Misbakhun: Rupiah Rp 17.800 Bukan Krisis 1998, Fenomena

Lia N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Misbakhun: Rupiah Rp 17.800 Bukan Krisis 1998, Fenomena

Gambar atau konten salah?

Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan pandangannya tentang nilai tukar rupiah pada acara Jogja Financial Festival yang berlangsung pada 23 Mei 2026.

"Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiaj Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari angka berapa? Berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda,"

Misbakhun menjelaskan bahwa posisi nilai tukar rupiah saat ini berada di kisaran Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat, namun rupiah kini melemah menjadi Rp 17.717 per dolar AS, atau Rp 17.717 terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Ia menekankan bahwa pergerakan ini tidak sama dengan krisis tahun 1998.

Selama krisis 1998, rupiah bergerak dari Rp 2.400 ke Rp 17.600. Misbakhun menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia sekarang jauh lebih baik dibanding masa krisis.

"Sekarang juga yang sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh,"

"Kita berhadapan kepada sebuah situasi antara fundamental versus sentimen, realitas melawan media sosial,"

Misbakhun menambahkan bahwa Indonesia masuk dalam jajaran negara G20 dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Neraca perdagangan juga mencatat surplus selama 71 bulan. Ia menegaskan bahwa krisis 1998 dipengaruhi oleh bubble ekonomi, banyak lembaga jasa keuangan bangkrut, dan sebagian pihak meraup keuntungan windfall dari selisih kurs.

Perubahan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi oleh algoritma media sosial, namun struktur ekonomi yang kuat menandakan bahwa nilai tukar tidak otomatis menandakan krisis. Perbedaan sentimen publik dan realitas ekonomi menjadi kunci dalam menilai kondisi keuangan negara. Hal ini menyoroti pentingnya pemahaman realitas ekonomi di tengah arus informasi.

Nilai tukar rupiahKrisis 1998Jogja Financial FestivalG20Surplus perdaganganAlgoritma media sosialPertumbuhan ekonomi

Komentar

Memuat komentar...