Ngawi Bukan Sekadar Kota Persinggahan
Gambar atau konten salah?
Kabupaten Ngawi, yang terletak di ujung barat Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, sering dianggap hanya sebagai kota persinggahan. Namun, daerah ini menyimpan banyak daya tarik yang patut dijelajahi. Mulai dari ikon kota yang terkenal, wisata alam dan sejarah, hingga kuliner khas yang menjadi identitas masyarakat setempat. Selain itu, Ngawi juga menyandang predikat sebagai salah satu lumbung pangan nasional berkat produksi padinya yang tinggi setiap tahun. Beragam potensi ini membuat Ngawi layak menjadi destinasi menarik.
Sejarah Kabupaten Ngawi
Kabupaten Ngawi memperingati hari jadinya setiap 7 Juli, dan pada tahun 2026 akan memasuki usia 668 tahun. Berdasarkan Keputusan DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 188.70/34/1986 tanggal 31 Desember 1986, hari jadi Kabupaten Ngawi ditetapkan pada 7 Juli 1358 Masehi. Sebelumnya, hari jadi Ngawi sempat ditetapkan pada 31 Agustus 1830. Namun, tanggal tersebut kemudian dikaji ulang karena dianggap berkaitan dengan masa pemerintahan kolonial Belanda dan kurang mencerminkan semangat kebangsaan.
Setelah melalui kajian sejarah, pemerintah daerah menetapkan 7 Juli 1358 sebagai hari lahir Kabupaten Ngawi yang digunakan hingga sekarang. Nama Ngawi sendiri berasal dari kata awi yang berarti bambu. Nama ini merujuk pada kondisi wilayah di sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang pada masa lampau banyak ditumbuhi tanaman bambu. Selain memiliki sejarah panjang, Ngawi juga menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti Benteng Van den Bosch atau Benteng Pendem yang dibangun pada tahun 1839-1845 di kawasan pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Kabupaten ini juga dikenal dengan kuliner khas Wedang Cemue, minuman hangat berbahan jahe, santan, kacang tanah, roti, dan taburan bawang goreng.
Mengenal Ngawi dan Beragam Potensinya
Ngawi tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil padi terbesar di Indonesia. Daerah yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini memiliki sejarah panjang, kekayaan alam, destinasi wisata, hingga kuliner tradisional yang masih lestari. Berbagai potensi ini menjadikan Ngawi memiliki karakter yang khas dan menarik untuk dikenali lebih jauh.
1. Tugu Gading Kartonyono
Salah satu ikon yang paling mudah dikenali di Ngawi adalah Tugu Gading Kartonyono yang berdiri di tengah Simpang Empat Kartonyono, Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Ngawi. Monumen ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi pada tahun 2018 sebagai penanda kawasan sekaligus memperkuat identitas daerah. Sebelum menjadi simpang empat seperti sekarang, kawasan Kartonyono awalnya merupakan simpang tiga yang mempertemukan arus kendaraan dari arah Madiun di selatan, Solo di barat, dan pusat Kota Ngawi di utara. Seiring pembangunan jalur baru menuju arah Surabaya dan Caruban, persimpangan tersebut berkembang menjadi simpang empat yang menjadi salah satu titik lalu lintas tersibuk di Ngawi.
Di tengah persimpangan itu berdiri Tugu Gading Kartonyono dengan tinggi sekitar 7,5 meter. Bentuknya menyerupai susunan gading gajah berwarna putih dan emas. Pada bagian bawah tugu terdapat tulisan "Ngawi Ramah". Tulisan ini menjadi simbol penyambutan bagi masyarakat yang memasuki wilayah Kabupaten Ngawi. Bupati Ngawi Ony Anwar menjelaskan bahwa bentuk gading gajah dipilih karena memiliki kaitan erat dengan sejarah Ngawi. "Sejarahnya, dahulu kala di Ngawi ditemukan banyak gading gajah purba, dan ada Museum Trinil yang menyimpan banyak fosil hewan purba," ujar Bupati Ngawi Ony Anwar saat berbincang pada Selasa, 10 Januari 2023. Ony juga menyebut bahwa posisi Tugu Kartonyono di tengah simpang membuat monumen tersebut dapat terlihat jelas dari berbagai arah saat kendaraan berhenti di lampu lalu lintas.
