Pemprov DKI Jakarta Angkat Ikan Sapu‑Sapu, Penangkapan Besar

Bambang W. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 126 dibaca
Bisik.id
Pemprov DKI Jakarta Angkat Ikan Sapu‑Sapu, Penangkapan Besar

Gambar atau konten salah?

Pemprov DKI Jakarta menegaskan langkah drastis untuk menghilangkan ikan sapu‑sapu di wilayahnya. Ikan ini, yang masih populer di Amazon, telah menjadi masalah di Jakarta karena kondisi lingkungan yang berbeda.

Ikan sapu‑sapu terdiri dari beberapa spesies, seperti Hypostomus plecostomus yang dikenal di luar negeri sebagai ikan pleco dan di Amazon sebagai ikan Acari. Ada juga Psendorinelepis genibarbis, yang di Amazon disebut ikan Carachama.

Semua spesies ini berasal dari keluarga Loricariidae, yang memiliki sisik perisai dan mulut penghisap. Mereka adalah pemakan alga dan asli Amerika Selatan, terutama Brasil.

Di Amazon, ikan sapu‑sapu masih dikonsumsi oleh masyarakat tepi sungai. Laporan ilmiah menunjukkan bahwa mereka mengkonsumsi ikan sekitar 462 gram per orang per hari, dua puluh kali lebih banyak dibanding rata‑rata penduduk Brasil.

Menurut Phys.org pada Senin (20 April 2026), enam ikan terlibat dalam rantai makanan di Sungai Amazon yang juga dimakan manusia. Pertama, Acari sebagai bottom feeder, kemudian dimakan Aracu, yang omnivora.

Selanjutnya, Aracu dimakan Piranha, yang kemudian dimakan oleh Piracuru. Piracuru menjadi mangsa Caparari, dan Caparari terakhir dimakan oleh Tucunare, dikenal sebagai Aripama gigas, ikan raksasa Amazon.

Enam spesies ini, termasuk ikan sapu‑sapu, dikonsumsi di daerah Para di Brasil, mencakup kawasan Faro, Juruti, Santarém, Porto Trombetas, dan Itaituba.

Ekosistem di Amazon masih relatif bersih, kaya vegetasi, dan didukung oleh pembusukan organik alami. Slow Food Foundation for Biodiversity menegaskan bahwa ikan sapu‑sapu Carachama hidup di lingkungan ini tanpa pencemaran kimia.

Di Peru, ikan sapu‑sapu dimasak menjadi sup ikan Chilcano de Pescado, sementara di Peru juga ada sop ikan sapu‑sapu Timbuche. Ikan ini juga dibakar dalam bungkus daun, dibumbui seperti pepes, dan dinamakan Patarascha.

Namun, ilmuwan mulai memperingatkan. Jurnal ACS Omega Volume 11 Issue 7 Tahun 2026 mencatat bahwa pencemaran di Amazon menyebabkan ikan sapu‑sapu menyimpan bahan berbahaya. Logam berat seperti mercuri, cadmium, arsenik, dan timbal terakumulasi di tubuhnya.

Jika ikan sapu‑sapu hidup di sungai yang kotor, mereka akan membawa zat berbahaya, menjadikan mereka tidak aman untuk dikonsumsi. Di Amazon, pencemaran sungai menimbulkan risiko serius bagi keberlangsungan ikan sapu‑sapu sebagai sumber makanan.

Di Jakarta, sungai juga kotor dan berpotensi tercemar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, menjelaskan bahwa kadar logam pada ikan sapu‑sapu berlebihan.

“Untuk dimanfaatkan belum bisa, sebelum ada kajian resmi yang menyatakan bahwa ikan tersebut aman untuk dikonsumsi atau dijadikan pakan ternak. Karena residu logam berat di atas ambang batas,” ujar Hasudungan, Sabtu (18 April 2026).

Sebelumnya, sekitar 6,98 ton ikan sapu‑sapu ditangkap di berbagai lokasi di Jakarta pada Jumat (17 April 2026) karena dinilai invasif. Setelah operasi penangkapan serentak, sekitar 68.880 ekor ikan sapu‑sapu dibelah dan dikubur di titik‑titik dekat pintu air.

Pemusnahan ini menjadi bagian dari upaya mengendalikan populasi ikan sapu‑sapu yang dapat merusak ekosistem lokal dan menimbulkan risiko kesehatan bagi penduduk. Meskipun masih ada ketidakpastian mengenai keamanan konsumsi, langkah ini menandai komitmen pemerintah untuk melindungi lingkungan dan kesehatan publik.

Ikan sapu‑sapuDKI JakartaAmazonLogam beratPencemaran airInvasifEkosistem

Komentar

Memuat komentar...