Nasarduddin Umar Dipertimbangkan Jadi Ketua PBNU 2026

Lia N. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Nasarduddin Umar Dipertimbangkan Jadi Ketua PBNU 2026

Gambar atau konten salah?

PBNU tengah menyiapkan pemimpin masa depan, dan Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menilai bahwa Nasarduddin Umar memiliki peluang besar untuk memimpin organisasi pada periode berikutnya. Nasaruddin dikenal memiliki rekam jejak organisasi yang kuat di lingkungan NU, khususnya di kalangan Nahdliyin Jatim.

Menurut Gus Lilur, dinamika calon Ketua Umum (Ketum) PBNU mulai mengerucut, dan nama Nasarduddin Umar terus menguat. "Dukungan terhadap Menteri Agama Nasaruddin Umar terus menguat dari berbagai kalangan," ujarnya pada 18 Juni 2026.

Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) ini memprediksi bahwa susunan pengurus PBNU periode 2026‑2031 akan menempatkan kiai‑kiai berpengaruh dan kalangan intelektual muda sebagai poros utama kepemimpinan. Gus Lilur menekankan bahwa NU membutuhkan formulasi kepemimpinan yang mampu menjembatani otoritas keulamaan dengan tantangan zaman yang semakin kompleks.

"NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global," ujar Gus Lilur.

Jika Nasarduddin Umar menjadi Ketum PBNU, Gus Lilur mengusulkan KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam, KH Afifuddin Muhajir dan KH Marzuki Mustamar sebagai Wakil Rais Aam, serta KH Abdus Salam Shohib sebagai Katib Aam. Untuk Tanfidziyah, Prof. Dr. KH Nazaruddin Umar akan menjadi Ketua Umum, didampingi oleh Nusron Wahid dan Alisa Wahid sebagai Wakil Ketua Umum. Posisi Sekretaris Jenderal diusulkan dijabat oleh KH Yusuf Chudhori dan Bendahara Umum oleh KH Imam Jazuli.

  • Rais 'Aam: Prof. Dr. KHR. Said Aqil Siradj
  • Wakil Rais 'Aam: KH. Afifuddin Muhajir
  • Wakil Rais 'Aam: KH. Marzuki Mustamar
  • Katib 'Aam: KH. Abdus Salam Shohib
  • Ketua Umum Tanfidziyah: Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar
  • Wakil Ketua Umum: Nusron Wahid
  • Wakil Ketua Umum: Alisa Wahid
  • Sekjend: KH. Yusuf Chudhori
  • Bendahara Umum: KH. Imam Jazuli

Menurut Gus Lilur, komposisi tersebut dirancang bukan semata-mata berdasarkan popularitas tokoh, melainkan mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, serta kemampuan membaca perubahan sosial. Ia menilai bahwa NU saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Selain persoalan kebangsaan dan keumatan, organisasi juga dituntut merespons perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi generasi muda, hingga dinamika geopolitik global.

"NU tidak cukup hanya menjaga tradisi. NU juga harus mampu memimpin transformasi," kata Gus Lilur. Ia menambahkan bahwa figur-figur tersebut dinilai memiliki rekam jejak yang dapat merepresentasikan dua kekuatan utama NU, yakni otoritas keagamaan dan kemampuan membangun dialog dengan masyarakat modern.

Menurutnya, Muktamar NU mendatang tidak sekadar menjadi arena pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah organisasi untuk lima tahun ke depan. "Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa," ujarnya.

Usulan tersebut, lanjut Gus Lilur, merupakan pandangan dan aspirasi yang disampaikan NBI sebagai bagian dari kontribusi pemikiran menjelang Muktamar NU 2026. Keputusan mengenai kepengurusan tetap berada di tangan para peserta muktamar dan mekanisme organisasi yang berlaku.

Di tengah spekulasi mengenai calon pemimpin NU masa depan, usulan NBI menambah warna diskusi publik. Satu pesan penting yang ditegaskan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas keulamaan dan regenerasi intelektual agar NU tetap menjadi kekuatan moral, sosial, dan kebangsaan yang relevan pada era baru Indonesia.

Dengan struktur kepemimpinan yang menggabungkan kiai berpengalaman dan generasi muda, PBNU berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Pendekatan ini menandai langkah pragmatis dalam menjaga relevansi organisasi di tengah dinamika sosial, teknologi, dan geopolitik yang terus berkembang.

PBNUNasarduddin UmarGus LilurMuktamar 2026Kepemimpinan NUGenerasi MudaKiai

Komentar

Memuat komentar...