19.000 per liter. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran bagi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
“Beban masyarakat sekarang ini luar biasa. Memang BBM bersubsidi itu tidak naik, tetapi kita juga tahu banyak di antara kita yang tidak diperbolehkan menggunakan BBM bersubsidi,” ujar Farhan pada 11 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga akan menambah beban bagi kelas menengah yang menjadi kelas pekerja dan kelas paling produktif di kota ini.
Farhan menambahkan, “Nah, maka bebannya kan artinya makin naik, terutama untuk beban kelas menengah yang merupakan kelas pekerja, kelas paling produktif di Kota Bandung ini.” Kelas pekerja tidak menerima stimulus pemerintah, sehingga kenaikan BBM langsung memengaruhi pengeluaran mereka.
Untuk mengatasi dampak tersebut, Farhan berencana turun langsung memeriksa stok pangan. Ia menargetkan beras sebagai komoditas utama, khususnya beras jenis premium dan beras khusus. Permintaan kebutuhan pokok di Bandung melonjak setelah libur panjang beberapa waktu lalu.
Farhan menjelaskan, “Jadi memang tinggi sekali tingkat permintaan Kota Bandung. Dengan tingginya tingkat permintaan Kota Bandung maka harus diimbangi dengan suplai yang cukup. Kita sekarang akan menekan dan melakukan operasi pasar, menyalurkan berbagai macam bantuan, terutama bantuan pangan.” Operasi pasar ini bertujuan menstabilkan harga dan memastikan pasokan tetap terjaga.
Di sisi lain, Farhan juga fokus pada efisiensi anggaran. Ia akan meninjau beberapa mata anggaran dan memutuskan alokasi ulang dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Ia menegaskan, “Nah ini evaluasi nih. Kita kan mau RKPD, kita akan lihat nanti apa saja yang bisa kita realokasi untuk memastikan bahwa anggaran yang kita punya ini betul‑betul dimanfaatkan untuk meringankan beban masyarakat.”
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah kota berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan energi dan stabilitas harga pangan, sekaligus menjaga kesejahteraan pekerja kelas menengah di tengah kenaikan biaya hidup.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
