Mahmoud Alagha: Pelajar Palestina Dapat Beasiswa UNJ
Gambar atau konten salah?
Mahmoud Ghassan Abdallah Alagha berasal dari Palestina, tempat yang masih terdampak konflik. Meskipun gempuran Israel terus berlangsung, ia tetap melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Perjalanan Mahmoud dimulai ketika Kedutaan Besar Palestina mengajukan tawaran kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Rektor UNJ menyambutnya dengan hangat, menyediakan beasiswa penuh dan asrama selama masa studi.
Selain beasiswa UNJ, Mahmoud juga menerima bantuan dari Rumah Amal Salman, yang mendukung kebutuhan sehari-harinya. Dengan dua sumber dana ini, ia dapat fokus pada akademik tanpa khawatir biaya hidup.
“Bantuan beasiswa yang diberikan UNJ ini sangat berarti buat saya. Saya memiliki harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik bagi saya dan keluarga saya serta di balik perang yang tak kunjung reda di negara saya,” kata Mahmoud, dikutip dari laman UNJ, Sabtu, 18 April 2026.
Di masa lalu, keluarga Mahmoud cukup stabil secara ekonomi karena orang tua adalah pengusaha. Namun, serangan militer mengubah situasi, memaksa keluarga menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
“Orang tua saya sebelumnya adalah pengusaha, namun perang merengut keluarga saya dan membawa saya ke UNJ,” kata Mahmoud.
Menyesuaikan diri di Jakarta bukanlah hal mudah. Ia harus menyeimbangkan rasa duka atas nasib negaranya dengan tekad belajar. Meski begitu, beasiswa memudahkan perjalanan akademiknya.
Mahmoud menempuh program Magister Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ. Di kelas, ia dikenal sebagai mahasiswa yang gigih, mampu menyelesaikan studi tepat waktu.
“Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan UNJ, Rumah Amal, dan seluruh rakyat Indonesia. Gelar ini bukan hanya milik saya, tapi juga untuk keluarga saya di Palestina dan untuk Indonesia yang telah menjadi rumah kedua,” kata Mahmoud dengan penuh emosi.
Keberhasilan Mahmoud menyoroti bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan bagi pelajar dari wilayah konflik. Dukungan lembaga seperti UNJ dan Rumah Amal Salman menunjukkan pentingnya akses pendidikan bagi mereka yang terdampak perang, sekaligus mempererat hubungan internasional melalui solidaritas akademik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
