Minyak Dunia Turun 7% Setelah Trump Sinyal Dialog Iran

Endah K. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Minyak Dunia Turun 7% Setelah Trump Sinyal Dialog Iran

Gambar atau konten salah?

Harga minyak mentah global menurun tajam pada hari Senin setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi sinyal bahwa pembicaraan dengan Iran bisa mengakhiri konflik di Timur Tengah. Meski demikian, Iran menolak bahwa dialog tersebut benar‑benar berlangsung.

Brent, yang menjadi patokan harga minyak dunia, turun lebih dari 7% menjadi US$ 104 per barel. Sebelumnya, Brent bahkan pernah meroket lebih dari 13% dan menyentuh level di atas US$ 114 per barel. Sementara itu, WTI turun 6,9% menjadi US$ 91,4 per barel, setelah berada di kisaran US$ 100.

Walaupun harga menurun, masih lebih tinggi dibanding sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Pergerakan ini menandai ketidakpastian di pasar energi.

Pada 24 Maret 2026, Trump menyatakan bahwa dalam dua hari terakhir AS dan Iran telah melakukan pembicaraan “sangat baik” untuk mencapai penyelesaian penuh konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pembicaraan ini akan terus berlanjut sepanjang minggu ini. Trump juga mengumumkan penundaan semua rencana serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, tergantung hasil pembicaraan yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa tidak ada dialog dengan AS. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, mengutip Kementerian Luar Negeri, menilai klaim Trump sebagai upaya menekan harga energi sekaligus membeli waktu. Iran menolak setiap indikasi adanya perundingan.

Dua hari sebelumnya, Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan tersebut muncul hanya sehari setelah ia berbicara mengenai kemungkinan meredakan konflik. Perubahan sikap ini menciptakan ketegangan tambahan di pasar minyak.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas listrik mereka. Mereka menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup tanpa batas waktu. Pernyataan ini sempat mendorong harga minyak naik pada hari Minggu dan berlanjut hingga Senin, sebelum akhirnya berbalik turun.

IRGC menegaskan bahwa jika fasilitas listrik Iran diserang, pihaknya akan melakukan serangan balasan. Targetnya akan berupa infrastruktur energi dan komunikasi Israel, serta pembangkit listrik di negara-negara kawasan yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Pergerakan harga minyak mencerminkan ketidakpastian di pasar global. Ketegangan antara AS dan Iran, serta pernyataan berlawanan dari kedua belah pihak, tetap memengaruhi sentimen investor. Meski harga menurun, masih ada risiko volatilitas tinggi di pasar energi karena dinamika politik yang belum stabil.

BrentWTIIranTrumpSelat HormuzPasar EnergiKonflik Timur Tengah

Komentar

Memuat komentar...