LCI Turunkan Kapasitas 60% Karena Gangguan Pasokan Nafta
Gambar atau konten salah?
Perang antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan gangguan pada rantai pasok bahan baku bagi industri petrokimia di Indonesia. Dampaknya terasa di pabrik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) yang berlokasi di Cilegon, Banten.
LCI memutuskan menurunkan kapasitas operasionalnya. Keputusan ini diambil karena ketersediaan bahan baku, khususnya biji plastik (nafta), yang kini terhambat. Pabrik yang biasanya beroperasi penuh kini harus menyesuaikan diri.
Lee Dae Lo, Corporate Planning General Manager LCI, mengakui bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mengganggu stabilitas operasional. Ia berkata, “Akibat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, operasional pabrik kami di Cilegon yang biasanya stabil kini terganggu. Saat ini, kami mengalami kekurangan bahan baku yang sangat parah, terutama nafta dan LPG,” di Jakarta, 14 April 2026.
Untuk mengatasi sulitnya pasokan, LCI memutuskan mengoperasikan pabrik pada tingkat minimal. Lee menjelaskan, “Kami mengoperasikan pabrik dengan kapasitas minimal, katakanlah di level 60%. Kami tetap berupaya menjaga operasional demi mendukung industri hilir di Indonesia.”
Sebelum konflik memanas, hampir 100% bahan baku LCI dipasok dari kawasan Timur Tengah. Kini, perusahaan mencari alternatif pasokan, mengimpor bahan baku dari Singapura, Malaysia, hingga Afrika, termasuk Nigeria. Lee menambahkan, “Sebelum perang, hampir 100% bahan baku kami berasal dari Timur Tengah. Namun sekarang, kami mengimpor dari Singapura, Malaysia, bahkan Afrika, seperti Nigeria.”
Keputusan LCI menurunkan kapasitas menegaskan bahwa industri petrokimia di Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan internasional. Perubahan ini menandai upaya perusahaan untuk tetap memenuhi kebutuhan industri domestik meski menghadapi ketidakpastian global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