2. Kartonyono Makin Dikenal Lewat Lagu Denny Caknan
Nama Kartonyono semakin populer di tingkat nasional setelah diabadikan dalam lagu "Kartonyono Medot Janji" yang dipopulerkan Denny Caknan. Lagu berbahasa Jawa tersebut sukses menarik perhatian masyarakat hingga membuat banyak orang penasaran dengan lokasi Kartonyono yang sebenarnya. Padahal, jauh sebelum lagu itu viral, Kartonyono telah lama dikenal masyarakat Ngawi sebagai nama persimpangan jalan utama di Kelurahan Margomulyo. Pemerintah Kabupaten Ngawi bahkan telah lebih dahulu berupaya memperkenalkan kawasan tersebut melalui pembangunan Tugu Gading Kartonyono pada tahun 2018.
Popularitas lagu tersebut kemudian ikut mengangkat nama Kartonyono sebagai salah satu ikon Kabupaten Ngawi. Tak sedikit wisatawan yang menyempatkan diri singgah di Simpang Empat Kartonyono untuk melihat langsung landmark yang selama ini hanya mereka kenal dari judul lagu. Kini, Tugu Gading Kartonyono bukan hanya berfungsi sebagai penanda kawasan, tetapi menjadi salah satu landmark paling ikonik di Ngawi sekaligus titik yang kerap dijadikan lokasi berfoto maupun tempat bertemu masyarakat.
3. Lumbung Pangan Nasional
Ngawi dikenal sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Ngawi konsisten menjadi salah satu daerah dengan produksi padi tertinggi di Indonesia, sehingga mendapat predikat sebagai lumbung pangan nasional. Sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Hamparan sawah yang luas, sistem irigasi yang memadai, serta tingginya indeks pertanaman membuat produktivitas pertanian Ngawi terus meningkat dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023, Ngawi menghasilkan sekitar 771,25 ribu ton gabah kering giling (GKG) dari luas panen sekitar 124,92 ribu hektare. Jika dikonversi menjadi beras, produksinya mencapai sekitar 445,34 ribu ton. Tidak hanya mengandalkan padi, Ngawi juga memiliki berbagai komoditas tanaman pangan unggulan lainnya. Berdasarkan data BPS dan DKPP Ngawi, komoditas seperti jagung, ubi jalar, ubi kayu, kedelai, kacang tanah, hingga kacang hijau turut menjadi penopang sektor pertanian daerah.
Produksi tersebut berkontribusi terhadap ketahanan pangan sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di berbagai kecamatan. Beberapa wilayah bahkan dikenal sebagai sentra komoditas tertentu. Jagung banyak dibudidayakan di Kecamatan Kendal, Bringin, Kedunggalar, Widodaren, Mantingan, Karanganyar, dan Pitu. Sementara kedelai terkonsentrasi di Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, serta Paron. Adapun ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, dan kacang hijau tersebar di kecamatan sesuai karakteristik lahannya.
4. Destinasi Wisata Populer
Ngawi menawarkan beragam destinasi wisata yang memadukan keindahan alam, sejarah, hingga wisata edukasi. Beberapa di antaranya bahkan menjadi ikon pariwisata daerah dan banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai wilayah. Berikut sejumlah destinasi wisata yang dapat menjadi pilihan saat berkunjung ke Ngawi.
a. Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem)
Benteng Van den Bosch merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang berdiri di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi. Benteng ini menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Ngawi dengan arsitektur khas abad ke-19. Alamat: Jl Untung Suropati, Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi. Jam Buka: Setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 10.000.
