Pasar Modal Jakarta Naik 4,12% Setelah Perjanjian Damai
Gambar atau konten salah?
Pasar modal di Jakarta menutup lebih tinggi pada Senin, 15 Juni 2026, setelah perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi akan segera ditandatangani. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 4,12 % menjadi 6.254,96, sementara rupiah menguat 0,85 % menjadi Rp 17.708 per dolar AS.
Pergerakan IHSG didorong oleh sentimen global yang positif. Papan LQ45, yang mencakup 603 saham yang menguat, 125 yang melemah, dan 90 yang stagnan, mencatat kenaikan 4,56 % menjadi 624.682. Pergerakan ini mencerminkan kekuatan pasar di Asia, di mana indeks Nikkei 225, Hang Seng, Shanghai Composite, dan Straits Time juga mengalami kenaikan.
Rupiah mendapat dorongan ganda. Pertama, penurunan harga minyak mentah dunia, yang dipicu oleh kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, menurunkan tekanan inflasi dan menurunkan permintaan dolar sebagai aset safe‑haven. Kedua, kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sejak Mei, meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi dalam negeri.
Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta mengatakan, “Penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh faktor global, sebenarnya lebih dominan global ya, karena kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan baik,” ungkap Nafan kepada detikcom, Senin (15 Juni 2026). Ia menambahkan bahwa perjanjian damai akan membuka kembali Selat Hormuz dan menurunkan harga minyak dunia lebih dari 4 %, mengurangi kekhawatiran inflasi global.
Nafan juga menyebut pasar menyambut baik pembatalan skema kontrak bagi hasil (gross split) dan relaksasi RKAB di sektor pertambangan mineral dan batu bara. Ia menilai bahwa pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan ini, yang sebelumnya memberikan nafas lega bagi market sejak pekan lalu.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai IHSG berada di bawah nilai wajar saat menembus level 5.400. Ia menyatakan, “IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound.” Namun ia mengingatkan bahwa aksi ambil keuntungan masih mungkin terjadi jika sentimen negatif muncul, misalnya akibat eskalasi AS‑Iran atau keputusan FOMC.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menguraikan dua sentimen utama yang mendorong penguatan rupiah. Ia menekankan bahwa turunnya harga minyak mentah dunia menjadi katalis penting bagi Indonesia, negara net‑importir. Ia juga menyoroti kebijakan suku bunga acuan, yang menambah daya tarik aset dalam negeri. Sutopo berkata, “Pengumuman dibukanya kembali Selat Hormuz ini secara instan meruntuhkan permintaan Dolar AS sebagai aset safe‑haven dan menyeret Indeks Dolar (DXY) turun ke area 99,5.”
Ia menambahkan, “Tanpa kebijakan agresif tersebut, rupiah disebut tidak akan cukup kuat memanfaatkan momentum pelemahan indeks dolar AS.” Sutopo menekankan pentingnya kenaikan suku bunga sebagai fondasi bagi rupiah, dan mengingatkan bahwa tanpa “benteng” kenaikan suku bunga, rupiah tidak akan memiliki pijakan kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS secara maksimal, seperti yang terlihat sejak pembukaan pagi tadi.
“Alhasil, kombinasi antara meredanya tekanan eksternal dan kuatnya fundamental di dalam negeri menciptakan ruang likuiditas yang besar bagi Rupiah untuk mengalami penguatan signifikan hari ini,” imbuhnya.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai ruang penguatan rupiah ke level Rp 17.500 terbuka pekan ini. Ia menekankan bahwa ruang ini didukung oleh kembalinya investor asing dan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Ibrahim juga mencatat bahwa keputusan menaikkan suku bunga acuan memberi momentum bagi Kementerian Keuangan untuk masuk pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan yield SBN tenor 10 tahun berada di 7,4 %.
Ia mengungkapkan, “Sangat terbuka sekali (Rp 17.500), karena hari ini pun juga kita lihat penguatan sudah 181 point kan. Artinya apa? Bahwa penguatan cukup tajam, kemudian dolar pun terjadi gap down, kemudian harga minyak pun juga gap down.” Ibrahim menambahkan bahwa turunnya harga minyak dunia dan pelemahan indeks dolar AS mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti logam mulia, yang juga mengalami kenaikan.
Menurut Ibrahim, “Pelemahan dolar AS hari ini terjadi hampir pada seluruh mata uang dunia menyusul kesepakatan damai AS dan Iran. Perjanjian damai tersebut rencananya akan dilakukan pada pekan depan.” Ia menutup dengan, “Ya, kemungkinan besar ini akan terus reli, ya kemungkinan besar akan menuju di level Rp 17.500.”
Secara keseluruhan, penguatan IHSG dan rupiah pada Senin, 15 Juni 2026, dipengaruhi oleh faktor global, khususnya perjanjian damai AS‑Iran, serta kebijakan domestik Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga. Penurunan harga minyak dunia mengurangi tekanan inflasi, sementara kenaikan suku bunga menambah daya tarik aset dalam negeri. Kombinasi faktor eksternal dan fundamental domestik menciptakan ruang likuiditas besar bagi pasar modal dan mata uang, meskipun risiko profit taking tetap ada jika sentimen negatif muncul.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
10 Ribu Kontainer Tumpuk di Tanjung Priok, DJBC Siapkan Sanksi
Gencatan AS‑Iran Kurangi Subsidi Energi, APBN Lebih Luas
Purbaya Pindah ke China Tahun 2026 untuk Diskusi Panda Bond
BGN Larang Pegawai Terafiliasi SPPG/MBG demi Kebijakan Bersih
Komisi XI DPR Setujui Pagu Kemenkeu 2027 Rp49,80 triliun Tahun
BGN Maksimalkan 21.801 Motor Listrik dan Perlengkapan IT
Berita Terbaru
Pasar Modal Jakarta Naik 4,12% Setelah Perjanjian Damai
Felix Nmecha, Gol 7-1, dan Celebrasi Penuh Iman di Piala Dunia
Foto AI Menampilkan Mia Khalifa & Lana Rhoades di SoFi Palsu
Minyak Dunia Turun, Selat Hormuz Dibuka Pas Perjanjian AS‑Iran
Alva Elan Serukan Disiplin di Apel Pagi Setda OKU
Tahun Baru Islam 1448 H: Selamat Peringatan dengan Twibbon
BGN Larang Pegawai Dapur MBG untuk Hindari Konflik Kepentingan