MoU 40 Triliun: Kementan-BRIN Optimalkan Riset Pertanian

Andi B. · 3 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
MoU 40 Triliun: Kementan-BRIN Optimalkan Riset Pertanian

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Pada hari Selasa, 09 Juni 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). MoU tersebut menandai awal kerja sama yang lebih luas antara kementerian dan lembaga riset nasional untuk meningkatkan produksi sektor pertanian dan perkebunan di seluruh Indonesia.

“Hari ini kita tanda tangan MoU (dengan BRIN), kita kolaborasi, yang pertama seluruh lab, kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia,” kata Menteri Pertanian dalam konferensi pers di kantor pusatnya di Jakarta Selatan.

Amran menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 40 triliun untuk mendorong riset dan proses pembinaan petani. Anggaran tersebut akan dialokasikan untuk berbagai program yang melibatkan petani di seluruh wilayah, mulai dari uji coba di lahan kecil hingga skala besar. “Jadi anggaran kita besar, total anggaran kita kan kurang lebih Rp 40 triliun, besar sekali. Nah ini nanti sambil membina petani. Jadi bukan percobaan satu hektare dua hektare, ini 10.000 (hektare), 5.000 (hektare) kita awasi bersama, 2.000 hektare seperti itu,” ujarnya.

Riset dan pembinaan petani ini akan difokuskan pada komoditas pangan strategis nasional. Amran menyoroti beberapa contoh komoditas, seperti bawang putih, kedelai, tebu, kakao, dan kopi. Ia menambahkan bahwa padi sudah selesai dan jagung sudah swasembada untuk pakan ternak, sehingga perhatian selanjutnya akan diarahkan pada kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan komoditas lain yang memiliki permintaan tinggi di pasar global.

“Pertama, padi sudah selesai. Jagung sudah swasembada untuk pakan. Ke depan kita fokus kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan seterusnya yang demand-nya tinggi tingkat dunia dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani dengan cepat,” tutur Amran.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan produktivitas pertanian akan disesuaikan dengan komoditas unggulan di masing-masing wilayah. Dengan cara ini, hasil riset dan pembinaan dapat memberikan dampak yang lebih signifikan. “Jadi kita menanam atau mengembangkan komoditas berdasarkan keunggulan komparatif suatu tempat. Iklimnya agro‑climate‑nya cocok, budaya culture masyarakatnya oke, kita kembangkan di situ,” ujarnya.

Amran juga berbicara tentang target produksi. Ia menyebutkan bahwa petani diharapkan dapat menghasilkan minimal 5 ton per hektare, namun 3–4 ton per hektare sudah dianggap baik. “Ya kalau saya, kalau mintanya saya ya minimal 5 ton (per hektare). Tapi kalau 3‑4 ton (per hektare) itu sudah bagus,” tutur Amran.

Di sisi lain, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa lembaga ini telah menunjukkan hasil berbagai riset di bidang pangan, termasuk pengembangan varietas baru yang mampu mengatasi dampak perubahan iklim. “Kita akan memberikan dukungan untuk tercapainya ketahanan pangan. Karena pangan tidak hanya soal padi, tapi pangan luas sekali, tidak hanya perkebunan, tapi juga hortikultura, tapi juga peternakan, dan dimensi pangan yang lainnya,” ujar Arif.

BRIN menargetkan pengembangan varietas atau sistem pertanian baru yang dapat meningkatkan hasil produksi bawang putih dalam negeri menjadi 35 ton per hektare. Dengan pencapaian target ini, Indonesia dapat mengurangi impor bawang putih secara signifikan. “Ini kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare. Ini angka yang fantastis, kita ingin mengalahkan negara‑negara lain yang sudah bisa menghasilkan 35 ton per hektare,” tutur Arif.

Kerja sama antara BRIN dan Kementan dianggap sebagai langkah penting untuk meningkatkan produksi sektor pangan nasional. Arif menambahkan bahwa BRIN tidak hanya berfokus pada pertanian, tetapi juga mendukung bidang lain seperti mesin pertanian, AI, genomik, robotik, dan smart farming. “Kita di BRIN tidak hanya di bidang pertanian, banyak bidang‑bidang lain non‑pertanian yang bisa mendukung pertanian. Baik untuk mesin pertanian, kemudian untuk AI, untuk bidang genomik yang bisa menghasilkan varietas‑varietas yang lebih unggul dengan teknologi lebih canggih, kemudian juga untuk robotik dan kemudian juga untuk berbagai smart farming yang membutuhkan disiplin ilmu yang lebih luas lagi,” paparnya.

Dengan kolaborasi ini, diharapkan ilmu‑ilmu yang ada di BRIN dan para peneliti dapat dioptimalkan untuk mendukung pembangunan pertanian di Indonesia. “Oleh karena itu dengan kolaborasi ini insyaallah ilmu‑ilmu yang ada di BRIN, periset‑periset yang ada di BRIN itu bisa kita kerahkan untuk mensupport suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia,” jelas Arif lagi.

Kerja sama ini menandai komitmen pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui riset, inovasi, dan pembinaan petani. Dengan anggaran yang besar dan target produksi yang ambisius, diharapkan sektor pertanian dapat tumbuh lebih produktif dan berkelanjutan.

MoUBRINpangankedelaibawang putihAIsmart farming

Komentar

Memuat komentar...