Pasar Padurenan Baru Bekasi: Sempit, Kosong, Badai Sampah
Gambar atau konten salah?
Pasar Padurenan Baru di Bekasi masih terletak di Jalan Raya Bantar Gebang-Setu, namun sejak 15 Juni 2026 menjadi tempat yang hampir tidak pernah dikunjungi. Lokasi pasar ini berada tepat di depan SD Padurenan I, dengan permukiman warga menempel di bagian belakangnya.
Setelah lama menjadi pusat perdagangan bagi penduduk sekitar, pasar ini kini tampak sepi. Pengunjung yang melintas sangat sedikit, dan kebanyakan kios masih tertutup atau kosong. Di antara yang tersisa, pedagang makanan menjadi yang paling sedikit, dan jumlah pembeli pun sangat minim.
Struktur pasar terbagi menjadi beberapa bangunan yang memanjang ke samping. Di dalamnya, masih ada beberapa pedagang sayur yang berusaha menjajakan produk. Lapak-lapak mereka cukup besar, memajang berbagai sayur-sayuran, bumbu dapur, dan kebutuhan pokok. Namun, hanya sedikit lapak yang masih beroperasi. Banyak kios lain sudah lama ditutup dan tidak lagi digunakan.
Beberapa kios di bagian depan pasar tertutup rapat dengan pintu rolling berwarna hijau tua. Lorong-lorong antar kios terlihat kumuh, minim penerangan, dan hampir tidak ada lapak yang buka. Kondisi ini lebih baik dibandingkan dengan bangunan pasar di sisi lain, yang sudah tidak menyerupai pasar lagi. Bangunan tersebut lebih menyerupai area pertokoan mati, berubah menjadi tempat pembuangan sampah.
Bangunan pasar di sisi tersebut hampir tidak memiliki atap, dan banyak kiosnya roboh atau rusak sebagian. Di beberapa titik, deretan kios tidak memiliki pintu, hanya tersisa tembok dan rangka bangunan. Di sekitar area ini, sampah berserakan, sebagian dibungkus plastik. Tidak diketahui isi di dalamnya, namun bau menyengat tercium, membuat siapa pun yang berkeliling merasa tidak nyaman.
Semakin ke sisi samping pasar, semakin banyak kios kosong yang tampak roboh sebagian. Tumpukan sampah semakin banyak, dibarengi bau busuk dari bekas lapak pedagang. Bahkan ketika pengamat berada di luar pasar, hembusan angin masih membawa aroma tak sedap dari tumpukan sampah itu.
Di bagian belakang pasar, terdapat pintu yang menjadi akses penghubung antara pasar dan permukiman warga. Meskipun begitu, hingga siang hari tidak banyak warga yang melintas atau memasuki area pasar. Sebagian memilih berbelanja di warung yang berada di sekitar lokasi. Menyusuri sisi belakang pasar, banyak lubang berukuran sedang hingga besar pada tembok pembatas. Diduga, melalui lubang-lubang itu banyak warga membuang sampah rumah tangga mereka. Hal ini terlihat dari banyaknya tumpukan sampah di sekitar lubang, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan area lain yang tidak memiliki lubang pada tembok pembatas.
Pasar Padurenan Baru kini lebih merupakan tempat pembuangan sampah daripada pusat perdagangan. Kondisi sepi, kios yang hancur, dan bau tak sedap menunjukkan bahwa pasar ini sudah melewati masa kejayaannya. Masyarakat di sekitarnya tampaknya sudah beralih ke alternatif belanja lain, meninggalkan pasar ini sebagai kenangan masa lalu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sekolah Rakyat Jabar II Bekasi Siap 2026/27, DPR Konfirmasi
KAI Tambah Frekuensi LRT Jabodebek Pagi 15 Juni Paling Padat
Menteri Keuangan Koordinasi BGN, MBG Disusun Ulang 1 Bulan
Menteri Investasi Tambahan Anggaran Rp 578,93 Miliar 2027
Prabowo Dorong Transparansi Investor Global Menambah Keyakinan
IHSG Naik 3,5% Karena Himbara, Bank Mandiri 5% Tumbuh
Berita Terbaru
Pasar Padurenan Baru Bekasi: Sempit, Kosong, Badai Sampah
55 Ucapan Tahun Baru Islam 2026 yang Menyentuh Hati
Telur: Manfaat, Risiko, dan Batas Konsumsi Sehari
Doa Akhir Tahun 1447 Hijriah: Penutup dan Awal Baru
Belanda-Jepang Imbang 2-2 di Stadion Dallas, 15 Juni 2026
Kunjungan Asing Korea Mencapai Rekor, China Dominasi Pasar
Alwi Farhan Menang Australia Open 2026, BNI Dukungan Kuat
Banjir 2025: 58 Orangutan Tapanuli Tewas, Populasi 11%