Kereta Cepat Whoosh, KAI Tanggung Beban Rp5 Triliun

Ani R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kereta Cepat Whoosh, KAI Tanggung Beban Rp5 Triliun

Gambar atau konten salah?

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menanggung beban keuangan dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang dikenal dengan nama Whoosh. Proyek ini dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). Dalam laporan keuangan KAI, terlihat bahwa Pilar Sinergi BUMN Indonesia masih mencatatkan kerugian hingga Rp 5,13 triliun. Lebih dari itu, total liabilitas yang dimiliki Pilar Sinergi BUMN Indonesia mencapai Rp 21,54 triliun, sementara total asetnya hanya Rp 21,52 triliun. Artinya, utang perusahaan lebih besar daripada kekayaan yang dimiliki.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengakui bahwa mereka sedang berusaha menyelesaikan berbagai masalah keuangan di sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, Danantara juga menghadapi keterbatasan tenaga untuk menangani semua persoalan ini sekaligus.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat, 31 Juli 2026.

Dony menjelaskan bahwa Danantara saat ini sedang menangani masalah keuangan PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP). Ia meminta publik untuk bersabar karena Danantara memiliki tenaga yang terbatas.

"Itu masih satu-satu diberesin, itu kan peninggalan-peninggalan yang harus dibereskan pada dasarnya. Jadi sabar, satu-satu saya juga punya keterbatasan energi," terang Dony.

Sementara itu, kinerja keuangan KAI sendiri mengalami penurunan hingga semester I-2026. Meskipun pendapatan perusahaan naik, laba bersih yang diperoleh justru turun drastis. Total pendapatan KAI meningkat menjadi Rp 17,95 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini naik 6,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16,84 triliun.

Laba usaha KAI tercatat sebesar Rp 4,66 triliun, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,70 triliun. Namun, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KAI justru turun 74,12% menjadi Rp 305,37 miliar di semester I-2026. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya laba tersebut mencapai Rp 1,17 triliun.

Hingga Juni 2026, KAI mencatatkan total aset sebesar Rp 104,79 triliun. Sementara itu, liabilitas perusahaan mencapai Rp 65,10 triliun dan ekuitas tercatat sebesar Rp 39,68 triliun.

Kondisi keuangan yang rumit ini menunjukkan bahwa beban proyek besar seperti KCJB masih membayangi kinerja KAI. Danantara, sebagai badan pengelola investasi, harus bekerja secara bertahap untuk membereskan masalah-masalah yang sudah ada sebelumnya. Keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyelesaian ini.

Kereta Cepat Jakarta-BandungKAIKCICDanantaraBUMNkerugianliabilitas

Komentar

Memuat komentar...