Laser Militer Timur Tengah: Pasokan China dan Israel Meningkat

Ningsih R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 101 dibaca
Bisik.id
Laser Militer Timur Tengah: Pasokan China dan Israel Meningkat

Gambar atau konten salah?

Di bandara Dubai, sebuah kendaraan dipasang dengan sistem laser yang tampak mirip dengan teknologi yang dikembangkan di China. Netizen yang teliti mengamati bahwa peralatan tersebut diyakini mampu menembak drone. Di Uni Emirat Arab, sistem laser Iron Beam yang dipinjam dari Israel sudah beroperasi, sementara negara tersebut juga berusaha membeli senjata laser buatan Amerika. Perjanjian antara UEA dan beberapa perusahaan Eropa serta AS bertujuan untuk mengembangkan persenjataan laser secara bersama.

Pada akhir 2025, sebuah perusahaan transportasi mengunggah foto peralatan militer yang dikirimnya. Foto tersebut secara tidak sengaja menyingkap bahwa Oman menjadi pembeli lain senjata laser China. Sementara itu, setelah serangan Israel ke ibu kotanya, Qatar menjajaki akuisisi sistem pertahanan udara Turki, Steel Dome, yang juga mencakup laser. Di Arab Saudi, militer menguji sistem senjata laser China. Beberapa pengamat mencatat bahwa Saudi membeli delapan unit Silent Hunter buatan China dan berencana membeli senjata laser AS.

Perang Iran telah mempercepat adopsi senjata laser dalam konflik nyata. Jared Keller, mantan reporter yang mengelola Laser Wars, menulis bahwa pada bulan April dan Mei, pengembangan senjata laser global mengalami percepatan dengan laju yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Militer AS pertama kali menembak jatuh drone dengan laser dalam pengujian tahun 1973, lalu terus mengembangkan teknologi tersebut. Senjata laser kini menjadi lebih kecil dan lebih efisien.

Laser termasuk dalam kelompok Senjata Energi Terarah atau Direct Energy Weapons (DEW). Terdapat laser berenergi tinggi yang memancarkan sinar untuk merusak atau membutakan target, serta senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang menghasilkan semburan gelombang mikro untuk menyebabkan malfungsi pada target. Maraknya drone membuat senjata laser menjadi alternatif pertahanan. "Maraknya peperangan drone memperumit perhitungan ekonomi dalam peperangan konvensional," jelas Keller. Menembak jatuh drone murah menggunakan rudal mahal tidaklah hemat biaya.

Menurut Deutsche Welle, produsen senjata laser mengklaim biaya setiap tembakan hanya USD 3 hingga USD 5. Perang Iran telah mengubah tingkat permintaan laser. "Negara mana pun yang menghadapi ancaman mendesak dari tetangga regionalnya pasti ingin mempercepat penggunaan sistem ini," kata Keller, menjelaskan mengapa laser semakin menjamur di negara Teluk.

Namun laser bukanlah solusi ajaib. Keller berpendapat bahwa senjata ini akan memberikan manfaat maksimal bila dipadukan dengan sistem pertahanan udara berlapis yang lebih besar. Beberapa kekurangannya meliputi: sinar laser bergerak dalam garis lurus, hanya dapat digunakan pada jarak tertentu (Iron Beam hanya menjangkau jarak 10 kilometer pada satu waktu) dan harus menahan target selama jangka waktu tertentu. Waktu diam ini bisa menjadi tantangan jika target adalah drone cepat. Pencahayaan laser juga dapat terganggu kelembapan, hujan, kabut, salju, pasir, debu, atau air laut. Suhu di Timur Tengah dapat merusak komponen sensitif dan membuat pengoperasiannya jadi sulit, karena lebih banyak energi diperlukan untuk pendinginan. Saudi dilaporkan mengeluhkan beberapa masalah ini saat menguji laser buatan China.

Iron Beam belum digunakan secara penuh dalam perang Iran. Sebuah versi memang menjatuhkan drone Hizbullah, namun menurut Jerusalem Post, militer Israel menyatakan perlu setidaknya 14 baterai tambahan agar efektif. Itulah sebabnya pengiriman laser Iron Beam ke UEA mungkin lebih merupakan manuver diplomatik.

Andreas Krieg, dosen School of Security Studies di King's College London, menyatakan bahwa membeli persenjataan laser dari berbagai sumber adalah cara bagi negara Teluk untuk mendiversifikasi pertahanan. "Ketergantungan berlebihan pada AS tak membuahkan hasil. Dalam jangka menengah hingga panjang, negara Teluk harus menemukan cara untuk meningkatkan kemandirian," cetusnya.

Secara keseluruhan, perkembangan senjata laser di Timur Tengah menunjukkan upaya negara-negara di wilayah tersebut untuk memperkuat pertahanan udara mereka. Dengan menggabungkan teknologi laser dari berbagai negara, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan ancaman drone yang semakin marak. Meski masih ada keterbatasan teknis dan operasional, investasi ini mencerminkan dorongan kuat untuk meningkatkan kemandirian pertahanan di kawasan yang terus berubah.

senjata laserdroneUni Emirat ArabIsraelChinaIron Beamperang Iran

Komentar

Memuat komentar...