Pakar Restoran Peringatkan: 6 Hidangan yang Harus Dipertimbangkan
Gambar atau konten salah?
Berburu makanan di restoran memang mudah dan menyenangkan, tapi tidak semua hidangan di menu layak untuk dipesan. Banyak hidangan yang terlihat menggoda di buku menu, namun kualitasnya tidak selalu memuaskan. Untuk membantu Anda memilih, beberapa pakar industri restoran telah mengumpulkan pandangan mereka tentang menu yang sebaiknya dipertimbangkan ulang.
Penilaian mereka didasarkan pada tiga kriteria utama: kualitas, kesegaran, dan nilai ekonomis. Jika sebuah hidangan tidak memenuhi salah satu dari ketiga kriteria tersebut, ada kemungkinan besar Anda akan kecewa. Berikut adalah enam jenis menu yang sering menjadi peringatan.
Daftar ini disusun oleh para ahli, termasuk Howard Cannon, CEO Restaurant Expert Witness, Mark Ladisky, konsultan restoran, dan James Anderson dari University of Rhode Island. Masing-masing memberikan alasan mengapa hidangan tertentu tidak layak dipesan.
-
Menu Terlaris di Restoran
Seringkali pelanggan mengira menu terlaris selalu menjadi pilihan terbaik karena perputarannya tinggi. Namun, Howard Cannon menunjukkan bahwa banyak restoran cepat saji dan restoran besar menyiapkan menu populer lebih awal untuk memenuhi permintaan. Akibatnya, hidangan tersebut bisa berada cukup lama di tempat penyimpanan sebelum disajikan. Cannon menilai makanan yang sudah lama disimpan, terutama yang mengandung mayones atau saus, berpotensi mengalami penurunan kualitas. Karena itu, memilih menu yang tidak terlalu populer sering kali lebih aman karena biasanya dibuat langsung setelah dipesan.
-
Camilan Gratis di Restoran
Keripik, kacang, pretzel, atau biskuit gratis yang tersedia di meja atau di pintu masuk memang menggoda. Namun, kebiasaan ini ternyata tidak selalu disarankan. Beberapa restoran tidak selalu mengganti camilan dengan sajian baru untuk setiap pelanggan. Bahkan, ada kemungkinan camilan yang tersisa dikumpulkan kembali lalu digunakan pada kesempatan berikutnya. Karena itu, camilan gratis dianggap kurang terjamin dari sisi kebersihan dibanding makanan yang disiapkan khusus. Jika ingin ngemil saat di restoran, sebaiknya pesan makanan yang dibuat langsung di dapur.
-
Es Krim Kemasan
Es krim sering menjadi pilihan dessert favorit. Namun, Mark Ladisky menegaskan bahwa es krim kemasan yang mudah ditemukan di supermarket tidak menawarkan pengalaman yang berbeda saat disajikan di restoran. Karena kebanyakan restoran yang bukan spesialis es krim, menggunakan es krim kemasan di menu mereka. Ia menilai pelanggan akan membayar lebih mahal untuk produk yang sebenarnya bisa dibeli dengan harga lebih murah di toko biasa. Anjuran ini berlaku pengecualian jika restoran tersebut membuat es krim sendiri atau menawarkan varian unik yang sulit ditemukan. Memesan dessert lain yang lebih khas bisa menjadi pilihan yang lebih menarik dan sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
-
Pesan Pizza Bukan di Restorannya
Pizza hampir selalu tersedia di berbagai jenis restoran. Namun, Mark Ladisky menyarankan agar pelanggan lebih selektif saat memesannya. Menurutnya, pizza menggunakan bahan baku yang relatif murah, tetapi sering dijual dengan margin keuntungan tinggi. Jika restoran tersebut bukan tempat yang memang fokus pada pizza, kualitasnya belum tentu istimewa. Tak jarang pizza yang disajikan hanya sedikit lebih baik dibanding produk beku yang dipanggang ulang. Karena itu, memesan pizza lebih disarankan di restoran atau gerai yang memang dikenal sebagai spesialis pizza.
-
Seafood dari Daerah Tertentu
Menu seafood yang mencantumkan asal daerah tertentu sering dianggap lebih premium. Contohnya seperti “Kepiting Alaska” yang populer di restoran. Namun, James Anderson dari University of Rhode Island menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak selalu mudah diverifikasi. Ia mencontohkan bahwa hidangan crab cake yang disebut berasal dari kepiting Maryland belum tentu menggunakan kepiting dari wilayah tersebut. Jika ingin menikmati seafood berkualitas, sebaiknya pilih restoran yang memang fokus menyajikan hidangan seafood segar, atau punya pilihan menu live seafood, sehingga kesegarannya terjamin.
-
Menu Ayam yang Terlalu Bias
Ayam merupakan salah satu bahan protein paling populer di restoran. Meski begitu, Mark Ladisky menilai banyak menu ayam tidak menawarkan keunikan yang cukup untuk menarik perhatian. Selain bahan bakunya relatif murah, hidangan ayam juga kerap dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dibanding biaya produksinya. Jika restoran memiliki menu khas atau kreasi lain yang lebih menarik, pelanggan bisa mempertimbangkan pilihan tersebut. Dengan begitu, pengalaman bersantap menjadi lebih berkesan daripada sekadar memesan hidangan yang mudah ditemukan di berbagai tempat makan.
Kesimpulannya, memilih menu di restoran bukan sekadar mengikuti tren atau mengikuti rekomendasi orang lain. Setiap hidangan memiliki potensi risiko terkait kualitas, kebersihan, dan nilai ekonomis. Dengan memahami apa yang dipertimbangkan oleh para pakar, Anda dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan menikmati pengalaman bersantap yang lebih memuaskan. 17 Juni 2026.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
