LPG 3 kg Hampir Habis, Harga Naik Rp30.000 di Toraja
Gambar atau konten salah?
Tana Toraja, Sulawesi Selatan – Warga di Kabupaten Tana Toraja melaporkan bahwa tabung LPG berukuran 3 kilogram (kg) sulit ditemukan dalam satu minggu terakhir. Kondisi ini membuat harga tabung naik hingga Rp 30.000 per unit di pangkalan.
Anton, seorang warga Makale berusia 28 tahun, mengungkapkan ketidaknyamanannya: “Susah didapat sekarang (LPG 3 kg). Kami ke pangkalan yang katanya Rp 20.000, ternyata mahal juga, Rp 30.000 per tabung di pangkalan Munia Bumbungan.” Ia menambahkan bahwa kelangkaan ini sudah berlangsung selama satu minggu dan ia tidak mengetahui penyebab pasti. “Minggu lalu saya cari sama istriku di beberapa tempat tapi kosong semua. Di tempat ke‑5 baru ada, tapi mahal. Tidak tahu kenapa langka padahal tidak ada pemakaian banyak di Toraja, belum pi musim pesta (upacara adat) ini,” ujarnya.
Jeni, mahasiswa berusia 23 tahun, juga merasakan kesulitan serupa. Ia mengatakan, “Iya, langka dan mahal. Waktu gas di kos saya habis, saya pergi cari sama teman sekitar Makale tapi kami dapat di Kasimpo. Kita incar pangkalan karena kemungkinan ada gas di situ. Kami dikasih Rp 26.000 satu tabung.”
Mulian Pratama, Sales Branch Manager Pertamina Sulsel, menjelaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan untuk wilayah Makale berada di zona 1, yaitu Rp 20.500 per tabung di pangkalan. “Oleh karena itu, pihaknya akan memberi sanksi pangkalan maupun agen yang menjual di atas HET,” kata Mulian. Ia menegaskan, “Mau agen atau pangkalan kalau melanggar pasti saya sanksi tegas. HET itu sudah ditentukan jadi mudah aja kedapatan kalau agen atau pangkalan nakal, salah satunya cek HET‑nya.”
Mulian belum merinci jenis sanksi yang akan diterapkan, namun ia menyebutkan bahwa sanksi dapat berupa SP 1, SP 2, atau bahkan pemutusan hubungan kerja, tergantung tingkat pelanggaran. Ia juga mengatakan akan menelusuri pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terlebih dahulu dan sudah menghubungi agen mitra pangkalan terkait.
Situasi ini menunjukkan ketegangan antara permintaan konsumen dan kebijakan harga resmi. Harga yang melonjak di pangkalan menimbulkan keresahan di kalangan warga, sementara pihak Pertamina menegaskan komitmennya untuk menegakkan HET dan menindak tegas pelanggaran. Keputusan selanjutnya akan memengaruhi ketersediaan LPG di daerah ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
