Pelindo Petikemas Kontribusi Rp1,73 Triliun 2025
Gambar atau konten salah?
PT Pelindo Terminal Petikemas melaporkan kontribusi kepada negara sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2025. Setoran ini menunjukkan betapa pentingnya peran perusahaan dalam mendukung fiskal nasional.
Kontribusi tersebut terbagi menjadi tiga bagian: Rp 1,45 triliun dari pajak, Rp 55,59 miliar penerimaan negara bukan pajak (PNBP), dan Rp 224,5 miliar pembayaran konsesi. Dari total pajak, PPN menjadi yang terbesar dengan Rp 485,45 miliar.
Selanjutnya, PPh Pasal 25/29 memberikan Rp 360,13 miliar dan PPh Pasal 21 menambah Rp 267,35 miliar. Semua angka ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap kewajiban fiskal.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyatakan bahwa setoran Rp 1,73 triliun merupakan bukti kepatuhan perusahaan terhadap regulasi pemerintah. “Kontribusi perusahaan kepada negara merupakan wujud kepatuhan terhadap regulasi dan kewajiban yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Widyaswendra menambahkan, “Dukungan tersebut menjadi wujud nyata komitmen perusahaan sebagai bagian dari Pelindo Group dalam mendukung pembangunan nasional melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).” Pernyataan ini diungkapkan dalam keterangan tertulis pada Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Widyaswendra, peningkatan aktivitas logistik dan perdagangan membuat sektor kepelabuhanan diproyeksikan tetap menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Efisiensi layanan terminal petikemas diharapkan menekan biaya logistik nasional, mempercepat distribusi barang, memperkuat daya saing ekspor, dan meningkatkan penerimaan negara secara berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan nasional tumbuh 8,98 % secara tahunan pada Triwulan IV tahun 2025. Angka ini menegaskan bahwa sektor logistik menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Anton Agus Setyawan, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS), menilai bahwa potensi logistik Indonesia akan terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan antarpulau maupun antarnegara. “Memang sebenarnya sejak awal tahun 2000‑an bisnis logistik ini mulai tumbuh di Indonesia. Ini seiring dengan maraknya mekanisme industri yang melakukan perdagangan antarpulau maupun antarnegara,” jelas Anton.
Anton menekankan pentingnya sistem distribusi yang kuat bagi negara kepulauan. “Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem distribusi yang kuat agar rantai pasok berjalan efisien,” katanya. Ia juga menilai pembangunan infrastruktur, terutama jalan tol, telah membantu sektor logistik. Namun, pengembangan pelabuhan dan tol laut masih perlu dioptimalkan.
Anton menyoroti bahwa optimalisasi pelabuhan akan langsung memengaruhi efisiensi distribusi barang, khususnya di kawasan Indonesia Timur. “Bagaimana logistik supply chain di Papua itu bisa lebih baik sehingga perbedaan harga beberapa produk komoditas bisa dikurangi dan harganya menjadi lebih murah,” ujar Anton.
Raja Oloan Saut Gurning, pakar maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah alat bongkar muat merupakan respons atas kenaikan kunjungan kapal dan volume kontainer. “Secara mendasar, kenaikan kedatangan kapal yang membawa kargo dalam kemasan kontainer menandakan adanya kenaikan ekonomi. Turunannya adalah perdagangan atau interaksi ekonomi lewat laut,” kata Raja.
Raja menambahkan bahwa efisiensi terminal petikemas tidak hanya ditentukan oleh jumlah alat, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti dermaga, lapangan penumpukan, gudang kontainer, dan gate keluar masuk terminal. “Salah satu indikator utama efisiensi terminal adalah kemampuan menekan waktu kunjungan kapal atau turn around time agar tetap sesuai slot pelayanan yang tersedia,” ujarnya.
Di Terminal Kijing, lonjakan aktivitas logistik sepanjang 2025 tercermin dari peningkatan kunjungan kapal hingga 15 % atau mencapai 741 panggilan kapal. “Terminal Kijing mengalami lonjakan kunjungan kapal dengan volume kargo nonpetikemas yang cukup besar, baik curah kering maupun curah cair dari industri hilirisasi kelapa sawit dan alumina,” ujar Raja.
Raja juga menyoroti peran Terminal Banjarmasin sebagai urat nadi logistik utama di Kalimantan. “Arus barang domestik di koridor ini menunjukkan resiliensi yang kuat, terutama dipicu konsumsi domestik dan kebutuhan industri hinterland pendukung pertambangan,” kata Raja.
Di Kendari, kebutuhan penguatan kapasitas terminal meningkat sejak operasional dipindahkan ke Bungkutoko atau Kendari New Port. Sejak pindah, kapasitas terminal melonjak signifikan hingga mencapai kisaran 116 000 TEU.
Tory Damantoro, pengamat transportasi dan anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menilai kontribusi PT Pelindo Terminal Petikemas menunjukkan posisi strategis sebagai “jangkar fiskal” yang mendukung pembangunan nasional. “Sebagai operator pelabuhan komersial nasional, Pelindo punya peran sejati sebagai enabler ekonomi makro agar target penurunan biaya logistik menjadi 8 % terhadap PDB dapat tercapai,” ujar Tory.
Tory mendorong perusahaan melakukan efisiensi layanan pelabuhan agar dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional. “Ketika biaya logistik turun dan arus barang semakin lancar, volume perdagangan nasional akan meningkat dan memperluas basis pajak negara secara berkelanjutan,” tambahnya.
Menurut Tory, PT Pelindo Terminal Petikemas kini dihadapkan dengan tantangan membangun efisiensi logistik yang lebih luas melalui konektivitas antarpulau dan integrasi sistem distribusi nasional. “Pelindo harus mengambil peran lebih besar, bukan sekadar efisiensi operasi pelabuhan, tetapi juga efisiensi alokatif geografis agar konektivitas logistik antarpulau menjadi lebih seimbang dan murah,” kata Tory.
Tory menilai terminal petikemas memiliki peran vital dalam mendukung ekspor nasional. “Standardisasi terminal petikemas disebut menjadi kebutuhan utama industri masa depan Indonesia, mulai dari manufaktur, agribisnis olahan, hingga industri hilirisasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Pelindo perlu bertransformasi dari sekadar operator pelabuhan menjadi integrator rantai pasok nasional. “Efisiensi pelabuhan akan meningkatkan kepastian waktu distribusi barang serta menekan biaya logistik industri,” tambahnya.
Dengan mempercepat arus barang di pelabuhan, Indonesia dapat meningkatkan daya tarik investasi di tengah persaingan global. Efisiensi pelabuhan juga penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumsi, tetapi juga mampu masuk dalam rantai pasok global atau Global Value Chain (GVC).
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
