Mahasiswa UTB Temukan Celah Keamanan AI, Raup Rp66 Juta

Rini S. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Mahasiswa UTB Temukan Celah Keamanan AI, Raup Rp66 Juta

Gambar atau konten salah?

Seorang mahasiswa asal Indonesia berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional. Namanya Muhamad Arga Reksapati, mahasiswa Universitas Teknologi Bandung (UTB). Ia menemukan celah keamanan pada sistem kecerdasan buatan milik perusahaan global, Anthropic.

Temuan Arga berfokus pada sistem Claude AI. Bukan sekadar laporan biasa, celah yang ia temukan dianggap serius. Setelah melalui proses verifikasi, laporan Arga mendapat nilai keparahan High dengan skor 7,7. Perusahaan lantas memberikan apresiasi melalui program bug bounty senilai USD 3.700. Jika dikonversi, jumlah itu sekitar Rp 66 juta (dengan kurs Rp 17.985).

Arga melaporkan temuannya lewat platform HackerOne, sebuah mekanisme resmi untuk melaporkan kerentanan sistem. Ia tidak asal melapor. Sebelum mengirimkan laporan, ia melakukan verifikasi teknis secara mandiri. Tujuannya untuk memastikan celah tersebut benar-benar bisa direproduksi, memiliki alur yang jelas, dan berdampak nyata pada keamanan.

"Saya terlebih dahulu melakukan verifikasi teknis untuk memastikan bahwa celah tersebut benar-benar dapat direproduksi, memiliki alur yang jelas, dan memberikan dampak keamanan yang nyata," ujar Arga, seperti dikutip dari laman Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Selasa, 07 Juli 2026.

Setelah verifikasi selesai, ia menyusun laporan teknis. Laporan itu berisi ringkasan temuan, dampak keamanan, langkah reproduksi yang aman, dan bukti pendukung lainnya. Semua proses riset ini dilakukan secara etis, terukur, dan bertanggung jawab. Arga menekankan pentingnya kontribusi nyata terhadap keamanan teknologi global.

Ketertarikan Arga pada keamanan AI tidak muncul tiba-tiba. Semua berawal dari rasa ingin tahu. Ia penasaran bagaimana sistem memproses konteks, masukan, dan data pendukung dalam alur kerja pengembangan perangkat lunak. Dari situ, ia mulai melakukan analisis keamanan secara mandiri. Puncaknya, ia menemukan kerentanan pada Claude AI dan menindaklanjutinya.

Prestasi ini tidak lepas dari dukungan beasiswa. Arga adalah salah satu penerima KIP Kuliah dari Kemdiktisaintek. Beasiswa ini memberinya kesempatan untuk berkuliah dan fokus mengembangkan kemampuan tanpa terbebani biaya pendidikan.

"KIP Kuliah memberikan kesempatan bagi saya untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan lebih fokus dalam mengembangkan kemampuan tanpa terlalu terbebani oleh kendala biaya pendidikan," ungkapnya.

Beban biaya yang berkurang membuatnya leluasa menekuni bidang yang ia sukai, termasuk keamanan siber dan AI. "Bagi saya, KIP Kuliah adalah amanah dan kesempatan besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya," kata Arga.

Sebelum temuan di Anthropic, Arga sudah malang melintang di dunia keamanan siber. Ia pernah melaporkan sejumlah kerentanan pada proyek open-source curl/libcurl. Proyek ini digunakan secara luas dan global. Temuannya bahkan mendapat identitas Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) dan tercatat dalam National Vulnerability Database (NVD). Namanya tercantum dalam security advisory resmi curl pada bagian Credits/Reported-by sebagai pelapor kerentanan. Salah satu temuannya juga pernah diliput oleh media teknologi di Swedia.

Arga punya pesan untuk rekan-rekan penerima KIP Kuliah lainnya. Ia mendorong mereka untuk memanfaatkan kesempatan belajar, berani mencoba, aktif mencari pengalaman, dan terus meningkatkan kemampuan.

"Prestasi tidak selalu datang dari fasilitas yang sempurna, tetapi dari kemauan untuk terus belajar, konsisten, dan berani berkontribusi. Saya berharap semakin banyak penerima KIP Kuliah yang mampu membuktikan bahwa mereka dapat berprestasi dan memberikan manfaat bagi Indonesia," pesannya.

Kisah Arga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Temuannya di sistem keamanan AI membuktikan bahwa riset keamanan siber yang dilakukan secara etis dan bertanggung jawab bisa memberikan dampak nyata. Dukungan dari program beasiswa seperti KIP Kuliah menjadi salah satu faktor yang memungkinkan mahasiswa untuk fokus mengembangkan potensi mereka tanpa terbebani masalah biaya.

mahasiswa Indonesiacelah keamanankecerdasan buatanAnthropicClaude AIbug bountyKIP Kuliah

Komentar

Memuat komentar...