Makanan Olahan, Goreng, dan Alkohol Tingkatkan Risiko Kanker

Guntur P. · 2 min baca · 10 hari lalu · 40 dibaca
Bisik.id
Makanan Olahan, Goreng, dan Alkohol Tingkatkan Risiko Kanker

Gambar atau konten salah?

Cancer merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker adalah pola makan. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis makanan dapat meningkatkan risiko terkena kanker tertentu.

Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), menekankan pentingnya memahami faktor risiko agar kanker dapat dicegah. Ia mengatakan, "95 faktor persen risiko kanker itu dari lingkungan, gaya hidup, kebiasaan, maupun hal-hal yang masuk dalam tubuh atau kita hirup," kata Prof Aru kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Berikut adalah daftar makanan yang dapat meningkatkan risiko kanker, berdasarkan tinjauan dari Healthline dan beberapa studi ilmiah:

  • Daging Olahan – Semua daging yang diawetkan dengan cara diasap, diasinkan, atau dikalengkan. Sebagian besar daging olahan merupakan daging merah. Contoh:
  • Sosis
  • Kornet sapi
  • Ham
  • Hot dog

Metode pengawetan daging dengan nitrit dapat membentuk senyawa N‑nitroso, yang bersifat karsinogenik. Pengasapan daging dapat menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH), juga karsinogenik. Sebuah ulasan tahun 2019 menyebut bahwa daging merah atau olahan dapat meningkatkan risiko kanker lambung, meskipun masih diperlukan studi lebih lanjut.

Ketika makanan bertepung dimasak pada suhu tinggi, terbentuk acrilamida. Senyawa ini muncul selama proses menggoreng, memanggang, atau membakar. Kentang goreng dan keripik kentang adalah contoh produk yang mengandung acrilamida. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa acrilamida bersifat karsinogenik. Studi tahun 2020 menyatakan bahwa acrilamida merusak DNA dan memicu apoptosis, atau kematian sel. Konsumsi berlebihan makanan digoreng juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas, yang selanjutnya dapat memicu stres oksidatif dan peradangan, faktor risiko kanker.

Memasak makanan terlalu lama, terutama daging, dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines (HCA), dua zat karsinogenik. Zat-zat ini dapat mengubah DNA sel tubuh, meningkatkan risiko kanker. Food and Drug Administration (FDA) juga menyatakan bahwa memasak makanan bertepung, seperti kentang, terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan acrilamida. Untuk mengurangi risiko, gunakan metode memasak berikut:

  1. Merebus perlahan (poaching)
  2. Memasak dengan panci presto
  3. Memanggang atau membakar dengan suhu lebih rendah
  4. Memasak perlahan dengan slow cooker

Karbohidrat olahan dan makanan manis juga dapat meningkatkan risiko kanker secara tidak langsung. Makanan seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis mengandung gula dan pati tinggi, yang dapat memicu diabetes tipe 2 dan obesitas. Kedua kondisi ini dapat memicu peradangan dan stres oksidatif, meningkatkan risiko kanker tertentu. Sebuah tinjauan tahun 2019 menunjukkan bahwa diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium (rahim). Untuk mengurangi risiko, ganti dengan:

  • Roti gandum utuh
  • Pasta gandum utuh
  • Beras merah

Alkohol juga berkontribusi pada risiko kanker. Saat dikonsumsi, hati memecah alkohol menjadi asetaldehida, senyawa karsinogenik. Tinjauan tahun 2017 menunjukkan bahwa asetaldehida meningkatkan kerusakan DNA dan stres oksidatif, serta mengganggu fungsi kekebalan tubuh, sehingga tubuh kesulitan menargetkan sel prakanker dan kanker.

Kesimpulannya, pola makan memainkan peran penting dalam risiko kanker. Mengurangi konsumsi daging olahan, makanan digoreng, makanan yang terlalu matang, karbohidrat olahan, dan alkohol dapat menurunkan risiko. Mengganti dengan alternatif sehat seperti daging tanpa pengawetan, metode memasak rendah suhu, dan karbohidrat utuh juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh.

kankerpola makandaging olahanacrilamidaalkoholdiabetes tipe 2karbohidrat olahan

Komentar

Memuat komentar...