KF-21 Korea: Pesawat Tempur Pertama, Tantangan Ekspor Global

Bima J. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
KF-21 Korea: Pesawat Tempur Pertama, Tantangan Ekspor Global

Gambar atau konten salah?

Pesawat tempur pertama yang diproduksi di Korea Selatan, KF-21, masih memiliki perjalanan panjang sebelum dapat bersaing secara global dengan produk Amerika Serikat, Eropa, dan China.

Di 01 Maret 2024, Korea Aerospace Industries resmi memperkenalkan unit produksi pertama KF-21 Boramae, menandai masuknya Korea ke kelompok kedelapan negara yang mampu mengembangkan pesawat tempur supersonik canggih. Indonesia juga turut berkontribusi dalam pembuatan jet ini.

Peluncuran ini menandai dimulainya produksi massal jet tempur generasi 4,5 tersebut, dengan tahap awal 40 unit Block I untuk Angkatan Udara Korea Selatan pada 2028.

Menurut Bence Nemeth, dosen studi pertahanan di King's College London, KF-21 bisa kompetitif untuk ekspor tapi sudah cukup terlambat dan persaingannya ketat.

Nemeth menilai keunggulan Korea kemungkinan terletak pada biaya, kualitas, kecepatan pengiriman, dan kemauan menawarkan kerja sama industri. “Karenanya, KF-21 butuh pemasaran agresif dan jaminan keberlanjutan jangka panjang yang kredibel.”

Nemeth juga menambahkan bahwa pengadaan jet tempur terkait politik dan keandalan rantai pasokan di masa perang. “Versi siluman lebih canggih dari KF-21 dapat bersaing lebih langsung dengan pesawat generasi kelima, tapi itu tetap bergantung pada peningkatan di masa depan, pemasaran, dan hubungan politik Seoul dengan pasar potensial,” sebutnya.

Korea berusaha meningkatkan ekspor KF-21 guna menekan biaya per unit dan berpotensi bersaing dengan pesawat sekelas generasi 4,5 lainnya dari China, AS, dan Eropa. Negara lain di kelompok elit tersebut adalah Rusia, Prancis, Swedia, India, dan Jepang.

Indonesia dilaporkan mempertimbangkan membeli 16 pesawat Block II. Di 01 April 2024 Seoul setuju mengirim pesawat purwarupa ke Indonesia. Namun Jakarta sempat meminta pengurangan finansial. Tahun lalu, kedua negara sepakat membagi biaya yang direvisi, menurunkan kontribusi Jakarta dari 1,5 triliun won menjadi 600 miliar won. Ini mengalihkan beban finansial ke Seoul dan berpotensi meningkatkan biaya per unit.

Peneliti dari Centre for Foreign Policy and National Security menyebut sejumlah negara akan tertarik mengoperasikan KF-21 karena pertimbangan efektivitas biaya, tapi kurangnya rekam jejak tempur menjadi batasan. “Pada dasarnya, kinerjanya belum 100 persen. Pesawat ini harus mencapai Block II terlebih dahulu, dimulai dengan kemampuan serangan darat, agar fungsi-fungsi ini terintegrasi pada tingkat tertentu sebelum dapat dievaluasi sebagai pesawat yang mampu melakukan operasi skala penuh,” ujarnya.

Pengembangan KF-21 dinilai belum sepenuhnya selesai dan masih lama sebelum bisa disejajarkan dengan pesawat generasi 4,5 lainnya seperti J-10C buatan China dan Rafale buatan Prancis. Pertama kali diumumkan tahun 2001 dan resmi diluncurkan sebagai proyek pengembangan di 2015, unit seri pertama KF-21 ini menandai puncak upaya seperempat abad Seoul untuk menghadirkan jet tempur domestik. Jet ini dijadwalkan menggantikan armada F-4 dan F-5 Angkatan Udara Republik Korea.

Pesawat Block I berfokus pada misi superioritas udara, dilengkapi rudal udara ke udara Meteor dan rudal IRIS-T jarak pendek. Pembaruan pada Block II kemungkinan menampilkan kemampuan misi udara ke darat dan udara ke kapal secara penuh, dengan target penyelesaian awal tahun depan. Block III diproyeksikan memasuki model generasi kelima dengan kemampuan siluman penuh. Versi ini juga berpotensi menambahkan fitur generasi keenam seperti drone pendamping (wingmen) yang terbang di sampingnya. Versi ini dijadwalkan rampung di 2030-an.

Secara keseluruhan, KF-21 masih berada di tahap awal, menghadapi persaingan ketat, dan memerlukan bukti rekam jejak tempur yang kuat. Keterlibatan Indonesia, strategi ekspor, dan kebutuhan akan jaminan keberlanjutan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan jet tempur ini.

KF-21Korea SelatanIndonesiaeksporbiayakecepatan pengirimankerja sama industri

Komentar

Memuat komentar...