b. Museum Trinil
Museum Trinil menjadi destinasi wisata edukasi yang menyimpan koleksi fosil manusia purba dan berbagai fosil hewan hasil penelitian di Situs Trinil. Tempat ini menjadi salah satu bukti penting sejarah evolusi manusia di Indonesia. Alamat: Desa Wonokerto, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi. Jam Operasional: 08.00-16.00 WIB. Belum ada informasi resmi tentang harga tiket. Jadi, untuk memastikan tarif terbaru, pengunjung disarankan menghubungi pengelola atau mengecek informasi resmi sebelum berkunjung.
c. Srambang Park
Srambang Park menawarkan wisata alam dengan air terjun, taman bunga, serta kawasan hutan yang sejuk di lereng Gunung Lawu. Destinasi ini menjadi salah satu tujuan favorit wisata keluarga di Ngawi. Alamat: Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: Setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 20.000.
d. Kebun Teh Jamus
Kebun Teh Jamus merupakan kawasan perkebunan teh yang berada di lereng Gunung Lawu. Pengunjung dapat menikmati panorama hamparan kebun teh, udara sejuk, serta berbagai spot foto alami. Alamat: Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: 07.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 15.000.
e. Air Terjun Pengantin
Air Terjun Pengantin menawarkan suasana alam yang masih asri dengan aliran air yang berada di kawasan hutan Kecamatan Ngrambe. Lokasinya cocok bagi wisatawan yang menyukai aktivitas trekking ringan. Alamat: Desa Hargomulyo, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: 08.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 10.000.
f. Waduk Pondok
Waduk Pondok menjadi salah satu destinasi wisata sekaligus kawasan konservasi di Ngawi. Selain menikmati pemandangan waduk, pengunjung juga dapat memancing maupun bersantai di area sekitar. Alamat: Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: 07.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Gratis.
g. Watu Jonggol
Watu Jonggol merupakan destinasi wisata alam yang berada di Kecamatan Sine. Daya tarik utama tempat ini adalah deretan batu-batu besar yang tersusun alami di kawasan hutan, dipadukan dengan aliran air terjun yang menambah keindahan pemandangan. Selain menikmati suasana alam, pengunjung juga dapat memanfaatkan berbagai fasilitas seperti kolam renang, spot foto, taman bunga, taman bermain, gazebo, toilet, musala, area kuliner, serta lahan parkir yang luas. Alamat: Desa Pandansari, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: Setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 5.000.
h. Sumber Koso
Sumber Koso merupakan destinasi wisata alam di Ngawi yang menawarkan pesona mata air alami dengan air jernih di tengah suasana hutan rindang. Konsep wisata air di tengah hutan menjadikan tempat ini cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati kesejukan alam. Selain kejernihan airnya, Sumber Koso juga dihuni ribuan ikan hias yang menambah daya tarik sekaligus menciptakan suasana tenang dan menyegarkan. Tempat ini menjadi pilihan yang tepat untuk bersantai dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Alamat: Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Jam Buka: Setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB. Harga Tiket: Rp 10.000.
Jam operasional dan harga tiket masuk di setiap destinasi wisata dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pengelola. Sebelum berkunjung, wisatawan disarankan memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi pengelola atau pemerintah daerah agar memperoleh informasi yang paling akurat.
5. Kuliner Khas
Selain memiliki beragam destinasi wisata, Ngawi juga dikenal dengan kekayaan kuliner tradisional yang masih mudah ditemukan hingga kini. Mulai dari makanan berat, camilan, hingga minuman khas, setiap hidangan memiliki cita rasa yang mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat setempat.
a. Pecel Lethok
Pecel Lethok merupakan salah satu kuliner yang identik dengan Ngawi. Berbeda dengan pecel pada umumnya, hidangan ini menggunakan sambal kacang yang dipadukan dengan lethok. Lethok sendiri adalah bumbu berbahan kedelai yang telah difermentasi sehingga menghasilkan cita rasa gurih dan khas. Pecel Lethok biasanya disajikan bersama aneka sayuran rebus, tempe, tahu, serta rempeyek.
