Malaysia Thailand Izin Transit Selat Hormuz Minyak Lintas
Gambar atau konten salah?
Selat Hormuz menjadi jalur utama bagi perdagangan minyak global. Pada 28 Maret 2026, dua negara tetangga Indonesia—Malaysia dan Thailand—mendapat persetujuan Iran untuk menyeberangi selat tersebut.
Di sisi Malaysia, tujuh kapal tanker yang dimiliki oleh Petronas dan Sapura Energy masih menunggu kesempatan aman untuk melanjutkan perjalanan. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu izin resmi. “Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan saya telah menghubungi rekan-rekan kami, dan mereka mengkonfirmasi bahwa tidak ada masalah bagi kapal-kapal kami untuk melanjutkan perjalanan. Namun, kapal tanker harus menunggu giliran mereka,” ujarnya.
Hasan juga menambahkan, “Kami ingin memastikan semua kapal dapat melewati dengan aman, karena situasi di Selat Hormuz sangat tegang, dengan lalu lintas kapal yang padat yang mencoba keluar. Komunikasi yang buruk dapat menyebabkan insiden yang tidak diinginkan.”
Di sisi Thailand, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengumumkan bahwa negara tersebut juga telah memperoleh restu Iran. Ia menegaskan bahwa kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz. “Kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz,” kata Anutin.
Ia menambahkan, “Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang.”
Selat Hormuz, yang terletak di perbatasan antara Oman dan Iran, memainkan peran penting dalam aliran minyak dunia. Sebelumnya, kapal tanker Thailand terjebak sejak meletusnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari.
Persetujuan ini mengurangi kekhawatiran atas gangguan impor bahan bakar minyak (BBM). Kedua negara kini dapat melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih tenang, meskipun masih harus menunggu giliran di jalur yang padat.
Dengan adanya persetujuan ini, diharapkan aliran perdagangan minyak melalui Selat Hormuz dapat berjalan lebih lancar, mengurangi risiko gangguan yang pernah terjadi pada awal Maret.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Setoran Negara Freeport Turun Jadi US$ 2,6 Miliar
Kemasan Rokok Seragam, Buruh dan Ilegal Jadi Sorotan
Smelter Freeport Gresik Beroperasi September 2026
Menkeu: Dana Mobil Kopdes Baru Cair Setelah Audit
DEN Temui Prabowo di Hambalang, Bahas Ekonomi dan GovTech
Harga Beras Tinggi, Bapanas Sebut Akar Masalah di Gabah Petani
Berita Terbaru
Alwi Farhan Target Cetak Kenangan di Japan Open 2026
Ancaman Bahasa Gaul: Mulok Palembang Terkikis
Dahnil: Kasus Haji dan Umrah Jadi Koreksi Revolusioner
BNPB Bentuk Forum Mitigasi 20 Tahun Tsunami Pangandaran
Logo HUT ke-458 Madiun: Simbol Kolaborasi dan Inovasi
Dua Arca Perunggu Abad ke-8 Kembali ke Indonesia
De la Fuente: Saya Pejuang, Tak Minta Hasil dalam Doa
Anderson Jadi Kunci Inggris Redam Messi
Tencent Cloud Rilis Dua Agen AI di Indonesia
