82 UMKM Subang Selesai Digembleng, Omzet Naik 25%
Gambar atau konten salah?
Sebanyak 82 pelaku UMKM dari 19 desa di Kabupaten Subang, Jawa Barat, baru saja menyelesaikan program pendampingan bisnis. Program ini mencakup berbagai pelatihan, mulai dari cara mengelola usaha, mengembangkan produk, pemasaran lewat internet, hingga menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Sebagian besar peserta yang ikut bergerak di bidang makanan dan minuman.
Program yang diberi nama UMKM Untuk Indonesia ini digelar oleh Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK) bekerja sama dengan program keberlanjutan "Sampoerna untuk Indonesia". Acara berlangsung di Subang pada Selasa, 7 Juli 2026. Peserta mengikuti tiga sesi pelatihan dan pendampingan, ada yang dilakukan secara langsung dan ada juga secara daring.
Materi yang diberikan cukup beragam. Mulai dari memperkuat pola pikir kewirausahaan, mengurus legalitas usaha, menyusun standar operasional prosedur (SOP), mengembangkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar, menentukan unique selling proposition (USP), strategi merek, mengembangkan kemasan, pemasaran digital, sampai pemanfaatan AI. Semua materi ini diberikan agar pelaku UMKM bisa lebih siap bersaing.
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menyebutkan bahwa kerja sama antara dunia usaha, lembaga pendamping, dan pemerintah sangat penting untuk meningkatkan daya saing UMKM. Ia memberikan apresiasi kepada Sampoerna untuk Indonesia karena program ini tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat kapasitas pelaku usaha ke level yang lebih tinggi. Menurutnya, program ini sangat baik untuk perkembangan ekonomi di Kabupaten Subang dan bisa menjadi contoh bagi pihak lain.
Direktur Eksekutif INOTEK, Ivi Anggraeni, mengatakan bahwa keberhasilan program diukur dari sejauh mana peserta bisa menerapkan materi yang didapat ke dalam usaha mereka. Salah satu fokus utama program ini adalah memastikan setiap peserta mampu mengubah materi pelatihan menjadi langkah perbaikan yang nyata. Dari proses pendampingan, Ivi melihat peserta semakin siap dalam mengelola usaha, mengembangkan produk, dan menggunakan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satu peserta, Leni Mariyani, pemilik usaha Dakey House, mengaku mendapat pemahaman baru tentang cara menentukan target pasar, menyusun proposisi nilai produk, dan pemasaran digital. Pendampingan yang diberikan, kata Leni, membantunya melihat peluang pengembangan usaha dengan lebih jelas. Beberapa strategi yang dipelajari sudah mulai diterapkan dalam kegiatan sehari-hari dan memberikan hasil positif.
Hasilnya, omzet usaha Dakey House meningkat hingga 25% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini terjadi setelah berbagai strategi yang dipelajari mulai diterapkan dalam pengelolaan usahanya.
Program ini menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur bisa membantu UMKM naik kelas. Dengan fokus pada penerapan langsung di lapangan, peserta tidak hanya mendapat teori, tetapi juga perubahan nyata dalam bisnis mereka. Peningkatan omzet seperti yang dialami Dakey House menjadi bukti bahwa pelatihan semacam ini bisa berdampak langsung pada pendapatan usaha kecil.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Subsidi & Kompensasi Semester I 2026 Capai Rp233 Triliun
Menkeu Andalkan Coretax dan PHK Pegawai Pajak
Purbaya Jadwalkan Makan Siang dengan Said Iqbal Bahas Pajak JHT
Pasar Karbon Indonesia Resmi Berjalan, Zulhas Targetkan Manfaat Untuk Masyarakat
Potongan Ojol 8% Berlaku, Aturan Baru Mulai 1 Juli
Pajak 2026 Diproyeksi Tak Capai Target
Berita Terbaru
82 UMKM Subang Selesai Digembleng, Omzet Naik 25%
Satgas Pasti Tutup 278 Perusahaan Gadai Ilegal
Jembatan Serayu Cepat Rampung, Perahu Tak Balik Modal
18 Tim OPD Trenggalek Bertanding di Turnamen Futsal
Nenek Buta Huruf di Jombang Terjerat Utang Rp 140 Juta
Merek Teh China Didenda Rp27 M Gegara Logo Mirip Louis Vuitton