b. Tepo Tahu
Tepo Tahu menjadi menu favorit masyarakat Ngawi, terutama saat sarapan. Hidangan ini terdiri atas tepo atau lontong berbahan beras yang disajikan bersama tahu goreng, tauge, kol, dan siraman bumbu kacang yang diberi kecap sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas.
c. Botok Tawon
Botok tawon merupakan kuliner tradisional yang cukup unik karena menggunakan sarang lebah muda sebagai bahan utama. Sarang lebah dicampur dengan kelapa parut dan bumbu rempah. Semua bahan tersebut kemudian dibungkus daun pisang sebelum dikukus. Cita rasanya gurih dengan tekstur yang lembut, sehingga menjadi salah satu makanan khas yang banyak diburu wisatawan.
d. Ayam Panggang Ndeso
Ayam panggang ndeso menawarkan cita rasa ayam kampung yang dimarinasi dengan bumbu rempah khas Jawa, kemudian dipanggang hingga menghasilkan aroma yang harum. Hidangan ini umumnya disajikan bersama sambal, lalapan segar, dan nasi hangat.
e. Intip Ketan
Intip ketan merupakan camilan tradisional berbahan kerak nasi ketan yang dipanggang atau digoreng hingga renyah. Rasanya gurih dengan tekstur yang garing sehingga cocok dijadikan oleh-oleh khas Ngawi.
f. Wedang Cemue
Wedang cemue adalah minuman tradisional khas Ngawi yang disajikan hangat. Minuman ini berisi kuah santan bercita rasa gurih dan manis yang dipadukan dengan potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, serta jahe. Wedang cemue menjadi pilihan tepat untuk menghangatkan tubuh, terutama saat cuaca dingin.
g. Kopi Selondo
Kopi selondo merupakan salah satu produk kopi lokal yang turut diperkenalkan sebagai bagian dari ragam kuliner khas Ngawi. Kopi ini menjadi pilihan bagi penikmat kopi yang ingin mencicipi produk olahan lokal saat berkunjung ke Ngawi.
Ngawi menyimpan beragam potensi yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat. Mulai dari ikon Tugu Gading Kartonyono yang semakin dikenal lewat lagu Denny Caknan, predikat sebagai lumbung pangan nasional, destinasi wisata alam dan sejarah, hingga ragam kuliner khas yang menggugah selera. Jika berkesempatan berkunjung ke Jawa Timur bagian barat, sempatkan menjelajahi berbagai daya tarik tersebut agar dapat mengenal Ngawi lebih dekat sekaligus menikmati pesona yang ditawarkannya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PBNU Nilai Kesiapan Pondok Lirboyo Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Kader PKK Digerakkan Wujudkan Indonesia Emas 2045
Enam Tim Lolos Perempat Final Piala Dunia, Dua Slot Tersisa
Mediasi Akhiri Sengketa Rumah, Penyewa 10 Tahun Terima Rp 5 Juta
Nelayan Pasuruan Masih Gunakan Trawl Ilegal
Gaji Dosen Non-PNS Unair Rp16 Juta, Bukan Rp2,6 Juta
Berita Terbaru
Ngawi Bukan Sekadar Kota Persinggahan
PBNU Nilai Kesiapan Pondok Lirboyo Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Lobi Trump Gagal, Belgia Hancurkan AS 4-1
Google Kembangkan CAPTCHA Biometrik, Mudah Ditembus Pakai Foto
Pemerintah Tahan Tarif Listrik hingga September 2026
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 per Gram Hari Ini
Kukang Jawa Tersetrum Tiang Listrik, Warga Ciamis Geger
Foto Bocah Demak 'Kage Bunshin' Viral, 8,7 Juta Ditonton
Kader PKK Digerakkan Wujudkan Indonesia Emas 2045