Panduan Lengkap UMKM Berjualan di Shopee & Tokopedia
Gambar atau konten salah?
Berjualan di marketplace sudah menjadi pilihan utama bagi UMKM yang ingin memperluas jangkauan pasar tanpa harus membuka toko fisik. Shopee dan Tokopedia menjadi dua platform terbesar di Indonesia, keduanya menawarkan sistem yang cukup mirip namun memiliki perbedaan kecil yang bisa mempengaruhi strategi penjualan. Artikel ini akan memandu pemula UMKM langkah demi langkah mulai dari pendaftaran akun hingga strategi pemasaran, semua disajikan secara praktis dan mudah diikuti.
Langkah pertama adalah membuat akun penjual. Di Shopee, prosesnya cukup cepat: buka aplikasi, pilih “Daftar” di bagian “Penjual”, lalu masukkan data usaha seperti nama toko, nomor telepon, dan alamat email. Tokopedia memerlukan pendaftaran melalui website, di mana Anda harus mengisi formulir bisnis lengkap. Setelah akun aktif, verifikasi identitas dan data bank menjadi syarat wajib untuk mulai menerima pembayaran.
Setelah akun siap, fokus ke pembuatan profil toko. Deskripsi singkat yang jelas tentang produk dan nilai jual unik harus diisi di kolom “Tentang Toko”. Gunakan gambar profil profesional dan banner yang mencerminkan brand. Pada Shopee, banner dapat diubah setiap 30 hari, sementara Tokopedia memungkinkan perubahan lebih fleksibel. Kedua platform menampilkan rating penjual, jadi mulai bangun reputasi dengan mengisi data profil secara lengkap.
Selanjutnya, masuk ke proses listing produk. Berikut langkah-langkah umum yang berlaku di kedua marketplace:
- Pengumpulan data produk – Foto berkualitas tinggi, nama produk yang jelas, deskripsi singkat, dan kategori yang tepat.
- Penentuan harga – Hitung biaya produksi, ongkos kirim, dan target margin. Tambahkan biaya platform (fee transaksi dan iklan).
- Pengaturan stok – Masukkan jumlah barang yang tersedia. Pastikan data ini selalu terupdate.
- Pengaturan ongkos kirim – Pilih metode pengiriman (kurir lokal, layanan logistik marketplace). Sesuaikan tarif berdasarkan berat dan jarak.
- Pengunggahan produk – Upload foto, isi judul, deskripsi, harga, dan stok. Periksa kembali sebelum menyimpan.
Judul produk menjadi faktor penting untuk pencarian. Gunakan kata kunci yang sering dicari, misalnya “sabun organik 100ml” atau “baju batik ungu pria”. Hindari penggunaan huruf kapital berlebihan; cukup gunakan kapital pada awal kata. Deskripsi singkat sebaiknya mencakup fitur utama, bahan, dan manfaat. Di bagian deskripsi panjang, tambahkan informasi tambahan seperti cara perawatan atau ukuran, namun tetap ringkas.
Setelah listing selesai, perhatikan kebijakan marketplace terkait promosi. Shopee menyediakan fitur “Shopee Ads” yang memungkinkan penjual menonjolkan produk melalui iklan berbayar. Tokopedia memiliki “Tokopedia Ads” dan juga “Marketplace B2B” untuk transaksi grosir. Untuk pemula, mulailah dengan promosi organik: gunakan foto kualitas tinggi, fasilitas “Live Chat” untuk menjawab pertanyaan pelanggan, dan aktifkan fitur “Flash Sale” ketika ada stok berlebih.
Pengelolaan pesanan adalah tahap selanjutnya. Di Shopee, setiap transaksi akan masuk ke “Pesanan Saya”. Pastikan memproses pesanan dalam 24 jam agar pelanggan tidak menunda pembayaran. Di Tokopedia, fitur “Order Management” memudahkan Anda melihat status pembayaran dan pengiriman. Gunakan sistem notifikasi untuk mengingatkan diri jika ada pesanan yang belum diproses.
Logistik menjadi krusial. Pilih kurir yang menawarkan tarif kompetitif dan jangkauan luas. Shopee menyediakan “Shopee Express” yang terintegrasi, sementara Tokopedia menawarkan “JNE”, “TIKI”, dan “POS Indonesia”. Pastikan paket dikemas rapih dan dilabeli dengan benar. Gunakan label resmi marketplace untuk memudahkan pelacakan. Jika volume pesanan tinggi, pertimbangkan layanan “Fulfillment” yang dikelola oleh marketplace; ini mengurangi beban logistik.
