Minyak Mentah Naik, Trump Kritik Usulan Iran Buka Selat Hormuz

Hendra M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 89 dibaca
Bisik.id
Minyak Mentah Naik, Trump Kritik Usulan Iran Buka Selat Hormuz

Gambar atau konten salah?

Harga minyak mentah kembali melonjak pada Selasa, 28 April 2026, setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap usulan Iran membuka Selat Hormuz.

Menurut data yang diambil dari CNBC, harga berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 3% menjadi US$ 100,11 per barel pada pukul 08.35 ET. Begitu pula harga Brent berjangka melonjak 3,2% menjadi US$ 111,67.

Trump sebelumnya diketahui mengaku tidak puas dengan proposal Iran untuk membuka selat dan mengakhiri konflik. Ia menyampaikan pendapat tersebut kepada para penasihatnya, namun tidak ada rincian lebih lanjut tentang ketidakpuasannya.

Iran sendiri telah mengajukan penawaran: membuka Selat Hormuz jika Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya. Selain itu, Teheran ingin menunda pembahasan program nuklirnya ke waktu yang akan datang.

Menanggapi usulan tersebut, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan skeptisisme. "Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur perairan internasional. Mereka tidak dapat menormalisasi, dan kita juga tidak dapat mentolerir upaya mereka untuk menormalisasi, sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan jalur perairan internasional dan berapa banyak yang harus Anda bayarkan kepada mereka untuk menggunakannya," kata Rubio dikutip dari CNBC, Selasa, 28 April 2026.

Penutupan Selat Hormuz mengganggu pengiriman sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah, bahan bakar, dan produk petrokimia. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai bahwa pemulihan kondisi pasar normal akan memakan waktu berbulan-bulan akibat konflik AS‑Iran.

Menurut Lipow, perairan Selat Hormuz harus disterilkan dari ranjau, mengurangi kemacetan kapal tanker, dan secara bertahap memulai kembali produksi serta penyulingan. Ia memperkirakan setidaknya empat hingga enam bulan diperlukan agar pasar minyak kembali normal, meski harga tetap tinggi selama periode tersebut. "Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama karena persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis. Jika konflik berakhir besok, harga minyak mentah diperkirakan akan turun $10 per barel," ungkap Lipow.

Tanpa adanya negosiasi baru, harga WTI diprediksi akan kembali naik ke US$ 100, sementara Brent diperkirakan melampaui US$ 110. Investor juga memantau OPEC setelah Uni Emirat Arab berencana keluar dari organisasi tersebut.

Pergerakan harga ini menegaskan sensitivitas pasar minyak terhadap dinamika geopolitik di Teluk. Ketegangan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi distribusi minyak dunia, tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga. Dengan potensi konflik yang berlanjut, pasar memperkirakan harga akan tetap berada di level tinggi hingga terjadi penyelesaian diplomatik atau perubahan kebijakan blokade.

Harga Minyak MentahSelat HormuzDonald TrumpIranWTIBrentOPECBlokade Angkatan Laut

Komentar

Memuat komentar...