Nelayan Sukabumi Jadi Bintang Film Dokumenter Global
Gambar atau konten salah?
Laut selatan Jawa Barat bukan sekadar hamparan air bagi Muhamad Nurapandi. Pria 41 tahun yang akrab dipanggil Dede Sinar ini melihat Samudra Hindia sebagai medan pertempuran. Di sana ia mencari nafkah, sekaligus mempertaruhkan nyawa untuk keluarganya.
Dede adalah nelayan tradisional dari Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Kisahnya kini dikenal dunia. Ia terpilih menjadi narasumber utama dalam film dokumenter global berjudul "All that separates us is distance". Film ini diproduksi oleh Lloyd's Register Foundation, yayasan keselamatan maritim asal Inggris.
Perjalanan Dede di laut tidak terjadi dalam semalam. Ia sudah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya di atas ombak, sejak lulus sekolah puluhan tahun lalu.
"Saya dari tahun 2003, keluar sekolah semenjak SMA sampai sekarang, saya sudah melaut. Pengalaman dari nelayan, pengurus perahu, pemilik perahu, semua sudah dialami. Bagaimana rasanya air laut itu asin, bagaimana manisnya hasil laut, dan bagaimana pahitnya usaha di laut, saya sudah merasakan," kata Dede.
Tapi manisnya hasil laut mulai memudar. Ekosistem laut di pesisir selatan Sukabumi terus menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya langsung terasa pada armada tangkapnya.
"Sekarang punya perahu, tapi ya perahu tidak jalan karena kondisi ikan saat ini kurang bagus. Nggak tahu kenapa, kondisi ikan tahun-tahun ke sini itu semakin berkurang. Tidak tahu itu dampak perubahan iklim, pencemaran lingkungan laut, atau kapal-kapal besar datang ke pelabuhan, apa eksploitasi ikan berlebih atau seperti apa. Ini mungkin butuh kajian dari pemerintah permasalahan ini. Tentunya hasil tangkapan nelayan di sini ya berkurang," ungkapnya.
Kondisi ini memaksa nelayan tradisional Palabuhanratu bertaruh nyawa. Demi hasil tangkapan yang layak, mereka harus melaut jauh ke samudra terbuka. Dengan armada yang terbatas.
Proses syuting dokumenter berlangsung sekitar satu minggu pada November 2025. Pengambilan gambar dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, tengah laut, hingga rumah pribadi Dede. Ia bercerita, keterlibatannya bermula dari jaringan organisasi keselamatan maritim lokal.
"Pertama-tama saya dihubungi oleh tim GISLI (Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia) untuk wawancara mengenai pembuatan film dari Inggris ini, dari Lloyd's Register Foundation tepatnya," kata Dede. Produksi ini digarap oleh rumah produksi asal Inggris.
Menariknya, tidak ada rekayasa adegan dalam film tersebut. Semua interaksi dan pernyataan Dede diambil secara alami.
"Film dokumenter ini terus terang kisah pribadi saya. Wawancara langsung dibuat tanpa ada skrip, langsung aja ditanya saya jawab, tanya saya jawab. Itu sesuai dengan apa yang ada. Pakai bahasa Indonesia, ada bagian yang ditranslate bahasa Inggrisnya, ada penerjemah namanya Pak Yohanes," jelasnya.
Sekarang, di samping menghadapi pasang surut hasil tangkapan, Dede aktif di organisasi keselamatan maritim. Ia menjadikannya tanggung jawab sosial kepada sesama pelaut.
"Tentunya bukan saya yang terbaik dalam film tersebut, tapi masih ada yang terbaik juga. Di GISLI ini merupakan panggilan moral saya, yang tujuannya meningkatkan kesadaran teman-teman, rekan-rekan saya sesama profesi nelayan, untuk meningkatkan dan mengutamakan keselamatan dalam melaut. Jadi intinya, kami mengajak kepada rekan-rekan untuk mengutamakan keselamatan dalam laut," pungkas Dede.
Sisi humanis kisah Dede semakin terasa saat dokumenter masuk ke rumahnya dan berbincang dengan istrinya, Afrita. Saat Dede bertarung dengan ombak, Afrita harus berdamai dengan kecemasan yang terus-menerus.
Afrita membagikan kisah emosional tentang kebimbangan yang melanda hatinya setiap kali suaminya pamit melaut. Antara tuntutan kebutuhan dapur dan keselamatan nyawa suami yang tidak pasti, Afrita hanya bisa berdoa agar Dede pulang dengan selamat.
Bagi Dede, motivasi terbesarnya tidak pernah berubah. "Apa yang penting bagi para nelayan di seluruh dunia adalah apa yang penting bagi siapa pun. Yaitu keluarga mereka," begitu pesan yang diangkat dalam film tersebut.
Dokumenter "All that separates us is distance" menunjukkan bahwa bahaya dan kecemasan yang dihadapi keluarga Dede juga dirasakan nelayan di benua lain. Film ini menyandingkan potret Sukabumi dengan cerita nelayan dari Inggris dan Ghana. Membuktikan bahwa bahaya di lautan tidak mengenal paspor atau warna kulit.
Di Newlyn, Inggris, ada James Roberts, nelayan pantai yang bekerja sendirian di atas perahu harian. James bercerita bagaimana rasa lelah dan kurang tidur menjadi musuh terbesar. Bisa membuatnya terlempar ke laut akibat ombak liar. Ada juga kesaksian pilu dari nelayan senior Inggris yang kehilangan saudara kandungnya karena tenggelam setelah terpeleset di dek kapal.
Dari Ghana, tepatnya di pesisir Dixcove, muncul Emmanuel Nenyinarayie bersama istrinya. Mereka mewakili generasi nelayan tradisional di Afrika. Dokumenter ini menampilkan potret ekstrem bertaruh nyawa di laut, termasuk kisah nelayan penyintas yang terombang-ambing tujuh hari tanpa makanan dan air bersih karena mesin perahu mati di tengah samudra.
Penderitaan dan ketangguhan nelayan dari tiga negara ini dirangkum oleh Alan McCulla, koordinator International Fund for Fishing Safety. Alan menegaskan bahwa sektor perikanan tangkap tradisional sering menjadi "saudara kembar yang dianaktirikan" dibanding sektor maritim komersial lainnya. Padahal, statistik menunjukkan tingkat kematian di profesi ini sangat mengkhawatirkan. Sudah saatnya dunia internasional dan pemerintah masing-masing negara memberikan perlindungan nyata.
Kisah Dede Sinar hanyalah satu dari ribuan nelayan tradisional yang berjuang di tengah laut. Penurunan ekosistem, keterbatasan armada, dan risiko kematian adalah keseharian mereka. Film dokumenter ini menjadi pengingat bahwa di balik ikan yang sampai ke meja makan, ada nyawa yang dipertaruhkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Nelayan Sukabumi Jadi Bintang Film Dokumenter Global
Trump Blokade Pelabuhan Iran, Ancaman Serang Infrastruktur
Siap Registrasi e-Kandidat Sipencatar Kemenhub 2026
Renungan Katolik: Siapakah Kita di Hadapan Tuhan?
Wacana SPP Kembali untuk Siswa Mampu di Jabar
Denda Rp 100 Juta untuk Penebang Pohon Ilegal di Bandung
Allo PayLater Diskon 20% Tiket Hiburan Keluarga
10% Pajak Kendaraan Wajib untuk Jalan