Pemerintah Dorong LCT, 24% Bahan Baku Impor, Atasi Rupiah

Dani L. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 62 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Dorong LCT, 24% Bahan Baku Impor, Atasi Rupiah

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar Rupiah yang terus melemah melawan Dolar Amerika Serikat menekan industri nasional, karena sebagian bahan baku masih diimpor. Pemerintah mulai dorong pelaku industri mengurangi ketergantungan pada transaksi Dolar AS.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan bahwa sekitar 24% struktur bahan baku industri nasional berasal dari impor. Kondisi ini membuat biaya produksi mudah naik ketika Rupiah tertekan.

Febri menekankan perlunya memperluas penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) agar transaksi impor bahan baku tidak lagi sepenuhnya memakai Dolar AS. Dengan demikian, tekanan pada industri akibat pelemahan Rupiah dapat berkurang.

“Struktur input industri, terutama struktur bahan baku, 24% itu impor. Nah, kita juga selain krisis di Selat Hormuz, juga saat ini mengalami perlemahan nilai tukar Rupiah. Dengan struktur bahan baku 24% dari impor itu, strategi ke depan kita akan coba menghimbau industri untuk tetap menggunakan fasilitas LCT, Bank Indonesia,” ujar Febri dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (26 Mei 2026).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Dolar AS terus menguat terhadap Rupiah. Dolar AS menguat 0,29% atau 52 poin mendekati level Rp 17.800 atau tepatnya berada di level Rp 17.796.

Dengan skema LCT, importir dapat membeli barang dari luar negeri tanpa menggunakan mata uang negeri Paman Sam. Transaksi dilakukan menggunakan mata uang lokal sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

“Jadi pembelian bahan baku oleh industri, oleh importir yang memasok bahan baku ke industri, itu tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal,” jelas Febri.

Selain itu, pelaku industri juga diminta mulai mengubah sumber bahan baku impor dari negara lain guna mengurangi risiko gangguan rantai pasok global. Langkah ini dianggap penting di tengah ketidakpastian global, termasuk tensi di kawasan Selat Hormuz.

Febri juga mendorong investor membangun fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri untuk menggantikan impor. Menurutnya, kondisi saat ini bisa menjadi momentum memperkuat industri substitusi impor di Indonesia.

“Atau juga pada investor kami sampaikan, ini lah saatnya bagi investor untuk membangun, berinvestasi di Indonesia untuk membangun fasilitas produksi yang memproduksi substitusi bahan baku impor,” tutup Febri.

Dengan memperluas LCT dan mempromosikan produksi dalam negeri, pemerintah berharap dapat menstabilkan biaya produksi dan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar pada industri.

Nilai tukar RupiahDolar ASLocal Currency Transaction (LCT)ketergantungan imporBank IndonesiaSelat Hormuzsubstitusi bahan baku

Komentar

Memuat komentar...