Maskapai EU Wajib Kompensasi Penumpang Karena Krisis Bahan Bakar
Gambar atau konten salah?
Maskapai penerbangan di Eropa tetap harus memberi kompensasi kepada penumpang bila penerbangan dibatalkan karena krisis bahan bakar. Komisaris Transportasi Uni Eropa, Apostolos Tzitzikostas, menegaskan bahwa kenaikan harga maupun kelangkaan bahan bakar jet tidak dapat dijadikan alasan untuk membebaskan maskapai dari kewajiban mengganti rugi penumpang sesuai aturan Uni Eropa.
“Harga bahan bakar jet menjadi alasan pembatalan penerbangan. Jika maskapai membatalkan penerbangan tanpa keadaan luar biasa, maka mereka tetap harus memberikan penggantian kepada penumpang,” ungkapnya. Pernyataan ini dilansir pada Sabtu, 09 Mei 2026.
Walaupun hukum Uni Eropa masih berlaku di Inggris setelah Brexit, Perdana Menteri Keir Starmer dikabarkan dapat mengambil kebijakan berbeda. Pekan lalu, Inggris dilaporkan melonggarkan sanksi bagi maskapai yang membatalkan penerbangan akibat kelangkaan bahan bakar. Beberapa maskapai, termasuk Lufthansa dan Aer Lingus, memangkas jadwal penerbangan di tengah lonjakan harga avtur.
Ryanair menegaskan tidak akan mengurangi jadwal penerbangan musim panas. Maskapai itu mengaku telah mengamankan kontrak bahan bakar sebelum perang Iran pecah. “Kami telah melakukan lindung nilai untuk 80 persen kebutuhan bahan bakar hingga Maret 2027 dengan harga USD 67 per barel, jauh di bawah harga pasar saat ini. Karena itu kami tidak berencana memangkas jadwal penerbangan musim panas,” kata juru bicara Ryanair.
Krisis bahan bakar muncul setelah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari. Situasi di Selat Hormuz mengganggu distribusi minyak dari Timur Tengah dan memicu lonjakan harga bahan bakar jet.
CEO AirAsia, Tony Fernandes, menyatakan kondisi tersebut bahkan lebih berat dibanding pandemi Covid‑19. “Saya pikir sudah pernah melewati masa tersulit saat Covid. Tetapi melihat harga bahan bakar jet naik hampir tiga kali lipat, ini jauh lebih buruk,” kata Fernandes. “Anda bangun di suatu pagi dan biaya terbesar perusahaan tiba‑tiba melonjak tiga kali lipat. Itu pengalaman baru bagi saya, padahal saya sudah melalui banyak hal dalam hidup,” tambahnya.
Meski industri penerbangan tertekan, AirAsia tetap melanjutkan ekspansi bisnisnya. Maskapai itu menandatangani kesepakatan senilai USD 19 miliar atau kira‑kira Rp 329,28 triliun untuk membeli 150 pesawat Airbus A220‑300 mulai 2028.
Dalam situasi harga bahan bakar yang tidak stabil, maskapai diharuskan tetap mematuhi regulasi Uni Eropa mengenai kompensasi. Kebijakan Inggris yang lebih longgar menambah ketidakpastian bagi perusahaan penerbangan. Di sisi lain, Ryanair menunjukkan strategi hedging yang kuat, sementara AirAsia menegaskan tekadnya untuk terus memperluas armada meski biaya operasional melonjak. Perubahan harga bahan bakar tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan maskapai dalam menyesuaikan jadwal dan layanan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
