Probiotik Manis: Gula Tinggi, Risiko Diabetes, Konsumen
Gambar atau konten salah?
Beberapa produk probiotik kini menjadi sorotan karena kandungan gula yang tinggi. Manfaat bakteri baik yang diklaim tidak selalu sebanding dengan risiko terkena diabetes jangka panjang.
Gula sering terlewat dalam perhitungan ketika produk dikatakan memiliki manfaat kesehatan. Konsumen biasanya tidak memikirkan, “tidak ada masalah, sedikit gula saja.” Namun, pada beberapa produk, kadar gula bahkan lebih tinggi daripada minuman bersoda biasa.
Di beberapa produk probiotik, gula dapat mencapai 15‑18 gram per 100 ml. Sebagai perbandingan, minuman soda reguler populer hanya mengandung 10 gram gula per 100 ml. Gula memang dibutuhkan untuk menjaga mikroorganisme tetap hidup selama fermentasi, tetapi dalam praktiknya, gula ditambahkan lebih banyak untuk menutupi rasa asam yang dihasilkan.
Berbagai varian “less sugar” kini tersedia. Kadar gula yang lebih rendah diklaim tetap memberikan manfaat bagi pencernaan. Jika dipikirkan, produk probiotik alami seperti tempe tidak memerlukan tambahan gula dan tetap memberi manfaat lewat aktivitas mikroorganismenya.
Ketika suatu produk diklaim memiliki manfaat kesehatan tertentu, sering kali gambaran nutrisi utuh diabaikan. Fenomena serupa terjadi pada produk “lebih sehat”, seperti varian “less sugar” yang kadang tidak memenuhi standar rendah gula. Kalau ukurannya BPOM itu kita masuknya ‘low sugar’, bukan ‘less sugar’. Kalau disebutkan ‘low sugar’ itu memang kandungan gulanya kurang, kalau ‘less sugar’ tergantung pembandingnya, kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dalam sebuah diskusi tentang hidden sugar.
Jika gula tidak dihitung secara akurat, asupan tinggi dapat menjadi faktor risiko penyakit metabolik. Konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, dr Dicky Levenus Tahapary, SpPD‑KEMD, menegaskan bahwa konsumsi minuman manis meningkatkan risiko diabetes. Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, konsumsi minuman‑minuman manis itu meningkatkan risiko diabetes, kata dr Dicky kepada detikcom, Kamis 11 Juni 2026.
Proses fermentasi dalam produk probiotik memang memerlukan gula. Namun, tidak semua gula dalam produk tersebut benar-benar dibutuhkan oleh bakteri. Beberapa ditambahkan untuk memperbaiki cita rasa, yang akhirnya menambah beban gula bagi konsumen.
Seiring meningkatnya kesadaran akan kandungan gula, produsen harus transparan mengenai jumlah gula yang ditambahkan. Konsumen juga perlu memeriksa label, membandingkan produk “low sugar” dengan “less sugar”, dan mempertimbangkan risiko kesehatan jangka panjang.
Kesimpulannya, manfaat bakteri probiotik tidak selalu menutupi risiko gula berlebih. Perhatian terhadap label dan pemahaman tentang perbedaan istilah gula dapat membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
