Konflik Timur Tengah Naikkan Harga Plastik, Bekal Meningkat
Gambar atau konten salah?
Jakarta, Perang antara AS dan Israel melawan Iran di Timur Tengah memicu lonjakan biaya logistik dan energi global. Dampaknya, harga produk dan bahan baku plastik ikut naik, berpotensi menaikkan harga makanan dan minuman dalam kemasan.
Melansir CNN, Rabu, 01 April 2026, sejak konflik dimulai, harga minyak mentah melonjak dari kisaran US$ 67 per barel menjadi di atas US$ 98, bahkan sempat menembus US$ 100 per barel. Sementara itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa naik lebih dari 60% dalam periode yang sama.
Produk plastik sebagian besar berasal dari pengolahan minyak bumi, termasuk polietilen (PE) dan polipropilen (PP), dua jenis plastik paling banyak dipakai di dunia. Kenaikan harga minyak berarti biaya produksi plastik dan harga bahan bakunya naik.
Kawasan Timur Tengah adalah pemasok utama bahan baku plastik global. Data S&P Global Energy menunjukkan kawasan ini menyumbang sekitar 25% ekspor polietilen dan polipropilen dunia. Konflik mengganggu rantai pasok produk turunan minyak bumi tersebut, menimbulkan ketidakpastian pasokan.
“sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut,” kata Harrison Jacoby, Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, kepada CNN.
Plastik menjadi bahan baku penting di banyak industri, mulai dari produksi barang hingga proses pengemasan. Banyak sektor yang bergantung pada plastik, termasuk makanan, minuman, dan produk rumah tangga.
“Akibatnya, produk-produk seperti peralatan makan sekali pakai, minuman dalam botol, dan kantong sampah bisa menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang,” kata Patrick Penfield, profesor praktik rantai pasok di Universitas Syracuse.
Menurut Penfield, kenaikan biaya pengemasan dapat mendorong harga makanan naik dalam dua hingga empat bulan ke depan. Hal ini terjadi karena perusahaan mulai kehabisan stok plastik yang dimiliki sebelum perang pecah di Timur Tengah.
“Perusahaan pengemasan cenderung menyesuaikan desain yang sudah ada, menggunakan plastik yang lebih tipis, atau membuatnya lebih murah,” jelas Penfield.
Produk yang sebagian besar berbahan plastik, seperti kantong sampah, berpotensi mengalami kenaikan harga lebih tajam dibandingkan barang yang lebih kompleks seperti mobil, di mana plastik hanya menjadi salah satu dari banyak komponen.
Dampak ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga rantai pasok plastik yang mendukung industri konsumen sehari-hari. Perubahan harga di sektor plastik dapat memicu kenaikan harga barang konsumen dalam jangka pendek, menambah tekanan pada konsumen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