Pelayanan pelanggan tidak boleh diabaikan. Tanggapi pertanyaan dan keluhan secepat mungkin. Di Shopee, fitur “Chat” memungkinkan komunikasi langsung. Tokopedia memiliki “Live Chat” dan “WhatsApp”. Pastikan respon lebih cepat daripada 1 jam. Catat setiap masukan pelanggan sebagai peluang perbaikan, misalnya jika banyak pelanggan mengeluhkan waktu kirim, evaluasi pilihan kurir.
Setelah beberapa transaksi, perhatikan data analitik yang disediakan. Shopee menawarkan “Seller Dashboard” dengan statistik penjualan, traffic, dan konversi. Tokopedia memiliki “Seller Insight” yang menampilkan data serupa. Analisis tren penjualan membantu Anda menyesuaikan stok dan promosi. Jika produk tertentu laku, pertimbangkan memperbanyak produksi atau menambah varian.
Strategi pemasaran tambahan dapat dilakukan di luar platform. Gunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook untuk mempromosikan produk. Upload foto produk, testimoni pelanggan, dan cerita di balik pembuatan. Tautkan link toko marketplace di bio atau postingan. Untuk audiens yang lebih lokal, gunakan fitur “Marketplace Lokal” di Shopee atau “Marketplace Lokal” di Tokopedia, yang memfokuskan pada wilayah tertentu.
Manajemen keuangan juga penting. Setiap penjualan akan masuk ke rekening bank yang terdaftar. Lakukan pencatatan harian: jumlah penjualan, biaya platform, ongkos kirim, dan biaya produksi. Gunakan spreadsheet sederhana atau aplikasi akuntansi ringan. Catatan ini memudahkan pelaporan pajak dan penghitungan profit.
Ketika jumlah penjualan mulai stabil, pikirkan diversifikasi produk. Tambahkan varian warna, ukuran, atau paket bundling. Di Shopee, fitur “Bundle” memungkinkan penjual menjual produk dalam satu paket dengan harga diskon. Tokopedia menawarkan “Product Bundle” dengan opsi diskon. Ini dapat meningkatkan rata-rata order value.
Perhatikan juga kebijakan kampanye musiman. Di kedua platform, biasanya ada event “Black Friday”, “Ramadan”, atau “Lebaran” yang menawarkan diskon besar. Persiapkan stok lebih awal dan gunakan promo “Flash Sale” untuk menarik perhatian. Perlu diingat bahwa persaingan juga meningkat, jadi pastikan harga tetap kompetitif.
Selalu perbaharui pengetahuan tentang kebijakan marketplace. Baik Shopee maupun Tokopedia secara berkala memperbarui fee, aturan listing, dan fitur baru. Ikuti forum penjual atau grup media sosial untuk update terkini. Dengan begitu, Anda dapat menghindari pelanggaran yang dapat memblokir toko.
Berjualan di marketplace bukan hanya soal menempatkan produk. Dibutuhkan strategi yang terintegrasi: pendaftaran, listing, promosi, logistik, layanan pelanggan, analisis data, dan manajemen keuangan. Setiap langkah memerlukan perhatian detail. Dengan konsistensi dan penyesuaian berkelanjutan, UMKM dapat memanfaatkan potensi marketplace secara maksimal, membuka peluang pasar yang lebih luas tanpa harus menanggung biaya operasional toko fisik.
Jika Anda baru mulai, jangan ragu untuk memulai dengan satu produk unggulan. Pelajari respon pasar, sesuaikan harga, dan optimalkan deskripsi. Setelah terbukti laku, perlahan tambahkan varian. Ingat, kunci sukses di marketplace adalah kecepatan respon, kualitas produk, dan pelayanan pelanggan yang baik. Selamat mencoba, dan semoga usaha UMKM Anda semakin berkembang di era digital ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warga Karawang Manfaatkan Lahan Sempit dengan Hidroponik dan Bioflok
82 UMKM Subang Selesai Digembleng, Omzet Naik 25%
Gek Nanda: Dari Hobi Perhiasan Jadi Bisnis Internasional Bali
Pertamina Pilih 10 UMKM untuk Pertapreneur Aggregator
Bumbu Instan Aceh Jo Viviani Sanita Dukung UMKM Untuk
Veza Snack: Dari Kentang Mustofa ke Rak BUMN BRI 2026
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
