Neraca Dagang Juni Merah Lagi, Defisit US$ 450 Juta

Surya B. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Neraca Dagang Juni Merah Lagi, Defisit US$ 450 Juta

Gambar atau konten salah?

Indonesia kembali mencatat defisit pada neraca perdagangan di bulan Juni. Sebelumnya, tren surplus yang sudah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sempat terputus pada bulan Mei. Kini, posisi perdagangan kembali berada di zona merah.

Pada Juni 2026, defisit mencapai US$ 450 juta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sebesar US$ 25,46 miliar, sementara impor mencapai US$ 25,91 miliar. Selisih antara keduanya itulah yang menghasilkan defisit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan penyebab defisit tersebut. Menurutnya, defisit terjadi karena kinerja komoditas migas yang mencatat defisit sebesar US$ 3,49 miliar. "Komoditas utama penyumbang defisit pada migas adalah hasil minyak dan juga minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026.

Meski begitu, tidak semua sektor mengalami defisit. Neraca perdagangan nonmigas justru masih mencatat surplus sebesar US$ 3,04 miliar. Surplus ini ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.

Secara kumulatif, Indonesia masih membukukan surplus di paruh pertama tahun ini. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$ 3,58 miliar. Angka ini didorong oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencapai US$ 19,35 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan migas justru mengalami defisit sebesar US$ 15,77 miliar.

Sebelum berbalik defisit pada Mei 2026, Indonesia telah menikmati surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Rangkaian surplus tersebut masih berlanjut hingga April 2026. Defisit di bulan Juni ini menjadi catatan tersendiri, meskipun secara keseluruhan semester pertama masih positif. Ketergantungan pada impor migas masih menjadi faktor utama yang menekan neraca perdagangan nasional.

defisit neraca perdaganganeksporimpormigasnonmigassurplusBPS

Komentar

Memuat komentar...