Pasangan Ornitolog Belanda Menjadi Sumber Wabah Hantavirus

Wati N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 111 dibaca
Bisik.id
Pasangan Ornitolog Belanda Menjadi Sumber Wabah Hantavirus

Gambar atau konten salah?

Leo Schilperoord, seorang ahli ornitologi berusia 70 tahun, menjadi pasien nol (Patient Zero) dalam wabah hantavirus di kapal pesiar. Ia dan istrinya, Mirjam Schilperoord (69), yang berasal dari desa kecil Haulerwijk di Belanda, sedang melakukan perjalanan lima bulan ke Amerika Selatan ketika penyakit ini muncul.

Perjalanan mereka dimulai pada 27 November 2023 ketika pasangan ini mendarat di Argentina. Dari sana, mereka melintasi Chile, Uruguay, dan kembali ke Argentina pada 27 Maret 2024. Selama perjalanan, mereka menghabiskan waktu mengamati burung di berbagai habitat, termasuk 12 hari di Sri Lanka pada 2013 ketika mereka menemukan Burung Hantu Serendib langka.

Pasangan ini dikenal aktif di dunia ornitologi. Pada 1984, mereka menulis studi tentang angsa kaki merah muda di majalah Het Vogeljaar, publikasi ornitologi Belanda. Kegiatan ini menegaskan kecintaan mereka terhadap burung, yang kemudian menjadi faktor risiko ketika mereka mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Ushuaia.

TPA tersebut terletak sekitar 6 km di luar kota Ushuaia dan menjadi tempat favorit para pengamat burung internasional yang mencari caracara leher putih, yang dikenal juga sebagai caracara Darwin. Otoritas Argentina menduga Leo dan Mirjam terpapar partikel kotoran tikus padi kerdil berekor panjang di TPA tersebut, yang membawa strain Andes hantavirus. Strain Andes adalah satu-satunya varian hantavirus yang dapat menular dari manusia ke manusia.

“Sudah menjadi hal yang umum bagi pengamat burung untuk mengunjungi TPA karena ada banyak burung di sana. Ini adalah gunung sampah yang saat ini jauh melebihi batas yang awalnya ditetapkan oleh pihak berwenang,” kata Gaston Bretti, fotografer dan pemandu lokal.

Empat hari kemudian, pada 1 April 2024, pasangan tersebut naik kapal MV Hondius dari Ushuaia bersama 112 orang lain, banyak di antaranya pengamat burung atau ilmuwan. Pada 6 April 2024, Leo mulai menunjukkan gejala demam, sakit kepala, sakit perut, dan diare. Lima hari kemudian, pada 11 April 2024, ia meninggal dunia di atas kapal.

Mirjam turun dari kapal di pulau Santa Helena pada 24 April 2024, membawa jenazah Leo. Ia kemudian terbang ke Johannesburg, Afrika Selatan, dan transit ke penerbangan KLM menuju Belanda. Namun, kondisi kesehatan yang menurun membuat kru menganggapnya terlalu sakit untuk terbang. Ia pingsan di bandara dan meninggal dunia keesokan harinya, pada 25 April 2024.

Wabah hantavirus ini menyoroti risiko tersembunyi bagi pengamat burung yang sering mengunjungi area TPA. Keterlibatan manusia dalam rantai penyebaran virus ini menegaskan pentingnya protokol kesehatan yang ketat, terutama ketika berada di lingkungan yang berpotensi terkontaminasi. Kematian Leo dan Mirjam menjadi peringatan bagi komunitas ilmiah dan pengamat burung tentang bahaya tersembunyi di balik keindahan alam.

Hantavirus Andeskapal MV Hondiuspengamat burungTPA UshuaiaLeo SchilperoordMirjam Schilperoordrisiko TPA

Komentar

Memuat komentar...